HIGHLIGHT

Refleksi dari Seorang Anak Penerima Pesangon Pensiun Dini

26 Juni 2011 05:18:03 Dibaca :
Refleksi dari Seorang Anak Penerima Pesangon Pensiun Dini
Jagoanku, teruskan perjuangan ortumu (Dok. Pribadi)

“Mutasi, pensiun dini, atau merumahkan seseorang harus dengan alasan matang sebab PNS juga manusia. Tidak bisa sewenang-wenang PNS dipensiunkan dini, lagipula ini baru wacana informal, kami belum diajak bicara secara formal.” (Tasdik Kinanto, Sekretaris Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi).

Pendapat Beliau  yang penulis kutip dari KOMPAS tanggal 25 Juni 2011, membuka kembali kenangan lama. Tahun 1992 tatkala penulis masih duduk di kelas III SMP, orangtua penulis (Bapak) dalam usia 50 tahun, dipensiunkan secara dini (restrukturisasi) oleh PT Timah yang saat itu di nakhodai oleh Kuntoro Mangkusubroto. Ibarat kapal yang kelebihan muatan (karyawan), maka sebagian muatan mesti diturunkan agar tidak mengganggu laju kapal, mungkin demikian pertimbangan Beliau yang saat  itu  menduduki  jabatan Direktur Utama.

Keputusan itu dalam kacamata/tinjauan  manajemen menuai  keberhasilan  dan diakui pakar manajemen modern sebagai salah satu best practice yang kemudian ditiru oleh BUMN lain (antara lain PT Telkom). Namun tidak demikian halnya dari tinjauan sosiologis apalagi psikologis.  Kebijakan merumahkan karyawan dan selanjutnya karyawan  tersebut  dipensiun-dinikan menuai  trauma berkepanjangan  tidak saja  kepada eks  karyawan PT Timah  tapi juga  kepada anggota keluarga lainnya. Seperti ‘rumah domino’, satu kepingan domino  roboh, maka formasi rumah domino itupun hancur…roboh seambruk-ambruknya.

Betapa banyak eks karyawan PT Timah penerima pesangon yang  jadi penghuni rumah sakit jiwa, betapa banyak keluarga yang berantakan gara-gara ‘goncangan keuangan’ pasca habisnya simpanan uang pesangon, dan betapa banyak mahasiswa yang drop-out (DO) kuliah disebabkan putusnya subsidi dari orangtua, serta betapa banyaknya  jumlah  angka perceraian yang membuat terpisahnya anggota keluarga.

Penawaran pensiun dini lingkup  PT Timah kala itu,  ternyata tidak hanya ditujukan kepada karyawan berusia 50-55 tahun seperti wacana yang ditawarkan kepada PNS (Kementerian Keuangan) saat ini, tapi juga belakangan karyawan  PT Timah yang lain ( berumur 40-49 tahun) terkena pula kebijakan yang kurang manusiawi ini. Hanya dengan alasan ‘laju kapal’ perlu dipercepat lagi, jumlah penumpang/muatan juga mesti dikurangi secara signifikan, aset-aset kurang produktif segera dilepas dan dijual serta dialihkan kepada PEMDA. Tapi karyawan, mungkin karena  bukan dianggap sebagai aset, maka  berikan saja kompensasi berupa pesangon, habis perkara. Mungkin itu prinsip Manajemen PT Timah kala itu.

Singkat kata, Bapak menerima pesangon sekitar Rp20-30 juta (tahun 1992). Penulis yang baru saja lulus SMP dibelikan Bapak sepeda baru (model sepeda gunung), seperti janji Beliau manakala penulis berprestasi baik di sekolah (alhamdulillah, mendapat NEM tertinggi nomor 2 di SMP-ku). Dengan sepeda baru itulah, selama 3 tahun penulis ngumpil (gowes) sepeda dari rumah ke lokasi SMA Negeri favorit di kampungku yang berjarak sekitar 10 km (pergi-pulang), nun jauh di sana, di Bumi Laskar Pelangi (Pulau Belitung).

Ada sedikit perasaan iri manakala lihat rekan se-SMA kendarai motor baru pemberian ortu yang juga sama-sama terkena pensiun dini. “Gengsi dong…masa ortunya dapat ‘uang terkejut’, anaknya kok tidak dibelikan motor baru,” demikian sebagian ocehan tetangga yang tinggal tidak jauh dari Kompleks Perumahan PT Timah. “Ah…biar saja, mereka mungkin tidak berpikir jangka panjang. Kamu mau khan sekolah setinggi-tingginya?” Demikian ibu selalu menguatkan hati dan mentalku agar bersiap diri untuk kepentingan jangka panjang, demi masa depanku juga masa depan keluarga besarku.

Sesuai hukum alam, ada saatnya musim bergelimang harta dan ada pula saatnya bermuram-durja tiada berpunya. Begitupula eks karyawan PT Timah itu, tak terkecuali keluargaku. Ada yang sanggup bertahan 6 bulan, 1 tahun atau lebih, tergantung cara mengelola uang keluarga. Beruntung, ibuku seorang manajer keuangan ulung, ‘uang terkejut’ yang diterimanya tidak digunakan untuk foya-foya, tidak dihambur-hamburkan untuk hal yang sifatnya konsumtif tapi betul-betul dikelola untuk menambah modal kerja. Yah…di toko kelontong (Kedai Pak Long) itulah sebagian uang tadi dikonversi/berubah wujud menjadi barang dagangan. Sebagian lagi disimpan di Bank. “Jaga-jaga untuk biaya pendidikan kalian,” demikian pesan ibuku, sang manajer keuangan keluarga.

Toko kelontong itu bernama “Kedai Pak Long”, untuk mengingatkan orang bahwa yang punya adalah Bapakku (sebutan dalam budaya Melayu, “Pak Long” berarti Paman). Di kedai itulah, kami menempa diri, berlatih kesabaran, berlatih keuletan dan berlatih ikhlas jalani hidup ‘tuk kumpulkan sedikit demi sedikit rezeki yang diberikan-Nya demi meretas masa depan.

Bapak yang terbiasa duduk di belakang meja kantor dengan pakaian seragam mesti ikhlas berganti kostum singlet sederhana. Tak jarang ada kejadian lucu tatkala karakter serdadu muncul dalam dirinya manakala layani pelanggan. “Garang yang jual daripada yang beli, “ Begitu komentar sebagian pelanggan yang ngacir manakala Bapak kebagian tugas jaga toko. “Memang tidak mudah mengubah mental birokrat yang biasa dilayani menjadi melayani,” begitu pesan ibuku. Padahal kuncinya cuma satu “Tersenyumlah”, senyum akan membuat suasana hati riang, senyum ikhlas niscaya mengundang rezeki datang.

Tahun demi tahun berganti, kakakku yang nomor 1 telah tuntaskan pendidikan D I Kebidanan, diangkat sebagai PNS dan selanjutnya buka praktik bidan di rumah. Seterusnya giliran abangku, coba peruntungan jadi serdadu seperti profesi Bapakku sebelum pindah kerja ke PT Timah. Tes SECABA-MILSUK (Sekolah Calon Bintara- Militer Sukarela) dijalani tahap demi tahap dengan berhasil. Namun saat seleksi Pantuhir (Penentuan terakhir) di KODAM, Bapakku didekati seseorang agar jika mau lolos tes dan anaknya menjadi Sersan dua (TNI-AD) cukup setor Rp5 juta kepada oknum tersebut (tahun 1994). Bapak segera menampik halus, wong Beliau ‘cabut’ dari tentara dengan pangkat terakhir Koptu TNI-AD (kopral satu), salah satunya juga disebabkan di-dzalimi atasannya. Bapak mungkin tidak terbiasa ikut budaya WASKAT (WAjib Setor Ke ATas), sehingga dirinya jadi seperti ‘batu loncatan’ bagi junior di kesatuannya. Sudah diusulkan atasan ikut pendidikan lanjut, tapi yang berangkat malah orang lain.

Abangku ternyata kurang beruntung, Beliau tidak lulus SECABA. tidak tau sebabnya, apakah karena tidak mau setor jadinya tidak diluluskan. Dengan perasaan kecewa dan motivasi tidak sepenuh jiwa, abangku melanjutkan pendidikan ke Akademi Maritim di sebuah PTS di kota Semarang, dan diwisuda 4 tahun kemudian.

Tahun berikutnya (1995) penulis lulus SMA. Bapakku masih berkeinginan agar salah satu anak lelakinya ikuti jejak sebagai tentara. Penulis juga sudah di-pra kondisikan sejak SD selalu berpotongan rambut cepak ala tentara. Sejak SD, penulis selalu dipercaya teman sebaya jadi Ketua Kelas, mungkin karena mampu memimpin dan bisa membagi ilmu untuk rekan sekelas (maklum, penulis langganan juara 1 dan 2 di kelas). Namun sayang, terjadi insiden tatkala penulis duduk di kelas IV SD. Penulis jatuh dari pohon dan menyebabkan tangan kiri patah. Bapak dengan segala daya upaya coba sembuhkan tapi hasilnya tetap tidak sempurna…yang belakangan membuatnya tidak memaksaku agar jadi serdadu. Sulit rasanya lulus tes kesehatan jikalau fisik tidak sempurna…begitu Beliau berkata padaku.

Singkat kata, penulis mengadu nasib ikut tes UMPTN di kota Bandung dan alhamdulillah lulus di salah satu universitas yang berlokasi di Jatinangor. Selain ikut UMPTN, juga ikut tes di salah satu perguruan tinggi kedinasan di Jurang mangu (Bintaro-Tangerang). Berita lulusnya aku di UMPTN jadi kebanggaan orangtua di kampung, selamatan tanda syukur segera dilakukan. Beliau bahkan berkirim surat (curhat) berlembar-lembar kepadaku untuk menunjukkan Beliau bangga akan kelulusanku, dan ‘surat keramat’ itu masih aku simpan sampai saat ini…tulisan tangan khas Beliau dengan tanda tangan luar biasa besar (bukan SMS) seperti hubungan komunikasi terkini.

Baru satu minggu ikut penataran P4 di kampus baru, penulis kembali dapat kabar gembira. Alhamdulillah, penulis juga lulus di PT kedinasan yang tidak mengenakan biaya pendidikan kepada mahasiswanya (gratis…murah tapi tidak murahan). Ada sedikit keraguan, penulis lanjutkan di S1 (biaya besar, tanpa jaminan kerja) atau D3 (sekolah gratis, ada jaminan kerja). Sudahlah…penulis mantapkan diri ‘putar-haluan’, “balik kanan…jalan !” kemasi koper dan siapkan bekal mengadu nasib dan peruntungan di ibukota negara. Keputusanku didukung penuh orangtua apalagi kondisi keuangan keluarga sudah menunjukkan ‘siaga dua’.

Betul juga perkiraanku, tahun 1997-1998 KRISMON (krisis moneter) melanda, perekonomian stagnan bahkan mengarah ke resesi. Saat itu, penulis sudah duduk di tingkat III, subsidi ortu sudah makin berkurang karena kiriman uang tersedot untuk abangku yang belum tuntas selesaikan pendidikan. Penulis coba rundingkan, dan atas persetujuan orangtua, penulis setiap hari Jum’at s.d. Minggu siang, berangkat ke Cibinong ‘tuk cari tambahan uang kos dengan menjadi karyawan magang di suatu toko bakery (roti) milik family ibuku. Alhamdulillah, September 1998 penulis di wisuda D3  (dengan IPK 3,10 yg masuk  kategori  mhs berotak pas-pasan di kampus itu),  saatnya belajar kerja (magang) di kantor pemerintahan yang mengurusi anggaran negara di kawasan lapangan Banteng, sebelum penempatan kerja pertengahan November 1998. Tanpa uang jalan dan berstatus pegawai harian dengan upah Rp188.250,00 sebulan, penulis ditempatkan di kampung halaman…alhamdulillah.

Tahun berikutnya menjadi tahun perjuangan, baru bulan Mei 1999 SK pengangkatan CPNS di terima berlaku TMT 01 Maret 1999…artinya akan dapat uang rapelan. Tapi rezeki memang sudah ada kaplingan, adikku nomor 4 ternyata baru lulus SMEA dan berkeinginan juga kuliah seperti kakak dan abangnya. Jadilah uang rapelan itu, menjadi rezeki bersama. Tak apalah, “syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik...” Demikian lirik  lagu  penuh  makna nan bernas dari grup musik D’Masiv yg pas mewakili suasana hatiku saat itu.

Tahun itu juga (1999), setelah dapat izin pimpinan, penulis lanjutkan pendidikan S1 jarak jauh di satu-satunya PTN model pembelajaran mandiri, alhamdulillah lulus S1 pada Februari 2003. Lumayan, hasil belajar sendirian, berteman modul doang, dapat IPK  ber-yudisium sangat memuaskan (rangking 3, dengan IPK 3,20) di prodi manajemen dari sekitar 200-an wisudawan prodi tersebut yang berasal dari Sabang sampe Merauke, dari Miangas sampe Pulau Rote, he...3x.

13493389961558513075
Asyiknya snorkeling (Sumber : Dok. Pribadi)
Keberhasilan penulis tuntaskan S1, terus berlanjut hingga selesaikan  S2 tepat waktu di salah satu PTS  di kawasan Rawamangun (Februari 2008,  IPK 3,74 yudisium : Dengan Pujian), ternyata diikuti pula oleh adikku yang nomor 5 (bungsu). Tahun 2005, Beliau lulus S1 (3,5 tahun, wisudawan lulus tercepat) dan insya Allah, akhir Juli 2011 ini, kembali diwisuda menjadi lulusan Magister Bisnis di salah satu institut negeri di kota Bogor. Kembali kami nantikan tangis bahagia kedua orangtua (bapak umur 69 tahun, ibu 59 tahun), manakala ikut bersama anaknya hadiri upacara kebesaran wisuda. Ternyata tidak mudah mengelola uang pensiun dini, perlu disiplin, keteguhan hati, dan kerjasama dari segenap anggota keluarga agar komitmen maju bersama tetap ada. Peribahasa berikut ini mungkin tepat mewakili etos kerja dan semangat keluarga kami, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Bapak dan ibuku, contoh teladan bagi diriku, telah menuai hasil dari kerja keras, bertindak cerdas, dan niatan ikhlas, untuk pergunakan uang pesangon (pensiun dini) demi peningkatan taraf hidup keluarga kami. Alhamdulillah, dengan ‘dana keroyokan’ dari anak-anaknya, Beliaupun sudah tuntaskan rukun islam ke-5 (naik haji) di tahun 2009 yang lalu. Semoga kisah pengalaman keluargaku dalam mengelola uang pesangon-pensiun dini- dapat menjadi pembelajaran, bahwa tidak semudah itu memberikan putusan pensiun dini kepada PNS, sebab mereka juga manusia, punya rasa, punya hati, punya keluarga, sama seperti saya dan Anda juga. Wassalam.

Santorry Saad

/santorry

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pemikir, Budget Analyst, Esais dan Calon Penulis, Pendidik, cukup mahir dlm beberapa cabang olahraga: Tenis, Catur, Pingpong, Renang dan Diving. Slalu syukuri nikmat yg diberikan Oleh-Nya...salah satu prinsip yg terpenting.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?