Abdul Basir
Abdul Basir profesional

Mantan guru Biologi. Sedang aktif di dunia Startup. Penulis dan pencerita macam-macam.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi headline

Siapa Suruh Jadi Guru (Honorer)?

18 Mei 2017   20:09 Diperbarui: 19 Mei 2017   16:13 329 6 5
Siapa Suruh Jadi Guru (Honorer)?
Ilustrasi. Ratusan Guru honorer K2 melakukan aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (10/2/2016)

Di depan saya ketika itu adalah seorang bu guru. Kami sedang menghabiskan waktu luang mengajar dengan bertukar cerita di kantin sekolah. Atau lebih tepatnya, saya sedang menjadi pendengar yang baik untuk dirinya berkeluh-kesah tentang kondisi pekerjaannya sebagai guru. Beliau mengeluh karena status pekerja honorernya yang telah sekian lama, dengan harapan diangkat PNS yang tidak kunjung datang.

"Memang sudah berapa lama, Bu, jadi guru?" tanya saya di antara percakapan.

"Mau 15 tahun ini, Mr. Abas. Tapi, ya ga cuma di sekolah ini aja. Pernah di SMA anu juga," jawabnya

15 tahun, waktu yang cukup lama seorang guru berdedikasi? Tapi, di tahun itu saya juga pernah bertemu seorang bapak guru yang telah mengajar 25 tahun sebagai honorer berpenghasilan rendah, berangkat kerja dari Tangerang, dengan seorang anak yang membutuhkan perawatan kesehatan khusus

"Selama 15 tahun itu, Ibu bergaji segitu?"

"Waktu sekolah bayar sih mendingan, Mr. Abas. Sekarang-sekarang ini? Aduh. Harus banyak sabar."

Selama 4 tahun mengajar di sekolah negeri, saya memutuskan untuk tidak ambil pusing dengan segala per-PNS-an ini. Bisa juga dibilang saya tidak tertarik.

Konsep menunggu ketidakjelasan selama bertahun-tahun, dengan gaji secukupnya yang akan diberikan kepadamu, dengan peraturan yang dibuat untuk menunda-nunda dan memelihara harapan semu tidak masuk akal buat saya. Mendengarnya dari para pelaku pun tidak membuat saya tergugah.

Coba deh, 15 tahun, berangkat pagi pulang sore, menikmati terik, berpayung hujan, mengajarkan subjek yang belum tentu para murid suka, dibebani pemeriksaan tugas dan ujian, lalu tetek-bengek administrasi, lalu di akhir bulan memaksakan diri tersenyum menerima amplop gaji sambil menyalakan ulang harapan untuk bulan depan dan bulan-bulan selanjutnya.

Gaji mereka lebih rendah dari gaji buruh pabrik ?
Gaji mereka lebih rendah dari gaji buruh pabrik ?

Yang kadang membuat saya jengah dan memilih menghindar adalah ketika guru honorer, yang setelah bertahun-tahun menunggu, akhirnya mengeluh, mulai marah, mulai menyalahkan sistem, pemerintah, dan orang-orang yang mempersulit kondisi mereka Lah? Kan sedari awal kondisi guru perhonoreran tidak dibuat sembunyi-sembunyi? Bisa dibaca di koran, bisa dilihat di televisi, bisa ditelan bulat-bulat dari curhat para kolega. Lah kok bisa setelah segala faktanya terbeberkan, diketahui dengan gamblang, kok masih ngeluh ga PNS - PNS? Kok yo ngeluh sama status honorernya? Kok yo protes setelah jadi guru?

Pernah saat ada beberapa guru Biologi magang di sekolah kami, pada sarjana segar, para fresh graduate itu, saya bertanya, "Kalian kenapa mau jadi guru sih? Kan gajinya kecil lho. Mending kerja di bank tau." Saya masih saja mendapatkan jawaban-jawaban klise seperti pengabdian, cita-cita, atau minimal senang mengajar. Sungguhkah itu jawaban yang akan kalian pelihara di tahun-tahun ke depan?

Karena kamu menunggu gaji dan tunjangan PNS? Karena kamu berharap dari nominal jaminan uang pensiun PNS di akhir karier? Hah? Sungguhkah? Tidakkah sesi Matematika dasar di kampus mengajarkanmu sesuatu? 

Coba bayangkan seandainya pada waktu-waktu menunggu itu kamu bekerja di tempat lain, pernah berhitung berapa yang seharusnya kamu dapat? Atau bagaimana jika dengan keberanianmu kamu mulai berwirausaha? Sudah berapa besar yang kamu bangun? Tidakkah tebersit bahwa ada setidaknya, sedikit kesia-siaan di masa mudamu dengan menjadi guru hanya untuk mengeluh di kemudian hari?

Para guru harusnya sadar dan mawas diri. Bahwa tidak ada konsep kesejahteraan dalam profesinya. Bersama mereka adalah para perawat, dokter, polisi polisi, dan tentara.

Berkelakar. Saya malah menyarankan agar ada kesadaran kolektif untuk para calon mahasiswa keguruan agar membatalkan saja niatnya menjadi guru. Agar para lulusan UNJ, UPI, dan sebagainya berhenti mengorbankan masa muda mereka pada sekolah-sekolah negara yang pemerintahnya tidak mampu membayar harga dari ilmu dan dedikasi.

Biar. Biar saja kelas-kelas itu kosong dari hadirnya guru. Biarkan saja sudah negara ini jadi susah karena tidak ada yang mendidik anak-anaknya. Tidak ada lagi yang membangun karakter mereka saat di sekolah.

Bahkan presiden dan para menterinya pun sampai di sana karena urun peran kamu. Biar kamu bisa balik kesetimbangan menuju kalian. Biar tidak perlu lagi ada calon guru. Biar kesusahan negara ini membuatnya memanggilmu dan kawan-kawan seprofesimu satu-satu dengan panggilan yang lebih baik.

Jika kamu sudah sadar karena besarnya peran diri kalian itu, 1.5 juta, 900 ribu, apalagi 400 ribu sebulan bukanlah harga jasa dari kamu dan kawan-kawan. Keluarlah sekarang dari sekolah. Atau ternyata kamu masih berharap untuk hidup dari limpahan pahala dan bualan tanpa tanda jasa? Ya sudah, kamu sajalah ya.

Ditulis oleh Abas. Tahun ke-8 terlibat di dunia pendidikan. Berpengalaman 4 tahun mengajar di sekolah negeri.

Bersama rekan guru berfoto sehabis upacara peringatan Hari Guru
Bersama rekan guru berfoto sehabis upacara peringatan Hari Guru

Tulisan ini sebelumnya telah terbit pada blog www.abdulbasir.id