Peta Pemikiran Filsafat Yunani

06 Januari 2012 07:00:43 Dibaca :
Peta Pemikiran Filsafat Yunani

Sejarah telah mencatat bahwa tanah kelahiran dan perkembangan dari Filsafat adalah tanah Yunani. Kata Filsafat itu sendiri berasal dari kata-kata Yunani yakni Philo dan shopia. Philo artinya cinta yang dalam makna luas bisa diartikan dengan keingintahuan yang mendalam dan sophia yang artinya kebijaksanaan atau kepandaian. Dapat disimpulkan bahwa Orang yang mempelajari Filsafat adalah seorang Pecinta kebijaksanaan yang tidak pernah puas akan suatu ilmu pengetahuan dan menganggap kebenaran itu tidak akan pernah final. Mereka terus berusaha mencari kebenaran sampai keakar-akarnya. Terlahirnya filasafat ditanah Yunani merupakan hal yang benar-benar menakjubkan, bahkan ajaib karena tidak ada jawaban yang benar-benar memuaskan untuk menjelaskannya. Namun demikian ada faktor-faktor yang mendahului, bahkan seakan-akan telah dipersiapkan untuk Yunani sebagai tempat kelahiran filsafat dunia. Hal-hal yang seakan-akan telah dipersiapkan itu antara lain: pertama, seperti bangsa-bangsa yang lainnya, bangsa Yunanipun adalah bangsa yang kaya dengan mitos, dan itu telah menjadi kepercayaan yang turun temurun. Yang begitu luar biasa adalah bangsa Yunani mampu memilih dan memilah mitos-mitos tersebut menjadi satu rangkaian yang utuh dan sistematis. Dan kemampuan itulah yang menandakan bahwa bangsa Yunani telah mampu berpikiran rasional. Disini terlihat jelas bahwa bangsa Yunani mampu mengeser peranan mitos kearah logos walaupun pada kenyataanya pada saat itu  seluruh mitologi tidak ditinggalkan secara mendadak melainkan dengan beberapa proses yang panjang. Ada beberapa hal yang menyebabkan akal dan pikiran dapat berkembang begitu pesat di tanah Yunani. Pertama, bangsa Yunani adalah bangsa yang merdeka, mereka tidak hidup dibawah kekuasaan raja yang otoriter. Mereka hidup dalam negara polis, yaitu suatu negara kecil atau negara kota yang derajat semua penduduknya adalah sama. Dan polis tersebut menjadi sentral kegiatan bangsa Yunani yang bersifat otonom, swasembada dan merdeka. Kedua, bangsa Yunani adalah bangsa yang kaya akan karya sastranya, yang sekaligus dijadikan sebagai media edukatif bagi masyarakatnya. Dan ketiga adalah bangsa Yunani sangat menghargai akan ilmu pengetahuan, mereka  selalu menggunakan ilmu tidak semata-mata untuk kepentingan yang bersifat mencari keuntungan, akan tetapi lebih kepada pemenuhan kepentingan ilmu itu sendiri. Dan itulah yang membedakan orang Yunani dengan orang Timur Kuno dan Babilonia Kondisi seperti inilah yang menciptakan iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya akal dan pikiran. Pembahasan Disini saya akan menguraikan beberapa pemikiran para Tokoh-tokoh Filsafat Yunani, tiga diantara tokoh-tokoh yang saya uraikan disini hanyalah inti pemikiranya saja. Sedangkan untuk Aristoteles akan diuraikan lebih mendalam. Filsuf-filsuf tersebut diantaranya adalah : 1.Thales Dalam tradisi Yunani terdapat beberapa berita tentang 7 orang bijaksana, dan Thales adalah salah seorang diantaranya. Salah satu ketepatan analisa dan perkiraan Thales adalah dia telah berhasil meramalkan akan terjadinya peristiwa gerhana matahari. Dan hal yang membuat dia digelari sebagai bapak filsafat adalah ketika dia bertanya tentang “apa sebenarnya bahan dasar tentang alam semesta ini?” Dia pun menjawabnya bahwa itu adalah air. Atas pertanyaaan dan jawabannya ini Thales termasuk pada filsuf yang mencari prinsip (arkhe) alam semesta. Menurutnya prinsip dari alam semesta adalah air, karena semuanya tidak akan bisa ada (bertahan hidup) tanpa ada air. Semua pemikiranya murni menggunakan akal dan mengesampingkan mitologi.

2. Heraclitus Heraclitus adalah salah seorang filsuf yang mencetuskan teori tentang relativisme. satu pemikiran  yang menarik dari heraklitus adalah bahwa bahwa “engkau tidak akanpernah mampu menerjunkan diri kesungai yang sama untuk kedua kalinya, karena air sungai itu selalu mengalir”. Oleh karena itulah Menurutnya bahwa alam semesta ini semuanya selalu dinamis (berubah). Pernyataan ini merupakan awal berkembangnya relativisme, teori ini mengandung pengertian bahwa kebenaran akan selalu berubah. Pengertian adil hari ini belum tentu sama dengan besok hari. Sehingga dia mencapai kesimpulan bahwa hal yang mendasar dari alam ini bukanlah bahan dasarnya, akan tetapi lebih pada proses kejadiannya.

3. Parmanides Parmenidesterlahir kira-kira tahun 450 SM. Dan pemikiran parmenides sangat bertolak belakang dengan pemikiran dari heraklitus. Bagi Heraclitus realitas seluruhnya bukanlah sesuatu yang lain daripada gerak dan perubahan. Bagi Parmenides gerak dan perubahan tidak mungkin. Menurutnya realitas merupakan keseluruhan yang bersatu, tidak bergerak atau berubah. Bagi parmenides seluruh jalan kebenaran itu bersandar pada satu keyakinan : “Yang ada itu ada”, itulah kebenaran yang sesungguhnya. Dapat dikatakan bahwa Parmenides adalah seorang filsuf yang tidak mempercayai akan indera-inderanya. Dia berkeyakinan bahwa indera kita tidak tepat dalam memberikan gambaran mengenai dunia ini.

4. Aristoteles Salah satu Filsuf yang dianggap sangat berjasa dalam meletakan sendi-sendi pemikiran rasionalitas barat adalah Aristoteles. Ia adalah  salah satu murid dari Plato. Meskipun dalam hal pemikiran keduanya mempunyai pandangan yang berbeda, tetapi Aristoteleslah yang dianggap sebagai seorang pewaris dari pemikirian gurunya, dan dianggap sebagi tokoh penggerak zaman.  Maka tidak heran jika Michael H. Hart, penulis buku 100 tokoh yang paling berpengaruh didunia, yang didalam bukunya mengatakan bahwa Aristoteles adalah seorang Filsuf dan Ilmuwan  terbesar dunia pada masa lampau. Aristoteleslah yang mempelopori penyelidikan tentang Logika, dan metafisika. Selain itu Ia banyak menulis tentang etika, psikologi, ekonomi, polotiik, retorika, serta konstitusi Athena. Berbicara mengenai pemikiran-pemikiran aristoteles maka tidak lepaslah dari membicarakan  sejarah kehidupannya. Aristoteles dilahirkan pada tahun 384 SM di Stageira, suatu kota di Yunani utara. Ayahnya adalah seorang Dokter pribadi Amyntas II, raja Macedonia. Pada awalnya Aristoteles dididik oleh sang Ayah untuk menjadi seorang dokter. Namun sebelum hal itu terwujud ayahnya sudah terlebih dahulu meninggal. Setelah kejadian itu maka ketika aristoteles masih berumur 7 tahun, berangkatlah ia ke Athena untuk belajar di akademia milik Plato. Disana ia menjadi murid kesayangan gurunya. Namun walaupun begitu Aristoteles dikenal sebagai seorang murid  yang sering mendebat gurunya. Dalam pemikirannya Aristoteles mengkritik tajam tentang pemikiran gurunya mengenai dunia idea, dalam suatu argumen Aristoteles menjelaskan bahwa Plato memperduakan realitas dengan cara berlebihan, suatu argumen lain menandaskan bahwa Ide atau bentuk mau tidak mau bersifat Individual dan tidak mungkin bersifat umum, sebagaimana dikehendaki Plato. Kalau bentuk “manusia” umpamanya memang berdiri sendiri, maka bentuk ini merupakan individu, sebagaimana juga individu konkret yang bernama sokrates. Oleh karenanya, kita harus menerima “ manusia yang ketiga” (thritos antropos) yang merupakan contoh, baik bagi bentuk “manusia” tadi maupun bagi individu sokates. Tetapi “manusia yang ketiga” ini bersifat individual pula, sehingga harus diterima contoh lain dan seterusnya  begitu sampai tak berhingga. Kesulitan seperti inilah yang tidak pernah dapat diatasi. Aristoteles sendiri berpendapat bahwa setiap bentuk tertuju kepada materi dan tidak dapat dilepaskan daripadanya. Selain itu seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, Aristoteles semasa hidupnya banyak sekali menulis buku-buku. Yang boleh dibilang karya-karyanya itu persis kebalikan dari pemikiran Plato. Dan sangat mungkin sekali jika dari sekian banyak karyanya yang terpenting adalah Teori tentang Logika. Nama “logika” sendiri pertama kali muncul pada Cicero (Abad 1 SM), tetapi dalam arti “Seni berdebat” sedangkan  Aristoteles menggunakan istilah “analitika” dan “dialektika” untuk menerangkan tentang cara berpikir. Jadi bagi Aristoteles analitika dan dialektika merupakan cabang ilmu yang sekarang kita sebut dengan logika. Dasar ajaran Aristoteles tentang logika berdasarkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan dua yang tersusun sedmikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk dapat menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu benar sifat putusan itu. Dalam ajaran mengenai psikologi Aristoteles berpendapat bahwa tubuh merupakan materi dan jiwa merupakan bentuknya. Jika tubuh adalah potensi maka jiwa adalah aktusnya. Jiwa adalah aktus utama yang palin asasi, yang menyebabkan tubuh menjadi tubuh yang hidup, jiwa juga merupakan asas hidup dalam arti yang seluas-luasnya, yang menjadi asas segala arah hidup yang menggerakan tubuh, yang memimpin segala perbuatan menuju kepada tujuannya. Oleh karena itu menurutnya jiwa dan tubuh merupakan dua aspek dari subtansi yang sama. Bagi saya hal yang paling menarik dari ajaran-ajaran Aristoteles adalah ajaran mengenai Tuhan. Disini Aristoteles beranggapan bahwa Tuhan sebagai “penggerak pertama yang tidak digerakkan”. Menurut Aristoteles gerak dalam jagat raya ini tidak mempunyai permulaan maupun penghabisan. Karena setiap hal digerakkan oleh hal lain maka perlulah ada sebuah penggerak pertama yang tidak digerakkan. Aristoteles percaya bahwa segala sesuatu memiliki satu tujuan dan tujuan gerak yang ada dialam semesta bukanlah untuk mencapai kesempurnaan, melainkan untuk menuju ke penggerak pertama yang pada zaman sekarang bisa disebut Tuhan atau Allah. Dalam segala perbuatanya manusia senantiasa mengejar satu tujuan, dan menurut Aristoteles Tujuan manusia yang tertinggi adalah eudaimonia atau yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kata kebahagiaan. akan tetapi kata kebahagiaan ini tidak sama dengan yang dimaksud oleh Aristoteles.  Melainkan kebahagiaan  yang berarti suatu keadaan manusia yang bersifat demikian sehingga segala yang harus ada padanya terdapat pada manusia (well-being). Dalam pembahasan mengenai  Filsuf sebesar Aristoteles. Saya tidak menyajikan seluruh pemikiran-pemikirannya, Melainkan hanya segelintir dari pemikiran-pemikiranyaa saja. Terus terang saya sempat kagum dengan berbagai macam teori-teori filsafatnya. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika filsuf seperti Aristoteles tidak pernah ada, karena pengaruh pemikirannya masih sangat terasa hingga saat ini dan banyak menginspirasi para filsuf-filsuf sesudahnya. Bahkan para filsuf muslimpun ramai-ramai menterjemahkan karya-karyanya. Walaupun begitu, tidak dapat dipungkiri memang banyak pemikiran Aristoteles yang kini dirasakan sudah agak “ketinggalan zaman.” Seperti pemikirannya mengenai derajat wanita yang lebih rendah dibanding dengan laki-laki ataupun pandangannya yang mendukung perbudakan yang menurut  dia  adalah sejalan dengan garis hukum alam. Namun bagi saya adalah suatu hal yang cukup hebat ketika ada seorang filsuf yang sudah bisa memikirkan banyak hal pada zaman  dahulu seperti itu.

Kesimpulan Setelah melihat awal sejarah kelahiran dan perkembangan Filsafat diYunani yang panjang, kita sama-sama disuguhkan suatu “Cerita” mengenai cara pandang manusia dalam hal ini sejak Thales yang berusaha memandang alam semesta  ini tanpa menyangkut pautkannya dengan mitologi. Yang Setelahnya munculah filsuf-filsuf  seperti Anaximandros, Anaximenes. empedokles, phytagoras, heraclitus, dan parmenides. Dari masing-masing filsuf tersebut kita mengetahui bahwa mereka mempunyai satu kesamaan, yaitu sama-sama mempunyai arkhe atau unsur induk alam semesta. Seperti Thales yang menerangkan bahwa semuanya berasal dari air dan kembali menjadi air lagi atau bahkan anaximenes yang mencoba menerangkan bahwa prinsip atau asal-usul dari alam semesta adalah udara. Tentulah kita sebagai manusia yang tinggal dizaman modern seperti saat ini tentu akan sedikit tertawa melihat pemikiran para filsuf-filsuf terdahulu dalam cara menerangkan alam semesta. Namun pada hakikatnya kita harus mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh para filsuf yunani tersebut. Karena tindakan para filsuf tersebut dalam mencari arkhe sebetulnya adalah momentum awal dalam kelahiran filsafat untuk membongkar periode Myte (mythos/mitologi) yang telah lama diyakini pada masa itu kearah rasionalitas (Logos) dengan suatu metode berpikir untuk mencari sebab awal dari segala sesuatu dengan merunut dari hubungan Kausalitasnya (sebab-akibat). Walaupun sesungguhnya Arkhe yang dikemukakan oleh para filsuf tersebut masih sangat spekulatif dalam arti masih belum dikembangkan lebih lanjut dengan melakukan pembuktian melalui observasi maupun eksperimen dalam kenyataan, tetapi cara berpikir untuk menemukan melalui suatu bentuk berpikir sebab-akibat secara rasional itulah yang patut dicatat sebagai suatu arah baru dalam sejarah pemikiran manusia. Hingga sejak kemunculan sokrateslah Filsafat yang masih membahas tentang alam semesta itu mulai dipindahkan kebumi. Dalam artian bahwa sasaran yang hendak diselidiki oleh filsafat sokrates bukan lagi jagat raya, melainkan hakikat manusia itu sendiri. Sokrates sendiri mengatakan bahwa tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia) dan cara untuk mendapat kebahagiaan itu dengan arete (kutamaan). Saat ini saya berpendapat bahwa Filsafat Yunani benar-benar istimewa. Karena dengan mempelajari Filsafat Yunani berarti kita seolah-olah menyaksikan kelahiran dari filsafat itu sendiri. Oleh sebab itu menurut saya tidak ada pengantar filsafat lain yang lebih bagus selain mempelajari sejarah filsafat yunani. Kemudian Jika dilihat dengan seksama peran para filsuf Yunani  adalah   memberikan sumbangan pemikiran yang besar bagi cikal bakal ilmu pengetahuan yang modern seperti sekarang ini.

Rizki Baiquni Pratama

/shirizkiku

philosophy student who is looking for the wisdom of life.. . :P
http://shirizkiku.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?