Demokrasi dalam Alam Modernitas

02 Februari 2012 13:00:08 Dibaca :

Dasar pemikiran moderen tentang demokrasi ialah ide politis-filosofis tentang kedaulatan rakyat. Artinya, semua kekuasaan politik dikembalikan pada rakyat itu sendiri sebagai subyek asali otoritas ini. Kehendak mereka sendiri sebagai manusia yang bebas dan pada dasarnya sama, berperan serta dalam mengambil keputusan tentang masalah-masalah politik yang menjadi perhatian mereka.


Dengan begitu pruralitas partai-partai politik seyogyanya memberikan rakyat yang menjunjung tinggi alternatif-alternatif politik, kesempatan berbicara secara terbuka, dan tampilnya orang-orang yang cukup bermutu. Hanya saja disini diperlukan persyaratan sebuah warga negara yang telah mampu menggunakan rasionya dan mempunyai suara hati.


Demokrasi yang hidup mengandaikan kematangan politik publik, penilaian yang baik, dan kesiapan pada setiap warga negara untuk mengebawahkan [menurunkan derajad] kepentingan pribadinya kepada tuntutan-tuntutan kesejahteraan umum.


Jika segenap lapisan rakyat telah mampu memenuhi prasyarat-prasyarat ini, maka hendaknya rakyat diberi peluang untuk berperan serta dalam pemerintahan sewaktu mereka memintanya. Dan keputusan-keputusan yang dicapai secara adil haruslah diakui sebagai mengikat seluruh warga negara, karena dalam sebuah demokrasi, otoritas legitim yang diberikan Allah kepada rakyat harus dijalankan dengan sungguh-sungguh.


Perlu dipahami juga, bagaimanapun, peraturan-peraturan resmi tentang pengambilan keputusan demokratis itu sendiri tidak menyediakan jaminan mutlak melawan ketidakadilan. Yang terpenting disini, bentuk-bentuk partisipasi demokratis secara penuh, menjadi tanggung jawab setiap manusia.


Moderinasi adalah suatu paham dimana ilmu, teknologi, industrialisasi, sikap skeptis, rasa kehilangan, kepercayaan yang naif dari manusia dihadapkan pada sikap dogmatisme agama, nihilisme, individualisme, dan atomisme yang semakin berkembang. Dan liberalisme adalah manifesto politik yang paling mencolok dari paham modernisme. Liberalisme sendiri berasal dari ketegangan yang mengerikan di dalam tradisi kekristenan, antara tuntutan kepercayaan mutlak pada ortodoksi suatu ajaran agama, dengan sikap murah hati dan mau memahami situasi manusia kongkrit.


Jika moderenitas dipandang sebagai satu-satunya jawaban untuk mengarahkan eksistensi manusia, maka modernitas yang seperti apa yang laik pakai dan laik operasional. Moderenitas mesti berjalan diatas prinsip-prinsip normatif dan bersifat ekspresif. Normatif modernisasi bukan untuk menghancurkan nilai-nilai dalam dunia-kehidupan, melainkan mengarahkannya pada realisasinya yang sepenuh-penuhnya.


Disini terjadi relasi antara estetika dan etika. Kalau estetika memberi warna pada hidup manusia, maka etika memberi makna pada hidup manusia. Pemaknaan disini sekaligus sebagai artikulasi dari konformatif-norma, atau sikap kritis pada norma itu sendiri. Sejauh norma yang dipakai dalam sebarang budaya menjadi faktor pemicu terjadinya adaptasi proaktif, maka norma tadi telah melakukan fungsinya dalam tranformasi dan transmutasi budaya.

George Soedarsono Esthu

/soedarsonoesthu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Menembus Batas Keunggulan Pioneer, Problem Solver, Inspirator To Live, To Love, To Serve Mengolah Kata-Mengasah Nurani-Mencerdaskan Hati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?