Humaniora highlight

Menjadi Indonesia Itu Kita

14 Agustus 2017   10:12 Diperbarui: 14 Agustus 2017   10:23 35 1 0

Menjadi Indonesia itu mudah. Cukup meng-Indonesia saja dalam keseharian dan menjalankan segala sesuatunya secara proporsional. Sesuatu yang terlalu katanya tidak begitu baik untuk dilakukan. Tentang menjadi Indonesia, kita pasti sering menemukan perjalanan cerita-cerita orang disekitar kita yang membuat dahi jadi kerut. Karena kadang ujung cerita yang awalnya cukup menarik mulai tidak proporsional. Oke, sekarang kita bahas. Ayo menjadi Indonesia!

Seorang teman datang kepada saya dan bercerita cukup panjang. Cerita tentang pengalamannya selama di luar negeri. Sebut saja Malaysia dan Singapura. Alur cerita yang awalnya sangat membuat saya tertarik dengan setiap fase-fase perjalanannya. Makan di tempat-tempat yang unik dan berbelanja khas negeri seberang, tidak lupa juga tentang wisata-wisata yang menarik. Gambaran ketiganya tentu sesuatu yang tidak ada atau tidak sama dengan negerinya sendiri, Indonesia tanah air kelahirannya. Nuansa cerita yang disampaikannya saya bisa menangkapnya dengan baik, ya ada rasa decak kagum dengan keberbedaan situasi dan kondisi yang ada. Akhirnya perbedaan itu semakin mencolok sampai pada cerita akhir yang disampaikan menyinggung karakter manusia Indonesia. Untuk bagian ini saya mulai mengerutkan dahi sesekali dan menatap tajam matanya.

Satu lagi seorang sahabat datang dan kita berkumpul. Tidak beda, cerita dari masing-masing saling melengkapi. Perasaan senang dan sedih turut di meriahkan dalam berbagi cerita itu. Salah satu dari kita baru saja pulang dari Praha dan Rusia. Cerita tentang kedua kota itu menjadi sangat sesuatu sekali karena ingin mengetahui gambaran umum negara itu. Hal sama pun terjadi, pembicaraan mengarah kepada keberbedaan yang berujung pada pembedaan terhadap negerinya sendiri, Indonesia tanah air kelahirannya. Puncaknya adalah menyinggung karakter manusia Indonesia. Untuk bagian ini saya tidak berbeda sikap, tetap mengerutkan dahi sesekali dan menatap serius matanya.

Apakah ada yang salah dengan penilaian terhadap bangsa lain? Apakah keliru penilaian yang berujung membandingkan dua kondisi negara yang jelas beda dengan segenap kelebihan dan kekurangannya? Maka saya jawab, tentu tidak. Lantas jika ada kesalahan atau kekeliruan itu berada di bagian yang mana? Maka saya jawab, tentu pasti ada kesalahan atau kekeliruan yang perlu diluruskan. Tahukah kita? Semakin kita membeda-bedakan maka akan semakin terlihat jarak diantara keduanya. Dan mata kita akan sulit melihat kesamaan karena telah terjebak dengan rasa kagum. Selama kita mengagumi sesuatu (positif) tentu akan berbanding lurus dengan sulitnya melihat sisi yang negatif, dari sini kita sudah tidak lagi proporsional dalam berpikir.

Saya paham, berwisata atau berkegiatan khusus di luar negeri selalu memberikan makna tersendiri dan kebanggaan. Dan itu wajar serta tidak masalah karena memang manusia hakekatnya membutuhkan rasa bangga dalam hidupnya. Tapi, jangan lupa darimana kita berasal dan darimana kita dilahirkan. Untuk apa? Untuk tahu diri bahwa dimana kita dilahirkan kita telah 'dibebankan' dengan tanggungjawab moral dan sosial. Seburuk-buruknya dipandangan kita tentang negeri tercinta, tentu tindakan membanding-bandingkan dengan negara maju tidaklah adil atau proporsional. Pencapaian negara kita tidaklah sama, terlebih negara kita masih 'dianggap' sebagai negara berkembang dibanding negara eropa di luar sana dengan kemajuan teknologinya. Meskipun jika dilihat lebih saksama, Indonesia lebih layak disebut sebagai negara maju. Lihat saja potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah hari ini. Kita hanya sedang tertidur dan memang dibuat tertidur pulas. Entah sampai kapan tidur panjang ini berakhir. Ya,orang-orang Indonesialah yang membangunkannya sendiri, tapi sayang masih jauh dari harapan dan masih terus berpangku tangan. Orang-orang seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang mendedikasikan dirinya bagi perjuangan bangsa ini belum mengilhami banyak manusia Indonesia. Orang-orang seperti Ki Hajar Dewantara dan Tan Malaka yang menghibahkan dirinya bagi perjuangan bangsa ini juga belum mengilhami banyak manusia Indonesia. Justru kita saat ini sering dibuat ribut sesama anak bangsa perihal kue kekuasaan yang ditarik sana-sini. Bagaimana ingin membangunkan macan tidur ini (Indonesia --red)?

Menjadi Indonesia itu kita. Cerita tentang nikmatnya makanan bangsa lain akibat perjalanan bahagia di suatu kota. Cerita tentang kagum akan alam bangsa lain akibat perjalanan seru di suatu kota dan cerita lain-lainnya yang tidak habis jika dibahas dalam satu hari satu malam saja. Tapi, ingat satu hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan seorang anak bangsa terhadap bangsanya sendiri. Menghina, mencibir, dan membenci bangsanya sendiri (Indonesia-red) dengan dasar perbandingan bangsa lain. Kita hanya belum mengenal Indonesia lebih jauh. Indonesia yang luas dan terbentang dari sabang sampai merauke, sudahkah kita menjelajahnya penuh? Tentu belum. Artinya, kita masih akan terus mengenal Indonesia dan menjadi Indonesia. Kita punya karakteristik manusia yang membanggakan, apa itu? Semangat gotong-royong dan keramahan yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Tapi, hari ini semangat itu perlahan mulai terkikis oleh roda zaman. Iya, kita pelan-pelan terbawa dengan budaya dan gaya hidup orang-orang luar yang tinggal di Indonesia atau melalui tontonan-tontonan yang mengubah jati diri kita sebagai orang Indonesia. Dengan dalih mengikuti trend akhirnya banyak yang melupakan siapa dirinya. Bagaimana ingin menjadi Indonesia kalau seperti ini?

Tantangan untuk tetap menjadi Indonesia itu berat. Lingkungan sosial sudah beralih dan gandrung pada kebarat-baratan. Iya, saya paham sekarang kita berada di era globalisasi dimana semuanya suka atau tidak suka akan mengacu pada standard global. Tapi, apa segala sesuatunya ditempatkan pada standard global? Bahasa keseharian yang bercampur aduk dengan bahasa Inggris. Kecenderungan makanan asing yang lebih diutamakan. Cobalah tengok sebentar saja di lingkungan kita, berapa persen makanan khas tradisional Indonesia menempati tempat yang cukup bergengsi. Jawabannya yang ditemukan adalah lebih ramai makanan asing karena itu tadi lebih memiliki gengsi. Kearifan lokal atau lokalitas sudah kehilangan tempat di negerinya sendiri. Tidak mendapatkan rasa bangga lagi dari manusia-manusianya. Jadi, wajar saja jika kecintaan terhadap Indonesia ini semakin hilang. Setiap orang mungkin bisa berucap," Aku cinta Indonesia", tapi tahukah kita? Cinta adalah kata kerja maka perlu diwujudkan dalam perilaku atau tindakan nyata. Bagaimana ingin menjadi Indonesia kalau seperti ini?

Menjadi Indonesia itu kita. Tidak perlu menjadi seperti bangsa lain. Bangsa ini memiliki khasnya sendiri dan anak-anak bangsanya sendirilah yang lebih tahu untuk bagaimana. Jika hari ini rasa cinta kita terhadap Indonesia belum begitu kuat mungkin itu pertanda kita belum mengenal Indonesia. Bagaimana memupuk rasa cinta untuk Indonesia? Baca dan pahami perjalanan sejarah bangsa ini. Maka bisa dipastikan bagi kita, tidak akan pernah ada keinginan untuk membenci atau mencibir permasalahan yang dialami saat ini, kecuali terus berpikir dan berkontribusi memberi sumbangsih nyata. Silahkan bepergian dan menuntut ilmu atau sekedar berwisata di luar negeri ini, tapi kembalilah dengan membawa inspirasi bukan membawa cerita-cerita yang mereduksi rasa cinta dan bangga sebagai manusia Indonesia. Bagaimana ingin menjadi Indonesia kalau seperti ini? Menjadi Indonesia itu kita!