'Jaim' Bukan Solusi Menyelesaikan Masalah

25 Januari 2011 18:40:01 Diperbarui: 26 Juni 2015 09:11:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
'Jaim' Bukan Solusi Menyelesaikan Masalah
12959810671136178395

Ada yang menarik saat menonton acara talk show yang menghadirkan “Aming” sebagai salah seorang tamu undangannya. Waktu itu Aming belumlah setenar sekarang, dia baru mulai bersinar di dunia entertainment lewat salah satu acara komedi situasi di TransTV. Salah satu pertanyaan yang menarik tentu saja tentang keinginan apa yang sebenarnya Aming paling inginkan. Jawabannya saat itu sungguh sangat menyentak dan inspiratif sekali untuk kami sekeluarga. Saat itu Aming menjawab bahwa dia hanya ingin menjadi manusia yang “biasa-biasa” saja. Hal yang sebenarnya menjadi sindiran bagi kebanyakan orang jaman sekarang yang sudah terbiasa melebihkan segala sesuatunya baik dilakukan oleh dirinya sendiri atau orang-orang disekililingnya. Kalau tidak merasa lebih hebat dan jumawa ya kadang malah memposisikan dirinya lebih rendah agar dikasihani. Tidak bisa aku pungkiri memang ternyata untuk menjadi sosok yang 'biasa-biasa' saja tidaklah mudah. Berat sekali menjadi pribadi yang netral, tidak lebay atau jaim. Butuh energi kejujuran diri yang ekstra lebih. Hal ini dikarenakan banyak sekali situasi yang mau tidak mau malah harus meminjam topeng agar secara sosial diterima oleh komunitas disekitar. Bahkan gejala ini juga ternyata menular sampai level kepemimpinan baik tingkat desa maupun tingkat negara. Ada kejadian pembelajaran dari Kepala Desa ditempat tinggalku. Sepertinya pak Kades ini juga sempat terbawa cara-cara Jaim pimpinannya untuk menyelesaikan masalah di lingkungannya. Masalah tersebut adalah adanya lokasi di pinggir jalan utama desa yang oleh warganya malah di jadikan tempat sampah. Pak Kades pun demi menjaga etika HAM pun akhirnya membuat spanduk peringatan dengan bahasa sehalus mungkin agar warganya tidak membuang sampah sembarangan, khususnya di pinggir jalan tersebut.

tidak ber IMAN?
Bahasa dari spanduk tersebut sebenarnya sangat membuatku ingin menahan tawa. Bukan karena tulisannya yang lucu, tetapi energi dari tulisan di spanduk peringatan tersebut yang sebenarnya menyimpan perasaan 'marah' yang dipendam. Aku menduga, kepribadian pak Kades tidak seperti itu. Namun dengan spanduk peringatan berbahasa halus tersebut, warga sekitar masih membandel membuang sampahnya sembarangan. Bahkan sampai ketika pinggir jalan tersebut di beri pagar bambu oleh pak Kades dan aparat desanya. Sampah masih menumpuk sembarangan. Bau dan lalat berterbangan di sekitar lokasi pembuangan sampah tersebut. Tepat dugaanku sebelumnya, akhirnya muncul spanduk tambahan yang berisi kalimat lebih tegas bahkan dengan kata ANJING yang di beri warna berbeda dari huruf lainnya. Tentu saja ini bertujuan agar menarik perhatian warganya agar memperhatikan peringatan tersebut. Walau di akhir spanduk tertera bahwa spanduk ini protes dari warga, tetapi dipastikan semua atas instruksi pak Kades.
12959809622134070333
12959809622134070333
bermuka ANJING?
Setelah itu, terbukti bahwa dengan spanduk yang lebih sesuai dengan 'karakter' pak Kades sendiri dan tidak ber-jaim-ria maka tak lama daerah tersebut sudah tidak dijadikan tempat pembuangan sampah lagi. Aura kemarahan dari pak Kades sepertinya masuk dan mengena kepada rakyat dan warganya. Dari hal itu aku jadi makin belajar, bahwa menjadi diri sendiri baik pemarah, sopan, pemalu, narsis atau lain sebagainya jika digunakan untuk tujuan kebaikan maka akan menghasilkan hasil yang lebih efektif daripada berpura-pura menjadi orang lain. [Bekasi, 27 Januari 2011]

Hazmi SRONDOL

/srondol

TERVERIFIKASI

Penulis, founder "Blogger Reporter Indonesia" | www.hazmisrondol.com | email: hazmi@bloggerreporter.org
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humor hiburan

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana