67 Tahun Indonesia Merdeka: Biar Tekor Asal Kesohor

17 Agustus 2012 05:49:01 Dibaca :

Hari ini tepat 67 tahun kemerdekaan Indonesia. Bahagia jelas. Saya tidak bisa membayangkan, masihkah saya dapat berdiri berhaha-hihi apabila suasana hari ini sama persis dengan cerita di epik perjuangan. Menyaksikan kepulan debu membubung menyesakkan dada, suara jerit kematian bercampur aroma darah dan daging matang, jatuh berdarah diterjang timah panas, lalu entahlah, terlalu banyak kata yang harus disusun untuk mengungkapkan kengerian perang.

Diantara ribuan pribumi yang rela melihat suaminya berdarah-darah meregang nyawa dipopor senapan, anak lelakinya tak pernah kembali dari medan perang, anak gadisnya diseret diperkosa, rumahnya hangus dibakar, dan bayinya mati dilempar ke selokan, ada beberapa diantara mereka yang menjadi penjilat.
Berbaur dengan rakyat menjadi mata-mata demi beberapa lembar gulden, menjadi antek Belanda demi kedudukan terpandang, atau terang-terangan bergabung menjadi prajurit memerangi kaumnya sendiri.

Ya, segala kengerian itu telah berlalu. Tapi jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno.

Negeri ini sangat besar, sangat luas, sangat kaya. Pantas jika upacara kemerdekaan menghabiskan deretan angka nol yang jika berupa uang receh akan memenuhi desa kecil tempat saya tinggal. Toh hanya desa kecil saya yang penuh, dibanding luas daratan dan lautan Indonesia, bukan apa-apa. Demi pencitraan ke negara lain, ke utusan-utusan negara sahabat, kepada dunia.

Ya, kata pepatah Betawi, "biar tekor asal kesohor". Budaya feodal ini masih sangat melekat. Beberapa tahun belakangan, lebih populer dengan istilah "P-E-N-C-I-T-R-A-A-N".

Kalau benar itu alasannya, untuk apa? Bukankah banyak negara lain yang menyelenggarakan peringatan hari kemerdekaannya dengan lebih mewah? Bahkan dengan uang sendiri, bukan hasil utang sana-sini. Apakah dengan itu Indonesia bisa disegani?

Deretan nol itu bisa digunakan untuk memberi modal ke usaha kecil, memberdayakan masyarakat, membangun perpustakaan, membangun infrastruktur di pedalaman. Ah, saya hanya rakyat biasa yang hanya bisa merangkai puluhan kata sangkalan.

Masyarakat mengikuti pemimpinnya. Tidak salah lagi. Banyak orang-orang yang membangun rumahnya megah-megah tapi kalau ada BLT atau beasiswa tidak mampu mereka berbangga diri ikut mendaftar, kredit motor untuk gaya-gayaan padahal sehari-hari cuma ke sawah yang berjarak tak jauh dari rumah, ambil hutang dari rentenir untuk beli baju lebaran, merokok biar keren padahal tak ada uang untuk makan, beli kulkas padahal rumahnya di gunung yang berhawa dingin menusuk tulang, akhirnya kulkas beralih fungsi jadi lemari baju. --"

Biar tekor asal kesohor.

Bapak saya pernah bilang, "misal nanti kalian ditakdirkan sukses dan kaya, jangan terlalu bangga, tetap sederhana. Jangan bangga kalau orang-orang segan karena harta. Biar orang segan karena akhlak dan ilmu kalian. Bapak ga bisa mewarisi kalian dengan harta, tapi bapak memberi bekal berupa ilmu. Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Itu otomatis, jangan khawatir."

Andai para penyelenggara negeri ini mau berinvestasi jangka panjang di bidang pendidikan. Andai mereka pernah melihat acara TV yang mengeksplore penderitaan. Andai mereka melihat foto anak-anak SD yang menyeberang jembatan tak layak pakai. Ah, seribu kata andai tak pernah sanggup mengubah keadaan.

Ataukah kalimat-kalimat Pancasila sudah terlalu usang dan mereka berniat menggantinya dengan "biar-tekor-asal-kesohor" yang lebih enak didengar telinga?

Apapun kau, tetap Indonesiaku. Aku akan mengubahmu dengan tanganku.

SHARIKHA AMY

/sharikha

seorang manusia biasa yang ingin menjalankan fungsi sebagai manusia seutuhnya, tidak sekedar mempertahankan eksistensi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?