GENERASI MUDA MEMBANGKITKAN TREN BARU PERTANIAN

10 Juni 2012 01:46:11 Dibaca :

Menarik membaca artikel dengan judul TREN BARU PERTANIAN yang dimuat Harian KOMPAS tanggal 8 Juni 2012.

Selama ini petanian tanaman pangan, khususnya padi, identik dengan kemiskinan karena kehidupan petaninya sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan. Tingkat teknologi yang rendah, kepemilikan lahan sempit, tidak ada modal, akses ke pasar terbatas, tingkat pendidikan petani yang rendah menjadi ciri utama petani di Indonesia. Pemerintahpun sepertinya tidak berdaya menghadapi masalah ini. Bantuan benih, subsidi pupuk, pelatihan kelompok tani dan serangkaian upaya yang telah dilakukan pemerintah tidak menunjukkan dampak positif yang sigmifikan.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian merangsang para peneliti di lingkungannya dan di universitas-universitas untuk membuat varietas unggul padi dengan target tinggi, namun upaya tersebut belum berdampak pada peningkatan produksi padi dan kesejahteraan petani. Hasil penelitian tidak mendapat dukungan, baik dari pemerintah maupun dari dunia usaha karena belum sinkronnya dengan kebutuhan dunia bisnis atau dunia swasta.

Pada saat anak-anak muda di pedesaan meninggalkan pertanian, berlomba-lomba ke kota untuk bekerja di sektor industri sebagai buruh pabrik atau sektor informal lainnya. Muncullah seorang Petani - Pengusaha yang membawa angin segar, membawa perubahan, membalikkan fakta yang dalam istilah Pendiri APPLE, Steve Jobs, adalah Distorsi Realitas Lapangan. Pada waktu semua orang mengatakan bahwa berusaha di  pertanian pangan tidak menguntungkan dan identik dengan kemiskinan, dia melihat adanya peluang. Tentu usahanya tidak lagi konvensional, pendekatan baru harus dilakukan, tidak ada yang tidak bisa, pasti bisa dengan tekad yang kuat.

Kegiatan pertanian adalah kegiatan yang berlangsung semenjak manusia ada, dimulai hanya dengan memungut yang sudah tersedia di alam, kemudian domestikasi tanaman dan pada saat sekarang menjadi suatu usaha agribisnis yang moderen. Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang tidak memerlukan makanan yang notabene dihasilkan dari sektor pertanian. Di Indonesia, kebutuhan beras per kapita per tahunnya adalah 140 kg, sehingga kebutuhan seluruh penduduk Indonesia adalah 33,6 juta ton beras atau setara dengan  56 juta ton padi (240 juta jiwa penduduk Indonesia). Jika produktivitas rata-rata padi 5 ton per hektar, maka luas panen padi yang harus disediakan adalah 11,12 juta hektar atau areal padi yang harus dipanen setiap hari adalah 37 ribu hektar. Angka-angka ini cukup spektakuler dan sangat menjajanjikan sebagai potensi agribisnis padi, terlebih stok beras di dunia juga sangat terbatas. Kegiatan bisnis di dunia yang tidak akan hilang adalah bisnis di bidang pertanian sbagai penyedia pangan, bisnis kesehatan dimana semua orang menginginkan hidup sehat dan bisnis pendidikan dimana semua orang ingin meningkatkan kesejahteraan yang antara lain diperoleh dengan meningkatkan pendidikan.

Menghadapi masalah kepemilikan lahan yang sempit, modal yang terbatas, akses pasar yang terbatas, tidak lagi cukup dengan pendekatan konvensional seperti selama ini, yaitu dengan pemberian bantuan benih (yang sering kali benihnya tidak tumbuh), dan subsidi pupuk (yang sering dinikmati oleh perusahaan perkebunan dan pabrik pupuk), tetapi harus dengan revolusi sistem agribisnis seperti yang dilakukan oleh Petani - Pengusaha Muda di Kabupaten Batang Jawa Tengah. Dia meminjam uang dari bank Rp 1 (satu) Milyar, dengan uang tersebut dia mendirikan pabrik penggilingan padi dan lantai jemur, Rp 500 juta, Rp 300 juta digunakan untuk menyewa lahan dan modal budidaya, serta Rp 200 juta untuk ongkos menebas padi dari petani. Keuntungan pengusahaan agribisnis padi ini dapat mencapai hampir Rp 1 (satu) milyar dalam satu tahun, suatu usaha yang sangat menjanjikan.

Dengan model usaha seperti itu, tidak hanya menguntungkan bagi dirinya sendiri, tetapi menguntungkan bagi masyarakat sekitar karena tersedia lapangan kerja, kepastian adanya pembeli dan menjadi alternatif pembeli bagi pengusaha yang sudah ada sehingga harga menjadi bersaing. Model inilah yang harus didorong oleh pemerintah. Pemerintah harus dapat menciptakan Petani-Pengusaha Padi yang tersebar di sentra-sentra produksi padi.

Perguruan Tinggi Peratanian sebagai lembaga pendidikan yang menyiiapkan sumberdaya manusia, harus juga berubah, pendekatan-pendekatan dalam materi pengajaran juga harus dirubah. Analisis suatu usaha yang membahas untung rugi agribisnis, hendaknya lebih menekankan pada sisi positif dari usaha tersebut. Kegiatan usaha pertanian yang berisiko karena alam, baik iklim maupun hama penyakit memang perlu diajarkan agar usaha dilakukan lebih hati-hati, tetapi segi keuntungannya harus lebih dieksplorasi untuk membangkitkan kewirausahaan mahasiswa.

Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat yang sudah lama tidak berjumpa, Pailub AB, seorang motivator. Dia menjelaskan kepada saya mengapa Indonesia kekurangan bahan pangan, baik beras, buah-buahan, sayuran daging dan lainnya. Dia mengatakan kepada saya karena target Indonesia hanya swasembaga beras. Kalau targetnya swasembada beras, maka realisasinya pasti di bawah target, sehingga akan selalu terjadi kekurangan. Harusnya, menurut sahabat saya tersebut,  Indonesia bermimpi dapat memberi pangan penduduk di Asia atau bahkan dunai, sehingga targetnya untuk  Indonesia  lebih tinggi, sehingga dalam realisasinya Indonesia pasti dapat menmberi pangan penduduknya. Mimpi sahabat saya tersebut harus memjadi mimpi semua stakeholder yang bergerak di bidang pertanian, terutama pemerintah cq Kementerian Pertanian, Perguruan Tinggi Pertanian dan masyarakat tani Indonesia.

Bogor, 10 Juni 2012.

Sudradjat Sudradjat

/sudradjat

Lahir di Bandung, mencintai pendidikan Kewirausahaan dan Pertanian Terpadu.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?