Satyadhiswara
Satyadhiswara NyuPir AngKot

Tinggal di Bantul. Anak jaman (Jawa-Mandailing) dan pujakesuma (putra Jawa kelahiran Sumatera).

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Antara Immanuel Kant, Si Budi, dan Pikirannya

13 September 2017   20:12 Diperbarui: 13 September 2017   20:24 104 1 0
Antara Immanuel Kant, Si Budi, dan Pikirannya
Sumber Gambar: magz.shoutnet.co

Sebuah pemikiran jika tanpa fundamen, tentu tak akan pernah menemukan ujung atau konklusi. Memang, ketika seseorang memilih berpikir berdasarkan spekulasi, maka dia tak akan menemukan konklusi yang pas, "yang enak" buat dijelaskan.

Akhirnya, sebuah pemikiran menjadi ngubeng-ngubeng kesana-kemari tanpa kejelasan.

Dan yang namanya pemikiran, pastinya tak selalu sama antar satu bangsa, satu waktu, dengan suatu konstelasi tertentu.

Banyak hal yang mesti dipikirkan di dunia ini. Tapi pastinya apa yang dipikirkan mesti memberikan manfaat bagi orang lain. Apa sih memangnya yang mesti kita pikirkan? Begitu banyak aspek yang mempunyai problematikanya masing-masing, masak tak ada yang terpikirkan di kepala kita?

Di satu sisi, kita mengetahui bahwa begitu banyak pemikir-pemikir handal yang daya pikirnya begitu mendalam. Sayangnya lantaran begitu mendalam pemikirannya tersebut, yang bisa memahami cuma sebagian kecil orang. Itu pun kadang subjek pemikirannya bukan lagi sesuatu yang penting lantaran tak kompatibel dengan permasalahan aktual.

Memang, ini bukan lagi saatnya kita memikirkan persoalan akal budi sebagaimana dibahas secara komprehensif oleh si om Immanuel Kant, melainkan bagaimana supaya si Budi mau menggunakan akalnya di saat kita berada dalam krisis berpikir atau indolensi semacam ini. Di sekitar kita masih banyak yang membutuhkan pengetahuan primordial, dan kita tak pantas bicara soal epistemologi. So... apa kita harus menulis sendiri dan membaca tulisan kita sendiri dengan pokok bahasan yang tak kompatibel macam tadi? Dalam kata lain, permasalahan pikir berpikir masyarakat kita memang belum sampai pada tahap setinggi itu, lantaran untuk mau berpikir pun kita masih malas.

Lagipula, suatu pemikiran itu belum tentu akan berujung walaupun begitu canggih atau begitu dalamnya seseorang berpikir. Tak usah merepotkan diri segala. Sekarang ini kita butuh yang sederhana, yang mudah dicerna dan konklusif yang itu bisa diterima oleh masyarakat umum. Bukan suatu yang ribet, yang teoritis, dan hanya sebagian orang yang bisa memahami.

Sekali lagi, permasalahan kita memang berbeda pada setiap waktunya. Tiap bangsa memiliki permasalahan tersendiri; apakah itu pada tahap intelektual tinggi atau pun rendah. Ketika di luar negeri sana konstelasi pemikiran manusianya sudah sedemikian maju, beda dengan kita dimana subjek sehari-hari obrolan kita belum seperti di sana. Makanya saya agak hati-hati ketika ngobrol dengan seorang teman, walaupun dia seorang mahasiswa atau sarjana sekalipun. Bukannya apa, karena saya tak lagi heran kalau masih ada mahasiswa-mahasiswa yang tak bisa diajak bicara soal kebangsaan, kemanusiaan, kebudayaan, keagamaan, maupun permasalahan-permasalahan semisalnya. Walaupun saya ya masih juga terheran-heran, kok bisa begitu keadaannya.

Tapi memang begitulah kondisinya. Ada yang menggunakan akal pikirannya dengan baik, dan ada juga yang tidak. Ada yang begitu keras berpikir untuk perubahan suatu bangsa, dan ada pula yang masih tak peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ada yang masih mencari nilai-nilai moral untuk diimplementasikan pada masyarakatnya, dan ada pula yang mengabaikan nilai-nilai moral (agama) itu padahal sudah jelas-jelas di depan mata.

Ah, barangkali ini juga soal iklim. Iklim di Indonesia ini kan bikin kita selalu santai? Tuhan sengaja membuat hidup kita merasa tenang, teduh, adem ayem, sehingga kita lalai bahwa hal itu melenyapkan kegelisahan pikiran. Ya, ini karunia dariNya. Tapi juga bukan berarti kita mesti malas berpikir, karena akal nalar ini juga karunia yang mesti dipakai.[]