PILIHAN HEADLINE

Pilkada DKI 2017 Berpotensi Jadi Model Politik Pilkada Pancasilais

23 September 2016 23:23:05 Diperbarui: 25 September 2016 21:48:14 Dibaca : Komentar : Nilai :
Pilkada DKI 2017 Berpotensi Jadi Model Politik Pilkada Pancasilais
Tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur berfoto bersama di sela-sela pemeriksaan kesehatan di RS Mintoharjo, Jakarta, Sabtu (24/9/2016). (Istimewa)

Kita sudah terbiasa dengan hiruk-pikuk politik pilkada yang bising dan tanpa arah, liar dan mencabik-cabik persatuan, memprovokasi dan membunuh karakter, saling menjual kecap nomor satu, membajak agama, mengobral ayat-ayat suci, bahkan membajak nama “Yang Kuasa,” mengafirkan, meramu racun fitnah, serangan fajar, beli suara, dan berbagai praktek politik Machiavellian lainnya. Jauh dari edukasi politik, jauh dari kampanye cerdas, bahkan jauh dari keadaban. Intinya, jauh dari nilai-nilai Pancasila. 

Cara-cara seperti di atas, tak jarang ikut menyeret emosi massa dalam pusarannya lalu ikut-ikutan dalam hiruk-pikuk yang chaotik. Akibatnya, banyak anggota masyarakat menjadi apatis pada pilkada lalu memilih menjadi golput. Ada pula anggota masyarakat kritis yang mengambil posisi mengkritik, bahkan aktif melawan kampanye gaya kampunngan itu dengan berbagai cara.

Di atas kertas, ketiga kandidat paslon memiliki kelebihan masing-masing. Tidak tampak ada kekurangan atau keburaman yang menonjol dalam rekam jejak mereka, sedemikian sehingga berpotensi dijadikan “obyek kampanye negatif” lawan. Dengan “status relatif bersih” ketiga paslon yang maju di Pilkada DKI 2017, menurut saya merupakan kesempatan terbaik mengharapkan terselenggaranya kampanye-kampanye politik pilkada yang memberi edukasi kepada masyarakat Indonesia. Di mana ketiga paslon diharapkan akan fokus pada adu strategi dan program, bersaing dalam adu kecerdasan mengaplikasikan butir-butir Pancasila melalui kepemimpinan mereka bila terpilih memimpin Ibu Kota.

Sepintas Tinjauan Ketiga Paslon

Ahok-Djarot sebagai petahana sudah memiliki rekan jejak jauh ke belakang. Sejak anggota DPRD lalu Bupati di Belitung Timur, dilanjutkan dengan anggota DPR-RI, lalu wagub dan gubernur DKI, Ahok dikenal transparan, akuntabel, antikorupsi. Bicaranya ceplas-ceplos tanpa basa-basi. Demikian pula, Djarot yang sebelumnya telah dua periode menjadi bupati Blitar menorehkan prestasi dan kinerja yang mengagumkan. Duet mereka di DKI sejak Jokowi menjadi Presiden menunjukkan prestasi mengesankan dan mudah divalidasi. Meski dihantam berbagai isu SARA, dikeroyok oleh berbagai oknum maupun unsur DPRD DKI, DPR-RI, BPK, dan sebagainya, Ahok tetap tegar kokoh pada jalur prestasi dan pembuktian kinerja membangun DKI.

Paslon lainnya, yaitu Anies Baswedan, adalah cucu pejuang kemerdekaan, yaitu Abdurrahman Baswedan, intelektual dan pendidik profesional dengan ide-ide inovatof nan brilian, antara lain yang populer adalah program Indonesia Mengajar. Pernah menjadi rektor Univesitas Paramadina, lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di era Presdien Joko Widodo sebelum di-resuffle. Pada Pilpres 2014, ia sebagai jubir kampanye Jokowi-JK, dan berhasil memoles citra dan mengendalikan “arak-arakan kampanye” sedemikian sehingga jauh dari praktik kampanye nagatif, kampanye hitam. SARA dan sejenisnya yang kurang disukai publik. Hal yang justru dijadikan bagian dari “gaya kampanye” Tim Prabowo-Hatta yang terbukti lebih mengkreasi sikap antipati publik. Pasangannya, Sandiago Uno sejauh ini dikenal sebagai pengusaha sukses dengan modal finansial yang terandal untuk kepentingan pencalonan.

Paslon ketiga adalah Agus Harimurti Yudhoyono, adalah anak sulung dari Presiden keenam, Soesilo Bambang Yudhoyono. Ia menyandang Magister Science dari Nanyang Technological Univesrsity Singapura ini dikenal sebagai prajurit brlian yang kaya prestasi. Sebagai prajurit pernah bertugas di Aceh, dan juga Libanon Selatan. Pasangannya Sylviana Murni memiliki rekan jejak yang baik di birokrasi DKI, sehingga dipercaya oleh Ahok sebagai deputi gubernur DKI Bidang Kepariwisataan dan Kebudayaan. Sudah tentu, di bawah gaya kepemimpinan Ahok yang tuntutannya amat tinggi “serba prefect” tidak mudah mendapatkan kepercayaan menempati sebuah posisi strategis. Ini menggambarkan bahwa Ibu Silvi memiliki kredibilitas dan pengalaman yang terbukti sehingga patut diapresiasi.

Di balik sosok ketiga paslon, terdapat tiga tokoh politik yang sudah makan asam garam politik di negeri ini. Ahok-Djarot dengan Presiden Kelima, Megawati Soekarnoputri di baliknya. Agust-Silvi dengan Presiden Keenam, Soesilo Bambang Yudhoyono, dan Anies-Sandi dengan Prabowo Subiyanto di belakangnya. 

Ketiga tokoh nasionalis ini memiliki integritas cinta Tanah Air yang handal dan bisa diandalkan. Ketiga tokoh besar inilah yang menjadi kingmaker, coach, konsultan dan penasehat politik, bahkan pengarah, yang akan mewarnai berbagai skenario kampanye dan hal-hal substansial lainnya. Dengan kekayaan pengalaman dan idelologi nasionalisme yang kental, ketiga tokoh ini diharapkan memberikan pengaruh besar pada “gaya kampanye” Pilkada DKI 2017. Dengan itu dapat menghadirkan sebuah contoh pesta rakyat bermartabat dan kental semangat cinta Tanah Air serta membangun negeri, khususnya membangun Ibu Kota.

Pilkada Pancasilais

Sederhananya politik pilkada Pancasilais yang dimaksud adalah politik yang berkeadaban dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai acuan moral dan panduan tindaknya. Dalam artian, mulai dari proses Pilkada hingga output/outcome atau hasil akhir atau tujuan yang ingin dicapai semata-mata untuk merealisasikan tujuan negara dalam skopa DKI. Dengan kata lain, merealisasikan nilai-nilai Pancasila melalui program-program pembangunan di Ibu Kota. Sebab, pembangunan tidak lain merupakan instrumen untuk mewujudkan tujuan negara dengan Pancasila sebagai roh dasarnya.

Atas dasar di atas, dengan ditopang “rekam jejak serta orientasi” ketiga paslon, juga “garansi” ketiga kingmakers di baliknya, patut diharapkan sebuah kampanye yang diwarnai adu program, adu strategi, kemampuan berorasi untuk meyakinkan publik, serta adu rekam jejak dan hal positif-edukatif lainnya. Sebuah kampanye yang jauh dari black campaign, kampanye negatif, nuansa SARA, dan sejenisnya.

Dalam “gaya kampanye Pancasilais” ini, yang perlu dikendalikan adalah ketidakmampuan tim menahan godaan untuk kembali terjebak melakukan kampanye gaya lama. Semua itu kontraproduktif. Berdasarkan pengalaman, person-person dalam sejumlah partai politik biasanya tidak bisa tahan diri. Tidak hanya partai-partai berbasis Islam, melainkan juga oknum-oknum di parpol lainnya termasuk parpol berideologi nasionalis, sangat kerap melakukan kampanye zaman primitif itu. Faktor inilah yang ikut berkontribusi bagi “jatuhnya” salah satu paslon.

Bagaimana pun kita patut berharap, semoga para tim kampanye dan masa pendukung dapat dikendalikan oleh ketiga paslon serta “ketiga jenderal pendukungnya” sedemikian sehingga kampanye pilkada DKI 2017 benar-benar berjalan sesuai dengan idealisme kita. Lalu, menjadi model bagi politik pilkada di negeri ini, sekarang dan di masa depan. Semoga!

Salam Kompasiana!

Semuel S. Lusi

/semuellusi

TERVERIFIKASI

Belajar berbagi perspektif, belajar menjadi diri sendiri. belajar menjadi Indonesia. Belajar dari siapa pun, belajar dari apapun! Sangat cinta Indonesia. Senang travelling, sesekali mancing, dan cari uang. Hobi pakai batik, doyan gado-gado, lotek, coto Makasar, papeda, se'i, singkong rebus, pisang goreng, kapi kental dan berbagai kuliner khas Indonesia.
Selengkapnya...

Featured Article