PILIHAN

Biopic: Kisah Sukses, Literasi, dan Revolusi Mental

20 Maret 2017 12:36:07 Diperbarui: 21 Maret 2017 11:52:18 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Biopic: Kisah Sukses, Literasi, dan Revolusi Mental
Soe Hok Gie yang diperankan Nicolas Saputra sedang membaca buku The Rebel karya Albert Camus (sumber: twitter @KompasTV)

Kisah hidup orang-orang sukses menjadi inspirasi banyak orang. Buku-buku biografi pun jadi buruan. Melalui catatan perjalanan hidup sosok yang dikagumi, orang-orang yang ingin sukses belajar tentang kerja keras, perjuangan menghadapi tantangan, bangkit dari kegagalan, dan kepedulian pada sesama. Mereka diyakinkan bahwa sukses adalah milik setiap orang yang menghendaki.

Orang-orang sukses datang dari ragam latarbelakang. Aktivis kemanusiaan, atlet, blogger, pejuang lingkungan, pengusaha, politisi, dan seniman. Kesuksesan mereka yang menginspirasi ini tak sebatas jumlah deposito atau koleksi materi, tapi juga komitmen, konsistensi, dan prestasi seperti yang diperlihatkan Mahatma Gandhi, Bunda Theresia, dan Susi Pudjiastuti.

Membaca buku-buku biografi kiranya menjadi kegemaran tiap orang. Tak sekadar meneguhkan mimpi sukses, tapi juga belajar tentang nilai-nilai yang dianut sang inspirator sehingga menjadi manfaat bagi sesama. Melalui pembelajaran ini, pembaca setidaknya memasuki proses perenungan yang dapat membawa pada perubahan diri. Membaca buku-buku biografi sejalan dengan revolusi mental.

Sayangnya, menurut hasil studi Most Littered Nation in The World Central Connecticut State University, Maret 2016, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara soal minat membaca. Posisi Indonesia di bawah Thailand (59) dan di atas Botswana (61). Alhasil, kisah-kisah inspiratif hanya diresap sebagian kecil orang. Perubahan diri menjadi manusia yang lebih baik, revolusi mental, juga hanya dialami sebagian kecil orang.

Revolusi mental harus tetap digelorakan demi Indonesia yang lebih baik. Bukan sekadar menjadi warga yang manut mendukung program pemerintah, tapi juga mengkritisinya. Bukan sekadar berkeluh-kesah dan menuntut, tapi juga berbuat sesuatu secara nyata seperti yang dilakukan sosok-sosok dalam buku-buku biografi.

Di tengah rendahnya minat baca, revolusi mental dapat didukung lewat biographical motion picture (biopic) atau film biografi. Indonesia punya banyak tokoh inspiratif yang bisa difilmkan. Mereka yang mencintai sesama dan negeri ini melebihi cinta pada diri sendiri, yang jujur dan jijik pada korupsi, dan yang berani menyatakan kebenaran meski nyawa jadi taruhan. Melalui biopic, minat menonton warga bisa dimanfaatkan untuk memberi asupan inspirasi. Terutama kepada pelajar dan kaum muda.

Film-film biografi produksi Indonesia antara lain Mustika Ibu (1976), R.A. Kartini (1982), Tjut Nya’ Dhien (1988), Gie (2005), Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji (2009), Sang Pencerah (2010), Surat Kecil Untuk Tuhan (2011), Soegija (2012), Habibie & Ainun (2012), Jokowi (2013), Sang Kiai (2013), Laskar Pelangi: Edensor (2013), Soekarno: Indonesia Merdeka (2013), Sokola Rimba (2013), Slank Ga Ada Matinya (2013), 3 Nafas Likas (2014), Merry Riana: Mimpi Sejuta Dollar (2014), Cahaya Dari Timur: Beta Maluku (2014), Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Jenderal Soedirman (2015), Athira (2016),  dan Mimpi Anak Pulau (2016). Di Sumatera Utara, seorang sutradara lokal, Askolani Nasution, menggarap Senandung Willem, sebuah biopic tentang Willem Iskandar.

Sebagai negara besar, jumlah tersebut terbilang kecil. Indonesia bahkan belum punya biopic Usmar Ismail, Bapak Film Nasional, yang lahir hari ini 96 tahun lalu (20 Maret 1921).

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Ekonomi Kreatif dapat mengajak produser dan production house (PH) berembuk dalam memproduksi biopic. Jika tiap PH bersedia memproduksi satu biopic tiap tahun dengan dukungan pemerintah, warga punya banyak tontonan inspiratif. Apalagi jika gagasan bioskop rakyat yang pernah disampaikan Basuki Tjahaja Purnama terealisasi di seluruh Indonesia.

Biopic juga bisa menjadi media kampanye membaca dengan menampilkan adegan-adegan tokoh sedang membaca, mendiskusikan sebuah buku, dan bagaimana buku membentuk daya pikir kritis sang tokoh. Adegan-adegan tersebut mempengaruhi penonton menjadikan buku sebagai prioritas belanja bulanan dan membuat perpustakaan jadi tongkrongan idaman. (*)

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana