Sugiyanto Hadi Prayitno
Sugiyanto Hadi Prayitno Pensiunan pns

Pensiunan PNS, penulis fiksi. Menulis untuk merawat ingatan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora headline

Tiga Tahun Merawat Ingatan di Kompasiana

17 Februari 2017   00:10 Diperbarui: 17 Februari 2017   20:57 328 25 19
Tiga Tahun Merawat Ingatan di Kompasiana
menulis dengan komputer (ramweb.org)

Tiga tahun sudah saya bertekun menulis di blog Kompasiana. Waktu yang pendek dibandingkan dengan orang lain mungkin. Tapi lumayanlah dibandingkan tidak sama sekali. Niatan saya menulis selain mengisi masa pensiun terlebih juga untuk merawat ingatan.

Yang saya maksudkan ingatan tak lain daya ingat dan upaya mengingat-ingat. Meski nyatanya tetap saja banyak yang lupa. Bersamaan dengan itu saya pun merawat ingatan supaya tetap waras. Sebab dengan tingginya intensitas tulisan pro dan kontra dalam banyak hal sekaligus, makin sarkas dan brutalnya gaya dan sikap orang dalam berkomunikasi, lalu dibumbui dengan banyaknya hoax, hujat-menghujat, informasi partisan, dan opini menghasut-melecehkan- dan pornografi; berpotensi besar membuat orang stress dan bahkan kehilangan kewarasannya.  Alhamdulillah ingatan saya masih dalam koridor sehat (setidaknya menurut saya sendiri).

Maka saya berterima kasih kepada Kompasiana yang membuat saya makin tekun merawat ingatan. Biarlah teman-teman lain bertarung opini mati-matian untuk sesuatu yang politis, agamis, dan hal-hal lain yang strategis. Saya beropini dalam bentuk fiksi saja. Itupun kalau ada yang membaca, dan itupun kalau yang membaca merasakan ada pesan-pesan tertentu yang sifatnya sangat pribadi mengenai suatu topik.

***

Kalau ditanya orang, apa manfaatnya menulis di Kompasiana., saya jawab: banyak. Namun merawat ingatan yang sudah saya sebutkan di atas, menjadi hal utama. Begitupun hal lain bukan tidak penting. Pertama, menjadi Kompasianer ternyata membangkitkan kembali minat dan selera saya dalam menulis, terutam menulis fiksi. Meski kalau dirumuskan dapat saja saya menggunakan bahasa kasar ‘menjerumuskan’ tapi sebenarnyalah maknanya sangat positif, yaitu membuat saya ‘terpaksa’ berpikir lebih lama dan lebih keras  untuk menulis.

Menulis memerlukan sedikit aktivitas fisik, namun perlu banyak kegiatan otak: berpikir, membandingkan, menyimpulkan, lalu menuangkannya dalam tulisan. Melihat, mendengar, membaca, merasakan, dan memahami banyak hal di sekeliling kita, dari media massa arus utama maupun online, serta juga dari bacaan lain. Sebelum kemudian menentukan satu judul  tulisan, meski ringan-ringan saja sekalipun. Dan saya menulis yang ringan-ringan saja itu. Tidak perlu berpikir terlalu rumit dan sulit. Tentu hanya begitulah kemampuan saja.

Hal kedua, membuat saya rutin dan bersemangat menulis. Kreativitas dan produktivitas menulis coba saya sejajarkan. Dalam tiga tahun saya menulis 370 tulisan, atau rata-rata 123 tulisan pertahun, atau dua hingga tiga tulisan seminggu. Itu cukup produktif dibandingkan dengan mereka yang menulis seminggu sekali, dan pasti jauh lebih produktif dibandingkan dengan mereka yang tidak menulis sama sekali karena asyik sebagai pembaca saja. Produktivitas itu menurut saya cukuplah. Saya bukan tidak iri pada sosok-sosok fenomenal yang mampu menulis satu artikel atau lebih dalam sehari, namun saya harus mawas diri.

Ketika masih sekolah hingga kuliah saya banyak menulis. Dengan mesin tik yang memunculkan bunyi yang khas itu terasa nyaman di telinga. Terlebih saat malam larut. Menulis disela tugas sekolah atau kampus, disela kesibukan lain, menjadi kesenangan. Namun ketika mulai bekerja dan ditempatkan di provinsi jauh utara sana, waktu itu 1980-an perkembangan media cetak dan elektronik masih minim. Saya seperti terpisah dari pergaulan media. Demikian pun waktu saya sebagai insan penyiaran setiap hari memang menulis untuk bahan siaran.

Sesekali saja kalau rindu menulis fiksi saya lakukan namun produktivitas dan kualitasnya tidak pernah berkembang baik. Sampai jelang pensiun saya tetap tidak intensif menulis fiksi. Baru setelah kenal dengan media online saya seperti tersadar untuk kembali menulis, terutama fiksi. Mengisi hari-hari pada masa pensiun dengan menulis menjadi kesenangan yang komplit, melengkapi aktivitas pergi-pulang jalan kaki ke masjid sehari lima kali, mengantar isteri dua-tiga hari sekali berbelanja untuk memasak, juga berolahraga berjalan kaki di Lapangan Tegallega atau di Lapangan Gasibu seminggu sekali.

***

Kembali ke soal menulis di Kompasiana, tiga hal yang menjadi ‘prestasi’ (kalau boleh dibilang begitu), yang pertama, mampu mengumpulkan puluhan puisi dalam sebuah buku dengan judul ’(Hanya Orang Gila) Yang Masih Menulis Puisi’. Itu puisi introspeksi dan mawas diri saja sebenarnya. Buku itu memang dibuat agak memaksakan diri yaitu untuk mengejar tenggat mengikuti lomba buku puisi yang diselenggarkan DKJ tahun 2016 lalu. Dan hasilnya mudah diduga, tidak mendapatkan apa-apa. Bahkan selembar surat elektronik ucapan terimakasih karena telah bersusah-payah mengikuti lomba pun tidak. Tapi tidak mengapalah. Pesertanya ‘kan sampai ratusan orang, jadi betapa repot Panitia kalau harus memperhatikan satu-per-satu peserta.

Isi dan cetakan buku itu memang masih banyak kekurangan, dan yang terutama sangat tidak bernilai jual. Namun saya sangat berterima kasih kepada Pak Thamrin Sonata dengan penerbit Peniti Media-nya. Pak TS sangat bermurah hati membantu mengedit – membuat layout – mencari penulis testimoni sampai terwujudnya buku sederhana itu. Masih puluhan judul cerpen dan puluhan judul puisi saya menunggu untuk dibukukan berikutnya, namun ada saja kendala untuk mewujudkannya.  

Terkait dengan penerbitan buku cerita pendek dan puisi, untuk yang keroyokan jumlahnya 8 judul kumpulan puisi dan cerita pendek, yaitu Pelangi Cinta Negeri – 70 Tahun Indonesiaku, Pelangi Perempuan Negeri, Aku Punya Impian (terbitan tahun 2015), serta  Mak Renta, Katakan Cinta, Rampaian Puisi Apresiasi Sastra RTC, dan Rampaian Flashfiction aparesiasi Sastra RTC(terbit tahun 2016).

Buku keroyokan yang hari ini saya terima judulnya ’Seabad Setelah Merdeka’. Buku yang berisi puisi dan cerita dari hasil lomba Rumpies The Club diterbitkan Lingkar Mata. Kebetulan dalam lomba itu tulisan saya berjudul ‘Pembalasan Seratus Tahun Kemudian’ mendapat peringkat pertama.

Yang kedua, pembuktian diri dengan mengikuti sebuah lomba menulis novel 50 ribu kata selama 100 hari pada pertengahtan 2016 lalu. Judul novel itu ‘Cinta yang Menua’, menulis tanpa konsep, tanpa teori, dan tanpa pengalaman menulis panjang sama sekali. Meski terasa terlunta-lunta akhirnya sampai juga di garis finish. Sayangnya sampai saat ini tulisan itu tidak ada khabar beritanya.  

Lepas dari bobot yang masih kedodoran, menulis dengan intensitas tinggi sseperti itu selain melelahkan ternyata juga memberi keasyikan luar biasa. Pagi-siang-sore bahkan hingga lewat tengah malam terkungkung pikiran mau nulis apa lagi, bagaimana sambungannya, sambil mengingat-ingat karakter demi karakter yang muncul tanpa perencanaan pula. Seperti penulis skenario sinetron kejar-tayang, mungkin begitulah suka-dukanya berkomitmen dengan diri sendiri untuk ‘menulis novel meski hanya satu seumur hidup’.

Yang ketiga, saya menuliskan kembali laporan berbagai peristiwa yang terjadi di New Caledonia. Bahan mentah dikirimkan ke saya. Seorang teman meminta bantuan saya, ia menjadi Konjen RI di Noumea. Sepanjang tahun 2016 lalu lebih dari 20 tulisan terkait dengan jejak orang Jawa di New Caledonia, termasuk kunjungan Hamengko Buwono X ke sana, terpajang di Kompasiana. Berbagai bahan itu rencananya akan dibukukan dengan sudut pandang Pak Konjen Widyarka Ryananta.  Mudah-mudahan awal April 2017 nanti sudah terwujud.

Hal lain di Kompasiana saya merasa biasa-biasa saja, menjadi orang kebanyakan, sebab status saya masih bertahan pada ‘centhang hijau’, jumlah HL pun tak seberapa , begitu juga dengan jumlah hits dan komentar, minim. Tidak ada yang saya kejar ketika menulis di Kompasiana, sekali waktu muncul juga perasaan bosan dan lelah. Dalam kondisi itu saya menulis artikel ‘Kompasianer, Angka atau Manusia’.   Meski kerja sambilan, agak iseng-iseng, dan sering merasa tidak penting benar hasilnya apa, tapi sebenarnyalah menulis bukan pekerjaan mudah dan murah. Kegiatan itu memerlukan ketahanan fisik dan mental, dan itu tidak cukup diganjar dengan sekadar HL atau apapun. Menurut saya, penulis perlu disapa – ‘diaruhke’ dan cara lain apapun untuk di-manusia-kan.

***

Terakhir, menulis bagi saya adalah mengedukasi, terutama kepada diri sendiri. Tentu saja juga mengedukasi dalam mengisi hari-hari pensiun maupun merawat ingatan. Bahasa populernya, menolak lupa.

Begitu saja tulisan untuk mengingat perjalanan tiga tahun menulis di Kompasiana. Lepas dari semuanya sekali lagi saya sangat berterima kasih telah terwadahi sebagai bagian dari penulis Kompasianer. Terima kasih juga untuk komunitas Fiksiana Community, Rumpies The Club,maupun Kutubuku. Mudah-mudahan ke depan Kompasiana makin sukses, terus bersinar, dan makin arif dalam menjaga nuansa keberagaman-kebhinnekaan maupun perbedaan pendapat. Itu saja, mudah-mudahan catatan kecil ini bermanfaat. Salam hangat!***
Bandung, 16 Februari 2017