Gagal Paham Janji Anies-Sandiaga

21 April 2017 07:28:38 Diperbarui: 21 April 2017 07:37:16 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

"Enggak pilih tetapi menagih janji", mungkin ini yang bakal diperdebatkan sampai Anies-Sandiaga dilantik dan resmi memimpin DKI Jakarta. Selang sehari kemenangan Anies-Sandiaga dalam Pilgub DKI Jakarta sontak bermunculan beragam macam tuntutan yang mempertanyakan akan realisasi janji-janji Anies-Sandiaga saat kampanye kemarin. Dari rumah DP 0%, stadion sepakbola bertaraf internasional, pembatalan proyek reklamasi, sampai penutupan tempat yang disinyalir sebagai lokasi bisnis prostitusi, sebagian kecil itu seolah menjadi hutang (tanggungjawab) Anies-Sandiaga yang mereka harus lunasi ketika menjabat nanti.

Berani berucap, berani berbuat, berani bertanggungjawab. Janji adalah hutang, hutang dibawa mati.

Pertanyaannya wajarkah hadirnya fenomena tuntutan tersebut? Berbekal kemenangan dan status "pemimpin" yang akan dilekatkan kelak kepada Anies-Sandiaga, apa yang terjadi merupakan hal yang wajar. Mengapa demikian? Dikarenakan Anies-Sandiaga mereka berdua akan menjadi pemimpin Jakarta, kemenangan mereka bukan sekedar kemenangan golongan tertentu atau hanya kepada mereka yang memilih Anies-Sandiaga ketika pencoblosan tetapi keseluruhan warga DKI Jakarta dengan baik yang tidak memilihnya maupun golput.

Setuju tidak setuju tak hanya warga DKI Jakarta bahkan seluruh penduduk dunia sekalipun wajib mengakui kalau Anies-Sandiaga yang akan memimpin Jakarta dalam kurun waktu 5 tahun kedepan, mereka sudah terpilih sah berdasarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Maka alangkah aneh jikalau ada pihak-pihak yang merasa tidak terima dengan hadirnya tuntutan tersebut dikarenakan alasan mereka yang menuntut adalah mereka pihak yang kalah dan tidak terima Anies-Sandiaga memimpin.

Menurut hemat Penulis justru ini peluang bagi mereka yang memilih Anies-Sandiaga untuk memberikan optimisme bagi mereka yang meragukan kepemimpinan Anies-Sandiaga, bukan malah menganggapnya sebagai bentuk upaya menjatuhkan kredibilitas pilihan. Bukan semata-mata wejangan Pak Prabowo kepada Anies-Sandiaga untuk menjadi pemimpin yang baik bagi warganya, tetapi sudah menjadikan kewajiban bersama warga DKI Jakarta untuk mengawasi kinerja pemimpinnya guna memastikan hasil optimal untuk Jakarta yang lebih baik.

Jangan heran bilamana 6 bulan sebelum resmi dilantik akan terus bermunculan sikap skeptis akan bagaimana nanti kepemimpinan Anies-Sandiaga, tidak ada seorang pun manusia yang tahu masa depan seperti apa. Ketimbang berdebat akan janji-janji manis, maka ada lebih baiknya sebagai warga Jakarta meneruskan tugasnya mengawasi dan mensupport kepemimpinan Ahok-Djarot sekarang ini. Masa-masa transisi kepemerintahan merupakan masa krusial dimana menentukan sukses tidak sukses pembangunan kedepan, pekerjaan rumah Jakarta masih begitu banyak bung. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.

Reno Dwiheryana

/santarosa

TERVERIFIKASI

bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana