Supartono JW
Supartono JW

Perbuatan baik selalu datang dari hati yang bersih dan pikiran yang cerdas.

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

U-19 Ceroboh dan Tidak Cerdas!

12 September 2017   02:18 Diperbarui: 12 September 2017   03:25 1405 2 2

Ceroboh, sembrono. Lebih tepatnya tidak cerdas! Tidak dapat mengendalikan emosi! Itulah deskripsi laga di Stadion Thuwanna, sore tadi, Senin (11/09/2017). Secara matematis, sebelum pertandingan antara Garuda Nusantara versus Vietnam, sudah jelas secara hitungan, bila hanya sekadar ingin lolos masuk semifinal, meski kemungkinannya adalah menjadi runer-up, maka Egy dan kawan-kawan cukup bermain aman mengimbangi Vietnam, lalu minimal menang 1-0 saja melawan Brunei, maka akan mendapat point maksimal 10, alias tidak dapat dikejar Myanmar, meski Myanmar mengandaskan Vietnam.

Namun entah apa yang ada dalam pikiran manajerial dan tim pelatih juga pemain U-19 Garuda, hingga memaksakan ngotot mencari kemenangan dengan sejak awal menggempur Vietnam. Jelas, Vietnam bukan Filipina, bukan Myanmar!

Tidak belajar dari gagal timnas adik-kakaknya

Bandingkan apa yang dilakukan penggawa Garuda U-22 di SEA Games lalu. Milla dan manajerial telah berhitung. Untuk lolos ke semifinal SEA Games, karena dalam grup juga bercokol tim sangat kuat Thailand dan Vietnam, maka cara terbaik menghadapi mereka adalah dengan memperkuat barisan pertahanan sekuat tenaga, penuh konsentrasi, dari detik awal hingga akhir pertandingan.

Faktanya, meski Milla cukup menderita di laga-laga genting karena tidak dapat memasang komposisi terbaik akibat para pemain tidak cerdas dan lemah mental. Pada akhirnya, strateginya tetap berhasil dengan memaksimalkan pemain yang ada, pemain yang telah dipilihnya dan dibawa serta ke Malaysia. Ujungnya, partai semifinal dalam genggaman, karena Thailand dan Vietnam saling bunuh di laga akhir fase grup, yang akhirnya dimenangkan oleh Thailand. Vietnam yang sangat dikdaya sejak awal babak penyisihan, akhirnya harus gigit jari karena kalah poin dari U-22 Indonesia.

Namun, Evan Dimas harus bertekuk lutut kepada Malaysai, karena penggawa Garuda tampil tidak diperkuat pemain dengan komposisi terbaik, minus Hansamu, Hargianto, dan Manewar. Andai saja tiga pemain tersebut tidak membuat ulah dengan kesalahnnya sendiri karena tidak dapat mengendalikan emosi, tidak cerdas, maka efeknya kepada keseluruhan hasil tim di SEA Games. Padahal, tim ini cukup solid dan secara fakta bila tampil dengan komposisi terbaik, sangat mungkin penggawa Garuda meraih medali emas. Nasi sudah menjadi bubur, dan hanya perunggu yang dipersembahkan, setelah tim ini melalui proses sekitar 7 bulan. Menguras tenaga, waktu, dan biaya!

Bagaimana juga cara gagal timnas adiknya U-15 di Piala AFF? Juga persoalan mental menjadi kunci masalah. Meski secara teknik dan fisik, timnas asuhan Fakhri juga tidak jelek.

Kembali menyoal nasib Garuda Nusantara, saya sudah memprediksi, bila ingin menyingkirkan Vietnam, maka timnas U-19 wajib cerdas dan mampu mengendalikan emosi. Lihat dulu bagaimana cara Vietnam bermain dari menit-menit awal dan seterusnya. Di sini pelatih di luar lapangan harus cerdas membaca arah permainan lawan.

Ternyata, karena emosi di dada menggebu, yakin dan sangat percaya diri dapat membekap Vietnam, Egy dan kawan-kawan langsung buru-buru menggempur pertahanan Vietnam sejak menit pertama. Bahkan hingga pertandingan berakhir, timnas menang pengusaan bola.

Saat pemain nusantara akhirnya terus menggempur Vietnam, pelatih di luar lapangan dan pemain di dalam lapangan, seperti tidak menyadari bahwa, taktik Vietnam adalah bertahan, menempatkan pemain hampir seluruh pemain saat pemain Indonesia masuk ke area Vietnam. Bahkan, bek kanan dan bek kiri Vietnam serta bek tengahnya sangat disiplin mengawal daerahnya, tanpa meninggalkan sarang.

Apa yang dilakukan oleh Vietnam, itu sama persis diperagakan Myanmar saat menghadapi Indonesia di laga awal. Myanmar memperkokoh barisan pertahanan dan melakukan serangan balik. Hasilnya, pemain timnas U-19 kesulitan dan buntu menembus gawang Myanmar, juga gawang Vietnam. Namun betapa mudahnya Myanmar dan Vietnam menceplokan bola ke gawang Indonesia dalam sebuah serangan balik. 

Mereka sangat memikirkan pertahanan yang sebenarnya, bukan pertahanan sebagai filosofi yang dianut Indra Sjafri, "menyerang adalah pertahanan terbaik", dan bermain cantik, tapi pertahanan yang sebenarnya dihuni bek tengah dan bek kanan-kiri di bantu gelandang bertahan justru keropos!

Memang Indonesia mempecundangi Myanmar saat itu dengan skor akhir 2-1, namun sangat jelas kemenangan tersebut seperti berbau keberuntungan, karena 2 gol tercipta hanya karena kepiawean Egy.

Namun, apakah Indra dan jajaran pelatih plus manajerial timnas U-19 tidak melakukan evaluasi? Garuda Nusantara sangat lemah di barisan belakang. Tidak memiliki pemain pemutus rantai sebelum lawan berhadapan dengan pemain bertahan. Tidak ada gelandang bertahan pengangkut air. Sementara dua bek sayap, justru sangat aktif membantu serangan dengan sangat rutin meninggalkan posnya, namun sangat sering cepat kembali menjaga daerahnya.

Hasilnya, saat Myanmar menciptakan gol, sungguh tidak pantas, sekelas timnas kebobolan dengan cara seperti itu. Ke mana saja selama ini timnas ini? Herannya, kesalahan kembali diulang bahkan saat melawan tim kuat Vietnam. Saat gol pertama tercipta, bahkan tiga pemain Vietnam dalam posisi bebas di depan gawang, dan sangat mudah menceploskan bola ke gawang. Lalu gol ke dua, juga sangat jelas, koordinasi antara pemain belakang dengan penjaga gawang, yang turun bahkan belum sempat melakukan pemanasan. Gol ketiga juga tercipta, seolah tim ini benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bertahan dari bola-bola mati!

Jelas tim U-19 tidak belajar dari kesalahan dan kegagalan timnas adik dan kakaknya, juga timnas senior yang buntu menciptakan gol ke gawang timnas Fiji karena bermain individualistis dan ego pribadi.

Kondisi U-19

Dengan stok pemain belakang dan gelandang bertahan seperti yang ada sekarang, lalu strategi pelatih juga tidak tepat, maka mustahil, tim ini akan mengulang sejarah tahun 2013. Bila tetap ingin mengulang, harus ada perubahan signifikan, khusus di sektor gelandang bertahan dan pemain belakang, bila Egy dan kawan-kawan lolos dari lubang jarum, masuk semifinal karena menang versus Brunei, dan Myanmar kalah dari Vietnam pada Rabu, (13/09/2107).

Sadari betul stok pemain U-19 di sektor belakang, gelandang bertahan, dan penjaga gawang yang tidak seimbang. Bila banyak yang menilai masuknya 3 gol ke gawang Indonesia dari Vietnam, karena penjaga gawang pengganti yang tidak mumpuni, secara fakta, benar adanya. Tapi mengapa bisa, timnas U-19 membawa penjaga gawang berbeda level tidak seperti pilihan penjaga gawang di U-22.

Kesalahan penjaga gawang yang salah tumpuan saat menendang, memang bisa terjadi pada pemain mana saja. Namun, seharunya hal itu dapat dihindari bila sebelum menendang konsentrasi penuh dan tidak melakukan dengan ceroboh. Keluarnya penjaga gawang utama menjadi awal petaka bagi penggawa Garuda Nusantara sebelum di lumat 3 gol tanpa balas oleh Vietnam. Ini juga harus sangat menjadi perhatian oleh tim pelatih dan manajerial, bila Indonesia lolos dari lubang jarum masuk semifinal.

Mengalir versus Brunei!

Jelas, untuk menyelamatkan diri agar lolos fase semifinal, adalah membantai Brunei dengan banyak gol. Namun, karena beban harus menang banyak gol, bisa-bisa ini akan kembali menjadi bumerang. Terpenting, main dengan rileks, mengalir, cerdas bermain, cerdas mental, cerdas teknik dan fisik, dan pakai strategi jitu.

Jangan mengulang kesalahan! Jangan jemawa! Bila akhirnya nasib pahit terjadi, tidak lolos semifinal, ya diterima. Memang kemampuan sepakbola Indonesia baru demikian. Meraih juara tidak instan!

 

Tapi saya masih sangat yakin, Egy dan kawan-kawan akan lolos dari lubang jarum lolos ke semifinal, lalu di semifinal benar-benar bermain dengan cerdas pun strategi jitu, maka mimpi mengulang sukses tahun 2013 menggengam tropi, terpenuhi! Amin.