PILIHAN HEADLINE

Kemarahan Penyandera Ibu dan Anak di Angkot Jakarta Timur

12 April 2017 06:55:04 Diperbarui: 12 April 2017 11:31:57 Dibaca : 1967 Komentar : 2 Nilai : 7 Durasi Baca :
Kemarahan Penyandera Ibu dan Anak di Angkot Jakarta Timur
penyanderaan-angkot-jaktim-mn-58eddb3dd29273e111adf97a.png

Melihat video penyanderaan ibu dan anak di angkot di Pulau Gadung, Jakarta Timur yang beredar di YouTube, bisa terlihat kemarahan si penyandera saat drama penyanderaan tersebut tidak sesuai dengan keinginannya. Dengan pisau terhunus di leher si ibu yang menjadi korban, dan anak berusia 2 tahun yang terbaring di pangkuan ibu yang disandera, Hermawan, si penyandera berteriak-teriak meminta sopir agar bergerak maju di tengah kerumunan dan mengancam untuk membunuh semua orang yang ada di angkot merah tersebut, bahkan pisau yang berada di tangannya sudah melukai sanderanya.

Kemarahan si penjahat berasal dari emosi ketidakpuasan, adanya kesenjangan antara yang diharapkan dengan situasi yang dihadapi. Demikian pula dengan masyarakat yang melihat kejadian tersebut dan geram marah kepada penjahat yang tega melakukan kejahatan kepada ibu dan anak tersebut. Kemarahan juga terjadi pada setiap orang, dan emosi marah adalah hal yang sebenarnya wajar sebagai reaksi dari suatu aksi.

Marah pun bukanlah suatu hal yang salah, tapi "marah-marah" adalah suatu rentetan emosi marah yang akhirnya menautkan hal yang satu dengan yang lain sehingga kadang masalah yang kecil menjadi melebar ke kanan dan ke kiri dan menjadi rantai yang cukup panjang dan kadang menimbulkan hal-hal lain yang salah penempatan dan akhirnya diasumsikan negatif.

Marah adalah emosi yang berasal dari pikiran bawah sadar yang terjadi karena tumpukan memori di masa lalu yang tertaut dengan ketidakpuasan. Reaksi yang ada karena aksi pada saat itu yang terekam sehingga emosi marah dapat keluar kapan pun ada ketidakpuasan. Ini disebut respon set (respon otomatis yang di-setting di pikiran bawah sadar).

Karena marah adalah respon set terhadap ketidakpuasan, kapan pun ada situasi yang tidak menyenangkan atau ketidakpuasan, maka tanpa disadari marah ini keluar dengan sendirinya.

Namun,karena hal ini adalah respons yang bisa di-setting, kembali lagi ke pikiran bawah sadar kita, apakah kita mau menggunakan marah sebagai respons atau memilih melatih respons baru yang lebih bisa memberdayakan diri, misalnya setiap kali ada hal-hal yang tidak nyaman atau ada ketidakpuasan, kita lebih memilih tenang dan melihat situasi dengan data data akurat apakah perlu marah atau tindakan tegas lain, atau bahkan bisa dengan tenang menghadapi segala sesuatunya.

Bagaimana caranya mengubah setting-an bawah sadar ini? 

1. Dimulai dengan cara menyadari pada saat ini, membaca mapping masalah dengan jelas dan pilih tindakan apa yang semestinya saya lakukan jika suatu saat saya sedang menghadapi situasi.

2. Pikiran bawah sadar terbentuk dengan adanya kebiasaan. Maka dalam latihan di atas, kita mulai menarik napas panjang dan relaks, latih pikiran kita untuk menjadi tenang,

3. Jika sudah ada situasi yang biasanya membuat respons marah ini keluar otomatis, praktikkan menarik napas dalam dan setting-an yang sudah dilatih akan otomatis tertaut dengan apa pun yang kita sudah praktikkan. Hasilnya, kita menjadi lebih tenang dan bisa bertindak dengan bijak. 

Nah, silakan dipraktikkan bagi kawan-kawan yang mau melatih "respon set marah" ini.

Salam hangat,  

MN

Master Niar

/saniar

TERVERIFIKASI

Aktif menggunakan tekhnologi dan mekanisme pikiran untuk mengubah mindset, yang mengubah fisik, mental dan spiritual manusia. Ahli meng-hack pikiran bawah sadar seseorang dan dalam waktu cepat mengubah keadaan sakit menjadi sembuh dan pulih. www.masterniar.com / www.intentionhealing.info
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana