HIGHLIGHT

Jangan SMS Mantan!

04 Mei 2012 13:44:00 Dibaca :

Dalam usia tiga puluh tujuh ini kadang saya suka merasa masih muda dan untuk beberapa kasus saya juga kadang merasa sudah tua atau dituakan. Semisal kalau urusan berfoto-foto ria, maka saya jadi berasa muda terus. Bergaya-gaya tentu tak perlu memandang usia toh ?


Namun untuk urusan yang satu ini saya jadi ikut prihatin dan merasa bahwa kalau sudah tua, janganlah coba-coba hal-hel seperti ini. Dalam bahasa Inggrisnya sih don’t try this at home.


Kisah diawali dari datangnya sebuah SMS ke hp saya dari seorang istrinya rekan kerja. Isinya begini :


“Ibu, tolong kalau ada yang nanyain no telepon suami saya jangan diberitahu ya, demi kenyamanan kami”.


Oww… mungkin Pak Roy, rekan saya ini ditelpon koleganya malam-malam begini. Atau jangan-jangan .. ah.. ga tau deh. Saya kan tidak tahu urusan sebenarnya seperti apa.


Pagi tadi, sebelum sampai kantor, seorang rekan kerja juga mulai ngajak berbincang.


“Bu, aku semalem ditelepon istrinya Pak Roy”


Ditelepon ? Wow.. saya hanya di SMS. Saya jadi tertarik, “Saya juga diSMS bu, ada apa ya ?”


“Dia ga bilang apa-apa sih. Ya.. Pa Roy, paling-paling dapat telepon dari mantan pacarnya dulu “.


Wah, bisa jadi juga, Bu. Pasalnya, kadang-kadang memang kami suka ngobrol ngalor ngidul di kantor termasuk candaan kita pada bapak-bapak yang rata-rata sudah mulai sepuh alias mendekati tua. Hehe..


Kadang, sebagai orang yang masih muda (tuh, dalam hal ini harus ngaku muda), kami-kami suka berkata sinis pada para lelaki yang masih genit walaupun sudah berumur (berumur banyak, maksudnya).. Tentu dalam rangka bercanda. Bahwa “ laki-laki ga boleh seenaknya memperlakukan istrinya di rumah. Biasanya kalau ga keliatan istri sukanya liat-liat gadis-gadis cantik atau malah CLBKan sama mantan-mantannya”


Hehe.. begitulah.. becanda seperti ini mudah-mudahan tidak keterlaluan ya kategorinya, soalnya laki-laki memang harus selalu diingatkan.


Nah, cerita lagi ke SMS Bu Roy, ternyata beberapa rekan juga mendapat SMS yang sama. Mereka mulai berbisik-bisik. “Dapat SMS ga dari istrinya Pa Roy ?”


Akhirnya, trend topic pagi ini adalah : SMS Bu Roy.


Saya tidak menyinggung isi SMS ini ketika bertemu Pa Roy tadi pagi. Sepengamatan saya, matanya merah. Mungkin ga tidur semaleman. Tidak sembab juga sih, lagipula mana ada laki-laki menangis? Mereka adalah makhluk tanpa air mata. (hehe..)


Beberapa lama kemudian, Pa Roy bergegas seperti akan pergi meninggalkan kantor. Seorang rekan  membisiki saya,”Parah kasusnya “. Saya mengernyitkan dahi pura-pura bingung.


“Istrinya minta cerai”. Untuk kali ini mata saya terbelalak lebar. Wah, separah itu kah maksud yang tersurat dalam SMS tadi malam?


“Kok bisa sih ?”


Ternyata, Pa Roy semalam mendapat sebuah pesan singkat dari seorang perempuan yang disinyalir oleh istrinya dialah mantan pacar Pa Roy. Sekedar menanyakan kabar, katanya sih. Entahlah apa lagi ceritanya. Saya harus segera meeting.


Saya hanya berusaha netral ketika berpapasan dengannya. “ Mau kemana Pa Roy, kok tergesa-gesa?”


“Saya mau pulang, Bu.”


“Sepertinya urusannya gawat Pa Roy ?”


Dia mengiyakan singkat. Sekilas saya melihat ada air menggenang di pelupuk matanya.


Waduh. Pa Roy ini sebenarnya sudah hampir sepuh beneran. Beberapa tahun lagi akan masuk usia pensiun. Jadi, bukan pula merupakan hal yang wajar ketika kami mendapati masalah sekecil ini berujung pada kata perceraian. Tanpa perlu melihat ini salah siapa, namun sudah tua kok malah berfikir cerai. Suatu keputusan yang menurut saya sangat tidak rasional. Ya, walaupun cinta kadang tidak perlu pakai rasio, namun ketika sedang perang harusnya jangan mengeluarkan statement yang merugikan dulu. Tinggalkan beberapa saat sambil menunggu amarah reda, baru deh dibicarakan. Kalau sedang sengit-sengitnya, memang yang ada adalah banting piring, panci, bahkan cerai ! Wow.


Sambil berdoa mudah-mudahan mendapat jalan keluar yang paling baik, saya coba mengambil hikmah dari kasus Pa Roy:


Pertama, jangan sekali-kali main api dengan sekedar mengirim pesan singkat sekalipun pada mantan pacar, kecuali memang sudah menyadari resikonya.


Kedua, hati-hati dengan SMS yang bakal menimbulkan kerusuhan, sebaiknya dihapus saja.. (daripada..)


Ketiga, jangan ambil keputusan pada saat sedang marah


Keempat, jangan pernah ucapkan kata cerai, karena ini bukan kata yang tepat  untuk mengungkapkan emosi.

Siti Mugi Rahayu

/sitimugirahayu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Saya seorang guru yang tertarik pada pendidikan yang humanis.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?