PILIHAN HEADLINE

Karma Politik Itu Takhayul?

20 April 2017 06:40:38 Diperbarui: 20 April 2017 13:21:00 Dibaca : 1448 Komentar : 1 Nilai : 4 Durasi Baca :
Karma Politik Itu Takhayul?
Presiden PKS Sohibul Iman (kiri), Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto (dua kiri), calon gubernur DKI nomor urut 3, Anies Baswedan (dua kanan) dan pasangannya, Sandiaga Uno, di Kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Rabu (19/4/2017). Quick count lembaga survei untuk putaran kedua Pilkada DKI Jakarta mengunggulkan pasangan ini atas Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat.. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Misteri Roberto Mancini menendang Joerome Boateng dari klub Manchester City pada Musim Liga IPL 2010 lalu tentu menjadi tanda tanya besar buat para pendukungnya saat itu. Kok bisa ya, di kala timnya keropos pada di lini pertahanan dan tertatih-tatih menjalani kerasnya kompetisi IPL, lalu tidak memanfaatkan skill Boateng yang mendunia pada saat itu. Nyaris, Boateng hanya bermain 16 kali saja membela City pada musim kompetisi itu. Sebelum akhirnya ditendang dari City dan dipungut Bayern Munchen dan membawanya ke German pada tahun 2011.

Seketika itu, bim salabim Boateng menjadi perkasa bersama Munchen dengan mengantarkan Munchen menggondol 3 gelar Bundesliga dan sebuah gelar liga Champion. Bahkan Boateng siap all out bertanding dengan mantan klubnya City itu di turnamen liga Champion. Entah kita mau sebut apakah fenomena ini? Pengkhianatan Boateng-kah atau Karma buat City?

Fenomena dalam dunia bola saya anggap sama seperti apa yang terjadi di dunia politik saat ini. Mungkin saja Boateng merasa sakit hati dan menjadi bersemangat untuk membuktikan bahwa diirinya tak layak dicopot atau diabaikan pada masa lalu, atau memang ada masalah lain di luar konteks, yakni masalah pribadi dengan pelatih saat itu, hanya Mancini saja yang tau ya.

Menarik bagi saya, menganalogikan Anies Baswedan dan Boateng yang sama-sama memiliki pengalaman ‘terbuang’ dari tempat dan komunitas yang dulu mereka cintai. Serta Jokowi dan Mancini, dalam mengambil keputusan untuk mengakhiri kinerja pemain mereka dengan waktu yang singkat. Di mana semua orang tau, sosok Anies adalah sosok yang mumpuni dalam sektor pendidikan yang menjadi wilayahnya. Dan pula Boateng yang merupakan bek tengah yang tangguh saat itu.

Ceritanya

Dan suatu hari, Prabowo dengan jubah Gerindra bersama teman akrabnya PKS mengambil dan memoles serta melatih Anies Baswedan hingga akhirnya dapat memberikan permainan yang cantik dan dapat menjebol gawang lawan politiknya ‘Ahok’ dengan skor telak. Meski banyak pameo yang beredar bahwa permainan ini tidak layak tanding, di mana Ahok yang sebenarnya dibekap cidera berat atas kasusnya, harus dipaksa bermain dalam waktu dua putaran.

Jika di sepakbola, melihat lawan dengan posisi cidera, sebenarnya lawan harus bertindak fair play dengan tidak melanjutkan permainan sementara meski tuntutan pokoknya harus menang dari pendukung itu massif dan nyata. Tapi ini berbicara politik kan, bukan bola? Justru dalam dunia politiklah, celah atau kesalahan apa pun itu, kelemahan lawan sekecil apa pun bisa berbuah gol bunuh diri dan mengakhiri kompetisi Pilkada Jakarta dengan skor sementara 42 – 56. Dalam hal ini, tentu semua intrepetasi mengenai dinamika politik menjadi berbeda, dan menjadi benar semua jika berkaitan dengan pro dan kontra. Apakah itu sebuah pengkhianatan atau sebuah karma bagi PDIP Cs?

Karma Itu Adil?

Jangan tanya bagaimana rasanya menelan kekalahan pada kontestasi politik kepada pihak yang kalah. Pasti, Pak Prabowo, Ust Hidayat Nur Wahid, Amin Rais, atau Ahmad Dhani sudah pernah menelan pahitnya rasa itu. Pahit dan sakit pastinya kan? Karena itu adalah pengalaman pertama kalinya bagi mereka. Namun, bagi Pak Ahok, sakitnya tak separah dahulu waktu pertama kali kalah berkontestasi pada Pilkada Belitung. Resep obat untuk menghentikan rasa sakit itu sederhana saja, mencoba untuk move on berlatih dan kembali pada makna demokrasi sesuangguhnya dan lapang dada menerima kekalahan. Resep itu sederhana, namun kadang hanya di bibir saja, kala hati juga belum tentu bisa menerimanya.

Bagi Anis-Sandi, kemenangan ini akan membawa mereka memimpin Jakarta 5 tahun ke depan. Namun, dukungan kisaran 55% rakyat Jakarta tak lantas memudahkan jalan mereka memimpin Jakarta. Anis-Sandi bisa saja akan merasakan kesusahan yang dialami pemerintahan Jokowi-JK pada awal masa pemerintahannya dahulu.

Rasa sakit hati Koalisi Merah Putih yang dipimpin oleh Gerindra waktu lalu, yang memiliki kursi lebih banyak dari Koalisi Indonesia hebat, tapi tidak memenangi Pilpres 2014. Kemudian, Koalisi Merah Putih berhasil merebut kursi-kursi pimpinan DPR/MPR yang seharusnya adalah jatah 5 besar pemenang Pileg 2014 seperti tradisi Pileg-pileg sebelumnya dengan cara politik pragmatis melalui perubahan UUD MD3 dengan cara voting tiba-tiba. Apakah ini jahat? Di mata politik, itu sah sah saja karena demokrasi hanya menginginkan angka mayoritas untuk mengubahnya dan titik.

Nah, betapa susahnya menjalankan kebijakan pada saat itu atau mungkin saat ini, bagi Jokowi-JK dengan kuncian hak budgeting mereka. Atas nama ‘cek and balancer’ sebagai tugas DPR akan menjadi daya tawar mereka dalam menentukan kebijakan bersama dan mau tidak mau kebijakan bagi-bagi kursi yang sebelumnya haram bagi Jokowi-Jk menjadi halal.

Setidaknya akankah ‘karma’ ini terjadi lagi pada pemerintahan Sandi-Anis di mana koalisi gemuk PDIP-Nasdem-Golkar-Hanura-PPP-PKB yang berjumlah 68 kursi dan mayoritas di DPRD DKI akan kembali menyulitkan dan mengunci kebijakan Anis-Sandi seperti pemerintahan Ahok? Fenomena itu lagi-lagi menjadi tafsir bebas apakah ini sebuah karma politik bagi Gerindra? Atau juga rasa sakit hati koalisi paslon Badja?

Bisa jadi, apalagi kepentingan di 2019 pun menjadi pertimbangan dalam menjegal kepemimpinan Anis-Sandi. Apakah 55% rakyat Jakarta akan membela Sandi-Anis atas perlakuan anggota DPRD DKI? Jawabannya belum tentu, namun dinamika itu pasti ada. Ormas-ormas merekalah yang mungkin akan bertugas dalam melakukan berbagai aksi jalanan kembali. Namun, segala macam aksi pun akan merugikan pihak eksekutif dalam melancarkan roda ekonomi selanjutnya. Dan inilah kegemaran semua elemen oposisi.

Karma memang kejam, sekejam politik bermain. Poltik selalu penuh dengan puji dan caci. Jika tidak lihai berpolitik yang ada adalah sakit hati ataupun jumawa menafsirakan puji dan caci dalam setiap manuver politik.

Dan akan banyak inspirasi dari Pilgub Jakarta ini bagi saya. Pilgub Jakarta bagi saya sebuah kelas inspirasi yang menghadirkan inspirator Bang Anis dan Ahok. Pilgub ini mengajarkan kepada kita bahwa kata-kata bijak itu memang perlu dijaga. Semua hal yang keluar dari mulut pelayan daerah harus mengutamakan kesopanan dan dramatisasi tentunya. Masyarakat kita masih melihat itu dalam menilai itu untuk memberikan penilaian positif. Sehingga bagi anak-anak kita yang memiliki cita-cita menjadi pelayan publik seperti kepala daerah bahkan presiden, poleslah dahulu tampilan luar yang meyakinkan. Soal tampilan dalam biarlah menjadi rahasia kita dengan Tuhan. Dan Bang Anis paling cocok untuk saat ini di mata rakyat Jakarta menjadi pelayan eksekutif disana, menurut saya.

Dan sebaliknya, yang mempunyai sesorang ataupun anak kita memiliki sifat tegas dan kasar dalam hal positif, blak-blakan dan tanpa basa-basi mungkin lebih cocok menjadi pelayan publik di legislatif ya. Karena debat adalah skill utama yang dibutuhkan di parlemen. Menurut saya akan jadi aneh jika anggota dewan adalah seorang yang lemah lembut dan irit bicara. Ah, mungkin Koh Ahok harus menjadi anggota dewan saja lagi, untuk memastikan semua produk kebijakan pemerintah menjadi layak dieksekusi.  

Ah, mempercayai karma memang tidak ada salahnya. Urusan percaya apa tidak, tergantung pada masing-masing individu. Untuk menghindari karma mungkin salah satunya, harus memperhatikan dan memfilter semua tinduk-tanduk kita selama bersosialisasi kepada semua umat manusia di muka bumi ini tanpa adanya unsur RASIS tentunya. Saya iyes soal itu!

Aal Arby Soekiman

/satria_aal

TERVERIFIKASI

I am a full time father, just a part time blogger
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana