HIGHLIGHT

Makalah Kompetensi Dasar I (PPD)

25 Oktober 2010 07:56:00 Dibaca :


MAKALAH


KOMPETENSI DASAR 1


MEMAHAMI HAKEKAT PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


Dosen Pembimbing : Dr.H.Y.Padmono,M.Pd.


Mata Kuliah/Semester : Perkembangan & Belajar Peserta Didik/ 1





Disusun Oleh :


ATANDIRA SUAININGRUM


NIM: K7110513


Kelas: 1 A



FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA


KAMPUS VI KEBUMEN


PROGRAM S1 PGSD


Tahun 2010











BAB I


PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah


Yang melatar belakangi dari penulisan makalah pembahasan hakikat perkembangan anak didik,konsep dan implikasi perkembangan biologis dan perseptual anak karena tugas yang diberikan oleh Dr.H.Y.Padmono,M.Pd., dosen mata kuliah Perkembangan dan Belajar Peserta Didik, program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Disamping itu penulis juga ingin melatih diri bagaimana menyusun sebuah karya tulis yang baik yang pada akhirnya semoga dapat menyusun karya tulis ilmiah yang baik benar dan berterima secara sistematika penulisan, isi dan memenuhi syarat keilmiahannya.


B. Identifikasi Masalah


Dari latar belakang masalah, berbagai permasalahan yang muncul teridentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :


1. Bagaimana perbedaan anatara perkembangan dan pertumbuhan?


2. Apakah buktinya anak sebagai suatu totalitas?


3. Bagamana perkembangan dapat dikatakan sebagai proses holistik?


4. Apakah pening kematangan dan pengalaman dalam perkembangan anak?


5. Apakah perbedaan antara perkembangan biologis dengan perseptual anak?


6. Apakah perbedaan antara faktor hereditas dengan faktor lingkungan dalam perkembangan anak?


7. Bagaimanakah penerapan faktor perkembangan dalam pembelajaran?




C.Pembatasan Masalah


Dari maslah-masalah yang teridentifikasi penulis membatasi makalah ini pada masalah perkembangan anak dilihat dari aspek perkembangan biologis dan perseptual anak.



D.Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah apakah mahasiswa dapat menguraikan konsep-konsep perkembangan anak?



E.Tujuan Penulisan Makalah


1. Tujuan Umum


Secara umum makalah ini untuk menguraikan konsep-konsep perkembangan peserta didik.


2. Tujuan Khusus


Secara khusus pembahasan ini untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa terhadap konsep-konsep perkembangan peserta didik dan memenuhi tugas untuk mata kuliah Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.













BAB II


PEMBAHASAN



A. Perkembangan dan Pertumbuhan


Banyak orang menyatakan bahwa perkembangan dan pertumbuhan itu sama. Tetapi pada dasarnya keduanya berbeda. Meski memiliki hungan yang saling terkait, keduanya dapat dipisahkan, tetapi tidak dapat berdiri sendiri.Objek psikologi adalah perkembangan manusia sebagai pribadi. Pengertian perkembangan menunjukkan pada suatu proses kea rah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak di utar kembali. Dalam perkembangan tidaklah terbatas pada pengertian pertumbuhan yang semakin membesar, melainkan di dalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus-menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jeasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pemasakan dan belajar.Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti, melalui suatu bentuk/tahap kebentuk/tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian. Dalam perkembangan mengacu pada fisik maupun psikis,bersifat evolusi dan involusi, dan terjadi sepanjang hayat.


Pertumbuhan dalam konteks perkembangan merujuk pada perubahan-perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu peningkatan dalam ukuran dan struktur, seperti pertumbuhan badan, pertumbuhan kaki, kepala, jantung, paru-paru, dan sebagainya. Pertumbuhan fisik bersifat meningkat, menetap, dan kemudian mengalami kemunduran sejalan dengan bertambahnya usia. Dalam pertumbuhan hanya mengacu pada fisik atau tubuh, hanya terbatas pada sifat evolusi dan hanya pada batas waktu tertentu.


Dengan demikian, perkembangan lebih menunjuk pada kemajuan mental dan perkembangan rohani, sedangkan pertumbuhan lebih cenderung menunjuk pada kemajuan fisik atau pertumbuhan tubuh yang melaju sampai pada suatu titik optimum dan kemudian menurun menuju pada keruntuhannya.



B. Anak sebagai Totalitas


Sebagai objek study psikologi perkembangan, anak dipandang sebagai totalitas. Dimana anak adalah makhluk hidup (organism) yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yang terdapat dalam dirinya. Dalam kehidupan dan perkembangan anak, keseluruhan aspek tersebut saling terjalin satu sama lain. Anak berbeda dari orang dewasa bukan sekedar secara fisik, tetapi secara keseluruhan. Anak dipandang sebagai makhluk individu yang berarti tidak dapat dipisahkan antara suatu bagian dengan bagian yang lainnya.


Proses biologis, proses kognitif, dan proses psikososial. Proses merupakan proses yang timbul dari anak itu sendiri, dan bersiifat biologis. Proses kognitif mempengaruhi pola piker anak itu sendiri, dan proses psikososial berhubungan dengan mental anak tersebut. Dalam perkembangan anak, ketiga proses itu saling berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh ada seorang anak yang mengalami gangguan pada pertumbuhan kakinya, maka anak tersebut terkendala dalam kemampuan dalam berjalan. Karena anak tersebut tidak normal, maka anak tersebut dalam bergaul tidak mempunyai rasa percaya diri. Aspek dalam diri anak tersebut secara terintegrasi saling terjalin dan saling memberikan dukungan fungsional. Misalnya, anak yang sedang sedih akan merenung, anak yang sedang malu bisa kemerah-merahan pipinya. Contoh ini menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara aktivita psikis anak dengan aktivitas fisiknya. Karena pada hakekatnya perkembangan mengikutsertakan keseluruhan aspek-aspek dalam anak itu sendiri.



C. Perkembangan sebagai Proses Holistik


Perkembangan sebagai proses holistik artinya bahwa perkembangan merupakan proses yang sifatnya menyeluruh yaitu perkembangan itu tidak hanya dalam satu aspek melainkan melibatkan keseluruhan aspek baik secara fisik maupun psikis yang saling terjalin satu sama lain. Konsep anak sebagai totalitas juga merupakan suatu proses yang sifatnya menyeluruh(holistik).Proses perkembangan individu dapat dikelompokkan ke dalam tiga domain diantaranya ialah proses biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock dan Yussen,1992;Seifert & huffnung,1991). Untuk dapat membedakan antara ketiganya yaitu:


1. Proses Biologis


Proses biologis atau perkembangan fisik ialah perubahan-perubahan dalam tubuh individu seperti pertumbuhan otot,system syaraf,struktur tulang, organ-organ indrawi dan sejenisnya. Sebagai contoh ialah bayi yang semula lahir dengan tinggi 45cm dan berat 3 kg dengan seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya usia menjadi 18 tahun tinggi dan beratnya menjadi 170cm dan 50kg.


2. Proses Kognitif


Proses kognitif menekankan pada perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola pikir, cara individu memperoleh pengetahuan. Sebagai contoh ialah anak pada usia SD belum bisa berenang, namun setelah SMA ia menjadi pandai berenang karena sudah mendapatkan pelajaran Olahraga yaitu kususnya berenang dari SMP samapai SMA.


3. Proses Psikososial


Proses psikososial ialah perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi, dan kepribadian individu serta cara berhubungan dengan orang lain seperti dengan keluarga, teman sebaya, dan masyarakat. Sebagai contoh diantaranya mengikuti organisasi di masyarakat, perilaku agresif anak terhadap teman sepermainan, rasa percaya diri anak tampil di depan umum, sikap sopan santun dan disiplin.



D. Kematangan dan Pengalaman


Pertumbuhan fisik memang mempengaruhi perkembangan psikis, misalnya bertambahnya fungsi otak memungkinkan anak dapat tertawa, belajar berjalan, berbicara, dan sebagainya. Kemampuan untuk melakukan sesuatu yang lebih tinggi karena pertumbuhan disebut dengan kematangan (maturation)yaitu urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan oleh rancangan genetiknya (Santrock & Yussen,1992:20). Dalam batasan ini kematangan dipandang sebagai suatu pembawaan (nature), yakni sebagai warisan biologis organism yang dibawa sejak lahir.Dalam arti yang lebih mudah kematangan adalah waktu yang tepat untuk belajar, misalnya anak yang berusia diatas 1 tahun sudah mengalami kematangan dalam belajar berjalan. Anak yang belum mengalami kematangan dalam suatu hal akan kesulitan dalam mempelajari hal tersebut.


Di sisi lain pengalaman(experience) merupakan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan lingkungan. Pengalaman dipandang sebagai unsur lingkungan (nature) yakni sebagai pengalaman-pengalaman environmental yang diperoleh individu dalam kehidupannya. Pengalaman merupak hal yang penting dalam perkembangan anak. Menentukan kontribusi kematangan (pembawaan) dan pengalaman (lingkungan) terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu secara pasti akan sangat sulit dilakukan. Kualitas aspek pertumbuhan dan perkembangan yang semua bisa dihasilkan dari pengaruh unsur genetik dan keadaan lingkungan yang berbeda.



E. Kontinuitas dan Diskontinuitas


Kesinambungan (continuity) dalam perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan itu merupakan perubahan kumulatif yang berlangsung secara bertahap dari masa konsepsi hingga meninggal dunia. Misalnya anak mulai dapat mengucapkan suatu suku kata, kemudian satu kata, dua kata, tiga kata, empat kata,dan seterusnya hingga beribu-ribu kata. Sedangkan ketidaksinambungan (discontinuity) dalam perkembangan menganggap bahwa proses perkembangan individu melibatkan tahapan yang terjadi secara tiba-tiba. Sebagai contoh, deskripsi tahap-tahap perkembangan berfikir anak dari piaget-sensorimotor,praoperasional,konkrit operasional, dan formal operasional dalam proses perkembangan berfikir anak.


F. Perkembangan Biologis dan Perseptual Anak


Perkembangan biologis merupakan perkembangan pada anak yang erat kaitannya dengan faktor hereditas yaitu faktor dari dalam yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Sifat dominan inilah yang nantinya akan muncul dan terlihat dalam diri keturunnya. Perkembangan biologis mengikutsertakan aspek dalam diri anak itu sendiri seperti homon dan materi-materi lain yang mendorong adanya perkembangan pada anak, terutama pada fisiknya. Sehingga perkembangan biologis sangat erat kaitannya dengan terjadinya proses evolusi manusia.


Sedangkan perkembangan perseptual yaitu proses pengenalan individu terhadap lingkungannya, atau kemampuan intelek untuk mencarikan makna dari data yang diterima oleh berbagai indra. Semua informasi tentang lingkungannya itu yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensorik ke bagian otak.Perkembangan perseptual dipengaruhi oleh faktor lingkungan yaitu faktor dari luar dimana anak berkembang, seperti lingkungan social masyarakatnya dan segala komunikasinya.


G. Faktor Heriditas dan Lingkungan dalam Perkembangan Anak


Manusia adalah makhluk yang paling sempurna jika disbanding makhluk-makhluk lainnya. Manusia memiliki potensi yang sangat besar. Dengan petensi yang dimilikinya, manusia dapat berkembang dan mengalami banyak perubahan dalam hidupnya baik secara fisik maupun psikis. Dua faktor utama yang mempengaruhi intelektual individu di antaranya :


1. Faktor Hereditas


Setiap individu yang lahir ke dunia dengan suatu hereditas tertentu yang berbeda-beda. Hereditas pada individu merupakan bawaan sejak lahir “specific genen”. Bawaan atau warisan atau hereditas tersebut berasal dari kedua orang tuanya (Genes) dan tidak dapat direkayasa. Bawaan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Ia lahir membawa berbagai ragam warisan yang berasl dari kedua ibu-bapak atau kakek-nenek. Warisan atau turunan tersebut yang terpenting, antara lain: bentuk tubuh, warna kulit, intelegensi, bakat, sifat-sifat, dan penyakit.


2. Faktor Lingkungan


Lingkungan sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Lingkungan dalam pengertian umum berarti situasi di sekitar kita. Dalam lapangan pendidikan, artinya mempengaruhi manusia, dan sebaliknya, manusia juga mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Menurut Santrock (1996), para ahli genetika perilaku menyebutkan tiga cara hereditas dan lingkungan dalam berinteraksi, yaitu :


a) Passive genotype-environment interaction, yakni interaksi genotipe dan lingkungan secara pasif. Interaksi ini terjadi ketika orangtua yang memiliki hubungan genetis dengan anak, member lingkungan pengasuhan bagi anaknya.


b) Evocative genotype-environment interactions, yakni interaksi genotipe dan lingkungan secara evokatif. Interaksi ini terjadi karena genotipe seorang anak memperoleh tipe lingkungan fisik dan social tertentu.


c) Active genotype-environment interactions, yakni interaksi genotipe dan lingkungan secara aktif. Interaksi ini terjadi ketika anak-anak mencari atau menjelajahi lingkungan mereka pandang menarik dan menantang.



Ki Hajar dewantara, membedakan lingkungan pendidikan menjadi tiga, yang dikenal dengan sebutan “Tri Pusat Pendidikan”, yaitu :


a) Lingkungan Keluarga


Keluarga sangat berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak karena di lingkungan keluargalah anak pertama kali mendapatkan pendidikan dasar diantaranya yaitu keluargalah yang membentuk kepribadian anak dari budi pekerti,sopan santun dan sebagainya serta pendidikan dari orang tua berpengaruh pada perkembangan rohaniah anak dan kemajuan pendidikan anak. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berkecukupan, pada umumnya anak itu sehat dan cepat pertumbuhan fisiknya dibandingkan dengan anak dari keluarga yang tidak mampu. Demikian pula anak yang orang tuanya berpendidikan akan menghasilkan anak yang berkependidikan pula.


b) Lingkungan Sekolah


Sekolah adalah salah satu lembaga kependidikan yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak terutama untuk kecerdasanya. Anak yang tidak bersekolah akan tertinggal dalam berbagai hal. Sekolah sangat berperan dalam meningkatkan pola pikir anak, karena di sekolah mereka mendapatkan bermacam-macam ilmu pengetahuan. Tinggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya turut menentukan pola pikir serta kepribadian anak.


c) Lingkungan Masyarakat


Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di lingkungan desa tempat tinggal anak juga turut mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Anak-anak yang dibesarkan di kota berbeda dengan anak yang tinggal di desa. Anak kota pada umumnya lebih bersikap dinamis dan aktif bila dibandingkan dengan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban. Semua perbedaan sikap dan pola pikir di atas adalah akibat pengaruh dari lungkungan masyarakat yang berbeda antara kota dan desa.




H. Perkembangan Fisik dan Perseptual Anak Sekolah Dasar


1. Perkembangan Fisik


Dilihat dari segi pertumbuhan dan perkembangan fisik, pada usia sekolah dasar ini merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relative seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, kira-kira 2 tahun menjelang anak menjadi matang secara seksual pada saat pertumbuhan berkembang pesat.Pertumbuhan fisik anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak secara keseluruhan.


a) Keadaan Berat dan Tinggi Badan Anak Sekolah Dasar


Sampai dengan usia 6 tahun terlihat bahwa badan anak bagian atas berkembangan lebih lambah daripada bagian bawah. Anggota-anggota badan relative pendek, kepala dan perut relative masih besar. Selama masa akhir anak-anak, tinggi bertumbuh sekitar 5 sampai 6% dan berat bertambah sekitar 10% setiap tahun. Pada usia 6 tahun tinggi rata-rata anak adalah 46 inci dengan berat 22,5kg. Kemudian pada usia 12 tahun tinggi anak mencapai 60inci dan berat 40 hingga 42,5 kg. Jadi, pada masa ini peningkatan berat badan badan anak lebih banyak daripada panjang badannya.


Pertumbuhan fisik selama masa ini, di samping memberikan kemampuan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas baru, tetapi juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kesulitan-kesulitan secara fisik dan psikologis bagi mereka.


b) Masa Pubertas (10-14 tahun)


Pada akhir usia sekolah, anak segera memasuki masa yang disebut dengan “pubertas”,yakni masa awal terjadinya pematangan seksual. Dalam rangkaian proses perkembangan seseorang, masa puber tidak mempunyai tempat yang jelas. Sulit membedakan antara masa puber dengan mas aremaja karena masa puber adalah bagian dari masa remaja dan pubertas sering dijasikan sebagai pertanda awal seseorang memasuki masa remaja.Ketika seorang anak mengalami pubertas, berarti dia anggap sudah memasuki masa remaja, yakni masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Biasanya anak perempuan mulai memasuki masa pubertas lebih awal 2 tahun dibandingkan dengan anak laki-laki. Menurut sejumlah ahli perkembangan, pada anak perempuan pubertas terjadi sekitar usia 10 tahun, sedangkan pada anak laki-laki terjadi pada usia sekitar 12 tahun.



c) Proporsi dan Bentuk Tubuh


Seiring dengan pertambahan tinggi dan berat badan, percepatan pertumbuhan selama masa pubertas juga terjadi pada proporsi tubuh. Bagian-bagian tertentu yang sebelumnya terlalu kecil, pada masa pubertas menjadi terlalu besar. Proporsi dan bentuk tubuh anak usia SD kelas-kelas awal umumnya kurang seimbang. Kekurangan keseimbangan tubuh anak dapat diamati pada bagian kepala,badan, dan kaki. Kepala masih terlalu besar jika dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Jaringan lemak anak SD berkembang lebih cepat dari pada jaringan ototnya.


Berdasarkan tipologi Sheldon, ada tiga kemungkinan bentuk primer tubuh anak SD, yaitu:


1) Endomorph, dimana yang tampak lebih luar berbentuk gemuk dan berbadan besar.


2) Mesomorph, dimana yang kelihatan kokoh,kuat, dan lebih kekar.


3) Ectomorph, dimana yang tampak jangkung, dada pipih,lemah, dan seperti tak berotot.


Perkembangan otot kedua jenis kelamin terjadi dengan cepat ketika tinggi meningkat. Akan tetapi, perkembangan otot anak laki-laki lebih cepat, dan mereka memiliki lebih banyak jaringan otot, sehingga anak laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan.



d) Kematangan Seksual


Kematangan seksual merupakan suatu rangkaian dari perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas, yang ditandai dengan perubahan pada cirri-ciri seks primer (Primary sex characteristics) dan cirri-ciri seks sekunder (Secondary sex caharacteristics). Meskipun perkembangan ini biasanya mengikuti suatu urutan tertentu, tetapi urutan dari kematangan seksual tidak sama pada setiap anak,dan terdapat perbedaan individual dalam umur dari perubahan-perubahan tersebut.


1) Perubahan Ciri-Ciri Seks Primer


Ciri-ciri seks primer menunjukkan pada organ tubuh yang secara langsung berhubungan dengan proses reproduksi.Ciri-ciri seks primer ini berbeda antara anak laki-laki dan perempuan. Bagi anak laki-laki, cirri-ciri seks primer yang sangat penting ditunjukkan dengan pertumbuhan yang cepat dari batang kemaluan(penis) dan kantung kemaluan(scrotum), yang mulai terjadi pada usia sekitar 12 tahun dan berlangsung sekitar 5 tahun untuk penis dan 7 tahun untuk scrotum.


Sedangkan pada anak perempuan, perubahan ciri-ciri seks primer ditandai dengan munculnya periode menstruasi, yang disebut dengan menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali dialami oleh seorang gadis. Oleh sebab itu, menstruasi pertama pada seorang gadis didahului oleh sejumlah perubahan lain, yaitu meliputi pembesaran payudara, kemunculan rambut disekitar daerah kelamin, pembesaran pinggul dan bahu. Selanjutnya, ketika percepatan pertumbuhan mencapai puncaknya, maka ovarium, uterus, vagina, labia, dan klitoris berkembang pesat.


2) Perubahan Ciri-Ciri Seks Sekunder


Ciri-ciri seks sekunder adalah tanda-tanda jasmaniah yang tidak langsung berhubungan dengan proses reproduksi, tetapi merupakan tanda-tanda yang membedakan antara laki-laki dan perempuan.Diantara tanda-tanda jasmaniah yang terlihat pada laki-laki adalah tumbuh kumis dan janggut, jakun, bahu dan dada melebar, suara berat, tumbuh bulu di ketiak,di dada, di kaki, dan si lengan,dan di sekitar kemaluan, serta otot-otot menjadi kuat. Sedangkan pada perempuan terlihat payudara dan pinggul yang membesar suara menjadi halus,tumbuh bulu ketiak dan di sekitar kemaluan.



e) Otak


Pertumbuhan otak dan system syaraf merupakan salah satu aspek terpenting dalam perkembangan individu. Di dalam otak terdapat pusat-pusat sara yang mengendalikan perilaku individu, yang berhubungan dengan perilaku kognisi juga emosi. Dalam otak bagian tengah terdapat system limbic dengan pusatnya ynag disebut dengan Amigdala. Bila disbanding pertumbuhan bagian-bagian tubuh lainnya, pertumbuhan otak dan kepala ini jauh lebih cepat. Pertumbuhan otak ini terjadi pada masa usia dini. Kematangan otak yang dikombinasi dengan pengalaman berinteraksi dengan lingkungan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kognisi anak. Dalam hal ini diperlukan kebutuhan nutrisi dan rangsangan-rangsangan yang membuat otak anak tersebut berfungsi.



f) Keterampilan Motorik


Pada usia SD kemampuan gerak motorik menjadi jauh lebih halus,lebih sempurna dan lebih terkoordinasi daripada sebelumnya selama masa anak. Anak laki-laki biasanya memiliki kemampuan yang lebih baik daripada anak perempuan, karena jumlah otot laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan. Anak-anak usia SD lebih mampu mengendalikan tubuhnya sehingga dapat duduk dan memperhatikan sesuatu lebih lama. Namun anak SD lebi suka melakukan berbagai aktivitas fisik daripada berdiam diri.



2. Perkembangan Perseptual


Aktivitas perseptual pada dasarnya merupakan proses perkenalan individu terhadap lingkungannya. Semua informasi tentang lingkungannya itu samapi kepada individu melalui alat-alat indra yang kemudian diteruskan melalui syaraf sensori ke bagian otak.


Ada tiga proses aktivitas perseptual yang perlu dipahami, antara lain :


a) Sensasi


Peristiwa penerimaan informasi oleh indra penerima. Sensasi berlangsung disaat terjadi antara informasi dengan indra penerima. Dengan demikian, sensasi terjadi proses deteksi informasi secara indrawi.


b) Persepsi


Interprestasi terhadap informasi yang ditangkap oleh indra penerima. Dalam prosesnya, sensasi dan persepsi sulit untuk dipisahkan karena kedua prose tersebut merupakan sesuatu yang berlangsung secara bersamaan.


Dilihat dari keragaman indra penerima informasi,persepsi dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu:


1) Persepsi Visual


Persepsi visual adalah persepsi yang didasarkan pada penglihatan. Persepsi ini sangat mengutamakanperan indra penglihatan(mata) dalam proses perseptualnya. Dengan demikian proses perkembangannya pada fungsi indra mata.Akomodasi adalah proses penyesuaian bentuk lensa mata terhadap objek yang dilihat sesuai dengan jarak dengan jarak penglihatannya.


Persepsi visual dibedakan menjadi 6, yaitu:


1.1 Persepsi Konstanitas Ukuran yaitu kemampuan individu mengenal bahwa setiap objek memiliki suatu ukuran yang konstan meskipun jaraknya bervariasi. Secara lebih kompleks persepsi ini juga merupakan kemampuan untuk menimbang secara ukuran objek yang berada dengan jarak pandang yang bervariasi pula.


1.2 Persepsi tentang objek memungkinkan individu untuk menempatkan suatu objek yang berada pada suatu latar yang membingungkan. Persepsi ini meningkat pada usia 4-8 tahun.


1.3 Persepsi keseluruhan dan bagian merupakan kemampuan untuk membedakan bagian-bagian suatu objek dari keseluruhannya. Persepsi ini meningkat cepat pada anak usia 9 tahun.


1.4 Persepsi kedalaman merupakan kemampuan individu untuk mengukur jarak dari posisi tubuh ke suatu objek. Perkembangan dari bayi berumur 6 bulan dan mencapai kematangan pada 10 tahun


1.5 Persepsi tilikan ruang merupakan kemampuan penglihatan untuk mengidentifikasi, mengenal dan mengukur dimensi ruang.


1.6 Persepsi gerakan melibatkan kemampuan memperkirakan dan mengikuti gerakan atau perpindahan objek oleh mata.


2) Persepsi Pendengaran


Persepsi pendengaran merupakan pengamatan dan penilaian terhadap suara yang diterima oleh bagian telinga.


3) Persepsi Lainnya


Selain persepsi yang telas dijelaskan, ada persepsi lainnya yang menggunakan indra seperti sentuhan, penciuman, rasa, serta keseimbangan tubuh.





c) Atensi


Mengacu kepada selektifitas persepsi. Dalam atensi kesadaran seseorang bisa hanya tertuju kepada suatu objek dan informasi dengan mengabaikan objek-objek lainnya.



I. Menerapkan Perkembangan Anak dalam Proses Pembelajaran



Pembelajaran merupakan suatu proses bertahap yang bertujuan untuk memberdayakan potensi dan kemampuan anak. Sehingga dalam melaksanakan pembelajaran pada anak, harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan agar pembelajaran tersebut akan dapat berjalan secara optimal. Sebagai contoh anak usia SD akan lebih tepat dijalankan system pembelajaran yang menyangkut dengan semua aspek fisik namun ringan sesuai dengan perkembangannya. Bisa dengan pembelajaran yang diselingi dengan bernyanyi dan gerakan sederhana untuk merangsang daya tangkap dan daya imajinasinya. Atau dapat pula diterapkan dalam kegiatan olahraga untuk tingkatan kelas yang lebih tinggi.














BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan


Kesimpulan yang dapat ditarik dari penjabaran di atas sebagai berikut :


1. Perbedaan Perkembangan dan Pertumbuhan terletak pada waktu dan sifatnya,ialah ;







Perkembangan




Pertumbuhan






Terjadi sepanjang hayat




Hanya pada batas waktu tertentu






Bersifat kualitatif (evolusi&involusi)




Bersifat Kuantitatif (evolusi)






Mengacu pada fisik ataupun psikis




Hanya mengacu pada fisik atau tubuh






2. Anak sebagai totalitas artinya bahwa :


Anak merupakan suatu unity sebagai organisme


* Keseluruhan aspek anak saling berhubungan


* Anak berbeda dengan orang dewasa



3. Perkembangan pada anak merupakan proses holistic. Dalam proses holistic terdapat tiga komponen yaitu diantaranya adalah proses biologis, proses kognitif dan proses psikososial. Ketiga proses tersebut saling berkaitan secara menyeluruh.



4. Kematangan dan pengalaman sangat penting diperhatikan dan dipahami dalam proses perkembangan anak. Jika pembelajaran yang diberikan sebelum anak mempunyai kematangan maka akan terjadi suatu penolakan dari segi fisik ataupun dari segi mental anak yang akan mengahambat dan akan terjadi permasalahan-permasalahan pada anak tersebut.



5. Perkembangan anak berjalan secara kontinuitas dan diskontinuitas. Kontinuitas yaitu perkembangan yang berlangsung secara bertahap dan saling berkesinambungan satu dengan yang lainnya. Sedangkan diskontinuitas adalah proses perkembangan yang tidak saling berkesinambungan.



6. Perbedaan perkembangan biologis dan perseptual anak terletak pada obyek dan faktor yang mempengaruhinya. Diantaranya yaitu perkembangan biologis dipengaruhi oleh faktor hereditas, sedangkan perseptual dipengaruhi oleh faktor lingkungan.



7. Perbedaan faktor hereditas dan faktor lingkungan terdapat pada proses dan akibat yang menimbulkan dari masing-masing faktornya.



8. Penerapan perkebangan anak dalam system pembelajaran dapat dilaksanakan dengan memperhatikan tahap-tahap perkembangan anak itu sendiri.



B. Saran


Dengan mengucap syukur kehadirat Alloh SWT yang telah menciptakan berbagai jenis makhluk, sehingga Nampak keagungan-Nya. Maka dengan makalah ini, semoga dapat menambah pengetahuan tentang perkembangan peserta didik. Dan semoga makalah ini bisa dijadikan informasi dan bermanfaat bagi pembaca yang budiman.


Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,namun kami telah memberikan yang terbaik yang dapat kami berikan. Oleh karena itu, kritik dan saran diharapkan untuk perbaikan kami selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA



Desmita.Psikologi Perkembangan Peserta Didik.Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2009.


Siti Rahayu Haditono,dkk.Psikologi Perkembangan. Yogyakarta:UGM,2006.


Hurlock, Elizabeth,B.Child Development.Rogakhusa: Mc Graw Hill, 1978.


Alex,Sobur.Psikologi Umum.Bandung: Pustaka Setia.2009.














Atandira Suainingrum

/suainingrum

Aku dilahirkan di Covalima,Timor-Timur...emh aku wanita yang slalu berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya dan semoga hidupku yang hanya sebentar ini dapat bermanfaat untuk semua orang..
Aku Mahasiswi PGSD dari Kampus VI Kebumen
Universitas Sebelas Maret...
moga perjalanan studyku ini slalu di ridloi oleh ALLOH SWT...amiin..^_^

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?