Mohon tunggu...
Saumiman Saud
Saumiman Saud Mohon Tunggu... Administrasi - Pemerhati

Coretan di kala senja di perantauan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Abigail, Wanita Cantik Si Penakluk Hati

6 Mei 2017   03:26 Diperbarui: 6 Mei 2017   21:30 648
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Link Foto : http://newlife.id.au/espanol/abigail-una-mujer-de-la-biblia-bella-y-con-cerebro/

ABIGAIL, WANITA CANTIK SIPENAKLUK HATI

           Kenapa ada banyak orang yang terpengaruh hasutan atau ajakan atau entah apa itu sehingga sampai detik artikel ini ditulis masih saja tidak sadar tetap saja menuntut kemauan sendiri untuk menghancurkan kehidupan orang yang nota bene sudah jelas-jelas tidak ditemukan kesalahannya.  Apa yang ditakutkan dari orang itu sebenarnya? Sadarlah saat ini bukan lagi waktu untuk menciptakan suasana tidak menyenangkan. Susah saatnya kita bekerja, kita cari makan, kita tidak ingin menonton dagelan yang disengajakan dan direkayasa. Sangat kasihan sekali karena sepuluh ribu lebih petugas keamanan harus menhgalihkan konsentrasi mereka untuk tugas tambahan supaya menjaga orang-orang yang belum sadar diri ini supaya tidak bertingkah tanpa berpikir.

            Orang yang berhikmat dan berpendidikan serta berpengalaman tentu tidak memberikan keputusan yang sembarangan, keadilan tidak bisa diganggu-gugat dan dibeli, keadilan dan kebenaran tidak pernah takut pada ancaman. Jikalau hampir semua pihak yang berkompeten telah tidak menemukan kesalahan seseorang, maka mengenapa kita harus menjadi orang yang membabi-buta hendak menghukum orang tersebut? Pemeriksaan yang berlangsung setengah tahun lebih ini tentu bukan acara main-main, hal ini menyanhgkut nyawa, masa depan dan reputasi. Jikalau memang dengan cara kita memaksa kehendak dapat  dapat mengubah  keputusan, ngapain seseorang harus diperiksa berbulan-bulan? Hal itu menghabiskan biaya, nghabiskan waktu dan sia-sia. Jadi maunyanya apa lagi? Janganlah kelewatan menjadi seorang manusia, apalagi banyak diantara kita mengaku sebagai orang ber-Tuhan, praktek keagamaan lancar maka tidak seharusnya kita berbuat demikian.

          Kita tidak perlu berkata membungkus dengan acara damai, padala isinya adalah  tuntutan untuk kemauan sendiri. Buktinya juga ada banyak orang yang merasa resah dan terganggu dengan tinmgkah seperti ini. Jikalau damai ya memang betul-betul itu damai, kenapa harus menuntut ini dan itu? Kapan negari kita membangun? Kapan negara kita maju? Jikalau saban hari disibukkan dengan kegiatan yang tidak berguna.

          Kenapa ada kesan seakan-akan keadaan ini dibiarkan begitu saja. Nampaknya orang-orang takut pada mereka yang memaksa kehendak. Ada siapa dibelakang mereka? Apakah pemerintah masih ada? Bayangkan saking ngototnya mereka yang memaksa kehendak ini, bahkan ada seorang tokoh berpendapat bahwa, jikalau orang yang dianggap saalah namun  tidak kedapatan kesalahan dan tidak dihukum, maka saya yang akan turun tangan katanya? Ada lagi yang ngomong, pokoknya orang itu harus disalahkan, kalau tidak nanti dia bisa mendapat kedudukan lagi yang baru?. Sampai begini! Penulis hanya bisa bingung dan mencoba untuk temukan jawabannya?

          Ingatlah teman, penyesalan itu selalu munculnya terlambat. Ada banyak masalah yang jika mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, maka kita akan rugi; karena kita akan malu sendiri. Ketika raja Daud mendengar bahwa Nabal itu sedang panen bulu domba, maka ia mengutus orang-orangnya ke Karmel.  Maka Daudpun berpesan ini kepada Nabal “

"Semoga TUHAN memberkati engkau serta keluargamu, dan melipatgandakan harta bendamu.

Aku mendengar bahwa engkau sedang menggunting bulu domba. Selama gembala-gembalamu berada di tengah-tengah kami di Karmel, kami tidak pernah mengganggu mereka atau mengambil apa pun dari mereka.

Tanyakan sendiri kepada mereka apakah hal ini benar atau tidak. Sekarang aku telah mengutus orang-orangku untuk meminta sedikit bagian, karena kami datang pada hari raya yang penuh kegembiraan. Berilah kepada kami, hamba-hambamu dan anakmu Daud, apa saja menurut kerelaanmu. ( 1 Samuel 25: 6-8)

Namun rupanya apa yang dipesankan oleh Daud tidak diindahkan oleh si Nabal,  katanya begini :

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun