MOS,(lagi) Ajang Mendidik atau Mempermalukan?

16 Juli 2012 13:03:34 Dibaca :

Anak saya yang sulung, Adit hari Senin(16/7/12) MOS. Begitu banyak atribut yang harus di persiapkan menjelang MOS. Dari Name Tag dengan foto narsis sampai berkalung jengkol dan jeruk nipis. Mengenakan tali sepatu rafia kanan hitam kiri putih, ikat pinggang dari tali rafia merah,kuning hijau di kepang kanan kiri kaleng bekas minuman dan mengenakan topi yang merupakan belahan bola plastik warna biru.Terus terang saya bingung MOS sepertinya ajang untuk mempermalukan diri dan bukan untuk mendidik mental siswa baru.

Dari Sabtu malam sampai Minggu malamnya lagi, ada teka-teki sebanyak 12 item yang harus ‘ kami’ pecahkan . ‘natrium silikon’ , ‘snack OVJ’, ‘permen maksiat’ sampai ‘roti petualang’ dan di haruskan menggunakan taplak meja untuk membawanya. Semuanya bikin pusing tujuh keliling.

Menurut jadwal, MOS di laksanakan dari jam 6 pagi sampai 3 sore, tapi kenyataannya anak saya pulang jam 5 sore. Sengaja saya jemput karena sudah lebih dari 1 jam anak saya belum pulang. Sesampai di dekat sekolah saya di suruh balik sama ibu-ibu yang lagi nongkrong di pangkalan ojek ternyata mereka juga mau jemput anaknya Yang kebetulan juga satu sekolah dengan anak saya,mereka bilang “bu mau jemput anaknya ya?,tunggu di sini aja bu ada yang ngawasi tar kasian anak kita”.

Akhirnya saya juga ikut nunggu di pangkalan ojek, mereka mengeluhkan pelaksanaan MOS yang lebih pada penyiksaan anak dan sayapun mengiyakan pernyataan ibu-ibu tersebut. Tak begitu lama sekolah bubar segera saya menghampiri anak saya. Dengan muka yang menyedihkan dan langkah gontai anak saya menghampiri saya.

Dalam perjalanan pulang anak saya mengeluhkan “cape, males, pusing, bosan kakak kelas bisanya marah dan maki-maki aja gak ada ujungnya ma”. Saya beri pengertian memang begitu kalau MOS, “kamu harus kuat dan cuekin aja kalo ada yang ngomel dan marah-marah anggap aja angin” nasehat saya. Tapi sesampai di rumah saya pandangi anak saya wajahnya kelihatan lesu dan loyo, rambut yang kemarin dipotong dengan rapi di tukang cukur tapi ternyata oleh panitia MOS di potong seenaknya dengan alasan kurang rapi dan pendek.

Sebagai orang tua saya besarkan hatinya tapi mungkin anak saya sudah cape hati dan dia bertekad besok tidak akan masuk sekolah melanjutkan MOS.”Mama gak tahu, dari hari Sabtu yang harusnya di isi pembekalan tapi di situ kita semua di maki-maki,marah-marah dengan kata-kata yang gak pantas,Adit udah cape. Dan Adit gak akan bilang ke mama kata-kata apa aja”,begitu kata anak saya. “Bilang aja sama mama nanti mama akan protes ke guru pembina MOS tentang kelakuan anak didiknya yang gak pantas dan itu pasti di benarkan, karena memang udah gak jamannya MOS kayak gitu” kata saya. Tapi anak saya jawab “Gak ma, pokoknya besok adit gak mau masuk” . Sambil berlalu mengambil handuk untuk mandi. Setelah sholat Maghrib anak saya masuk kamar dan tidur,saya tidak tega untuk membangunkannya.

Sebagai seorang guru menurut pendapat saya masa orientasi sekolah seharusnya masa untuk mengenalkan lingkungan sekolah beserta isinya, mengenalkan budaya sekolah dan kalaupun untuk menguji mental peserta didik baru bisa dengan memberikan tugas-tugas yang bersifat mendidik. Tidak dengan mengharuskan memakai atribut-atribut yang mempermalukan peserta didik baru.

...Sweet Smile...

Fransiska Mulyasari

/siskafajar

single fighter | nice mom | teacher | friendly | keep smile |
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?