Terobosan Ekonomi Berbasis Perilaku (Economic Behavior)

05 Mei 2012 19:45:34 Dibaca :

Sejak Adam Smith mengeluarkan karya klasiknya yang berjudul “The Wealth Of Nations” yang termasyur itu, maka ekonomi mendapat fondasi kokoh untuk diakui sebagai suatu disiplin ilmu. Dan sejak saat itu hingga kini mengalami perkembangan pesat, namun apabila dibedah lebih lanjut ditemukan bahwa ilmu ekonomi dapt dibagi menjadi dua aliran yaitu ilmu ekonomi konvensional dan ilmu ekonomi berbasis perilaku (economic behavior). Untuk yang terakhir itulah yang menjadi fokus dalam tulisan ini, dan tidak itu saja karena akan dibahas juga relevansinya yang dapat teramati dalam kehidupan sehari-hari.


Deskripsi dari kedua aliran ekonomi tersebut seperti ini, ilmu ekonomi konvensional berdiri tegak dalam dua asumsi utamanya yaitu self interest dan rasionalitas penuh. Nalarnya adalah dalam interaksi ekonomi maka pelaku-pelaku ekonomi didorong self interest yang natural sehingga membutuhkan adanya kebebasan. Dalam artian bahwa pelaku-pelaku ekonomi dalam menentukan pilihan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginannya perlu diberi kebebasan karena hal itu merupakan deskripsi akan bagaimana suatu kekuatan natural yang bekerja (the invisible hand). Dalam proses itulah setiap pelaku akan menentukan sikap dan secara bebas menentukan pihak lainnya untuk dilakukan aktivitas ekonomi.


Terkait ulasan sebelumnya asumsi kedua yaitu rasionalitas mendapatkan posisi yang sentral. Dalam artian bahwa dalam proses memenuhi kebutuhan dan keinginan, pelaku ekonomi akan melakukan pertimbangan yang rasional. Tepatnya yaitu pertimbangan yang dilandasi berbagai macam faktor relevan dan informasi yang penuh, atau biasanya disebut sebagai pendekatan normatif. Sedangkan ekonomi berbasis perilaku merupakan kebalikannya dari ekonomi konvensional. Dalam perngertian bahwa asumsinya berbeda, pendekatannya berbeda, dan juga kombinasi ilmunya juga berbeda.


Spesifiknya yaitu ekonomi berbasis perilaku berasumsi bahwa pelaku ekonomi tidaklah selamanya rasional. Oleh karean itu, keuangan berbasis perilaku memandang pelaku ekonomi lebih pada aspek-aspek psikologi dari perilaku. Dengan kata lain, memandang pelaku ekonomi bukan hanya pada rasional atau tidak rasional melainkan pada aspek-aspek yang lebih luas. Untuk itu tentu saja ekonomi berbasis perilaku merupakan kombinasi dari dua disiplin ilmu yaitu ilmu ekonomi dan ilmu psikologi. Lanjut bahwa didorong oleh perbedaannya maka dalam proses pembedahannya tentu saja berbeda, dimana ekonomi berbasis perilaku menekankan perilaku apa adanya dari pelaku ekonomi sedangkan ekonomi konvensional lebih pada bagaimana seharusnya berperilaku.


Berpijak pada ulasan-ulasan sebelumnya, dapat dipahami terkait aspek ontologi dari kedua cabang ilmu ekonomi tersebut. Bagian ini difokuskan pada aspek epistemologi dari keuangan berbasis perilaku, dimana menurut ekonomi berbasis perilaku bahwa proses membuat keputusan oleh pelaku ekonomi dapat saja mengalami penyimpangan dari standar yang seharusnya. Spesifiknya yaitu pelaku ekonomi pada umumnya relatif tidak mampu membuat pertimbangan yang rasional sehingga terjebak dalam bias. Salah satu contoh konkritnya adalah ketika harus mengeluarkan uang untuk membeli sesuatu atau menentukan keputusan ekonomi, pelaku ekonomi lebih mengandalkan aspek intuitif/emosinya sehingga relatif kurang mampu menganalisis biaya manfaat dengan tepat.


Contoh lainnya dalam proses berpikir untuk menentukan keputusan yang akan dibuat adalah ketika pelaku ekonomi tidak memiliki priorotas dalam alokasi uang sehingga hanya berdasarkan naluri saja, dan hal ini menyebabkan membuat keputusan yang tidak menghargai kesejahteraan dalam siklus hidupnya. Atau dengan kata lain, menyimpang dari teori siklus hidup sehingga pada tahap-tahap tertentu dari usia pelaku ekonomi akan masuk dalam fase kemiskinan. Dan seperti yang diketahui bahwa kemiskinan itu dapat diibaratkan seperti rantai setan dimana tidak ada ujungnya.


Selanjutnya adalah terkait aspek aksiologi dari ekonomi berbasis perilaku. Kemanfaatan yang dapat diperoleh dari benar-benar memahami ekonomi berbasis perilaku, dalam tulisan ini membaginya dalam dua bagian. Pertama adalah untuk dunia akademik atau perkembangan dari ilmu ekonomi dan kedua yaitu untuk pelaku ekonomi itu sendiri. Penalaran untuk perkembangan ilmu ekonomi yaitu kehadiran ekonomi berbasis perilaku merupakan suatu terobosan penting, menimbang bahwa selama ini ilmu ekonomi menyepelekan faktor-faktor psikologi sehingga potret fakta belumlah optimal. Selain itu, dengan memasukkan faktor-faktor yang lebih luas cakupannya akan sangat membantu dalam memahami perilaku pelaku ekonomi yang menyimpang. Dan hal ini membuka peluang untuk semakin banyaknya ditemukan pengetahuan baru yang akan memperkaya ilmu ekonomi.


Untuk aspek aksiologi kedua yaitu manfaat bagi pelaku ekonomi dalam melakukan kegiatan ekonominya. Kehadiran ekonomi berbasis perilaku sangat membantu untuk bagaimana pelaku ekonomi memahami perilakunya sendiri. Dalam artian bagaimana anda dan kita semua dapat memahami bahwa kita berpeluang mengalami bias dalam kehidupan ekonomi sehari-hari serta mengapa kita mengalami bias. Lebih spesifik lagi yaitu bagaimana pelaku ekonomi dapat memahami faktor-faktor seperti kelamahan kemampuan kognitif, aspek kepribadian, emosional, mood atau suasana hati dan lain-lainnya turut mempengaruhi perilaku yang menyimpang dari yang diharapkan. Alhasil pun, kita sangat terbantukan dalam mengendalikan diri asalkan ada niat yang kokoh untuk mereduksi penyimpangan perilaku tersebut.


Sampai di sini, tampak bahwa ekonomi berbasis perilaku memiliki keuntungan yaitu membantu pelaku ekonomi memahami dengan lebih baik dari perilakunya sendiri. Hanya saja perlu ada penekanan bahwa kehadiran ekonomi berbasis perilaku pada prinsipnya tidak meniadakan ekonomi konvensional melainkan merupakan suatu pelengkap. Dalam pengertian bahwa apabila pelaku ekonomi mampu mensinergiskan ekonomi konvesional dan ekonomi berbasis perilaku maka akan meningkatkan perilaku yang bagus. Nalarnya adalah ketika pelaku ekonomi berhasil membangun kebiasaan berpikir nalar sebelum bertindak serta kemampuan mengendalikan diri untuk memperkuat mengontrol faktor-faktor psikologi maka yang terjadi adalah benefit bertendensi lebih besar dari biaya ketika menganalisis. Dengan kata lain yaitu semakin mencerahkan dalam memantau perilaku sendiri ketika membuat keputusan ekonomi.


Peter Garlans Sina

/sina

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Senang menulis dan meneliti
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?