Sang Pujangga
Sang Pujangga

aku berlindung dari godaan syetan yang terkutuk, aku berlindung dari kejahatan orang-orang yang zalim dan munafik, aku berlindung dari kebodohan dan kemalasan, aku berlindung dari fitnah harta, tahta dan wanita

Selanjutnya

Tutup

In Memoriam Politikana, Dari ‘Sampah’ Kembali ke ‘Sampah’

18 Maret 2015   11:29 Diperbarui: 17 Juni 2015   09:29 557 20 19

Sebelum aktif di Kompasiana saya adalah seorang Politikaners julukan untuk penulis di Politikana.com. Selain saya, ada banyak Politikaners yang akhirnya memilih hijrah ke Kompasiana seperti Black Horse alias Olas Novel, Indri Hapsari, Dizzman, Bhayu dan masih banyak lagi yang lain.



Jika boleh jujur, saya inginnya tetap setia di Politikana. Selain karena saya suka habitat politik, di Politikana persaingan antar Politikaners dibiarkan sangat bebas. Semuanya diserahkan ke Politikaners untuk memilih artikel mana yang layak dibaca dan diberi vote. Peran admin hanya sebagai ‘penyeimbang’. Sehingga di Politikana, penulis baru pun bisa langsung nangkring di HL jika artikelnya disukai dan dirating oleh Politikaners. Jadi membayangkan seandainya Tim Hore sudah ada di Politikana, betapa membahana dan gegap-gempitanya artikel-artikel dari Tim Hore.



Di Politikana, artikel admin Politikana belum tentu bisa masuk HL. Karena di Politikana, admin adalah warga biasa yang tulisannya juga dinilai oleh Politikaners. Bahkan ketika tulisan admin Politikana berpihak kepada salah satu Politikaners yang sedang berdebat, maka Politikaners akan rame-rame ‘mengeroyoknya’. Di Politikana admin tidak memiliki hak istimewa, keculai untuk menempatkan tulisan Politikaners yang dianggap penting tapi tidak menarik bagi Politikaners maka ditempatkan pada kolom pilihan moderator.



Selain itu, aktivitas sharing dan connecting di Politikana lebih terasa dibandingkan di Kompasiana. Debat dan diskusi di Politikana pun sangat seru karena kecepatan dalam berbalas komentar hampir tidak ada jeda. Seperti layaknya orang sedang chatting. Bahkan jika debat tidak selesai dan mengarah ke debat kusir maka bisa diundang ikut ‘Obrolan Langsat’ yang digelar setiap bulan. Dalam ‘Obrolan Langsat’ selalu dihadirkan tokoh-tokoh nasional dan para politisi Senayan seperti Pramono Anung, Puan Maharani, Budiman Sujatmiko, Aburizal Bakrie dll.




Akhirnya, Politikana menemui ‘ajalnya’ secara perlahan-lahan karena sering eror. Masalah utamanya adalah para Politikaners susah login dan tidak bisa membalas komentar. Padahal kekuatan Politikana di bandingkan media warga lainnya adalah kecepatan dalam berbalas komentar. Meskipun ada pemberitahuan bahwa Politikana sedang eror dan dalam perawatan, tapi karena terlalu sering dan lama akhirnya satu per satu Politikaners memilih hijrah ke Kompasiana. Dan ketika semakin banyak yang hijrah maka akhirnya Politikana pun benar-benar tutup untuk selamanya. Celakanya, begitu Politikana tutup, maka semua artikel di dalamnya pun ikut raib tak berbekas sehingga tidak bisa diselamatkan lagi. Padahal saat itu saya sudah menulis lebih dari 200 artikel di Politikana.



Mungkinkah Kompasiana Segera Menyusul Politikana?



Dan kini masalah yang dulu pernah saya alami di Politikana hingga menjadi penyebab ‘kematiannnya’, muncul kembali di Kompasiana. Masalah sulit login, tidak bisa membalas komentar dan tidak bisa memberi vote. Dampaknya ‘bete’ dan ‘malas’. Karena erornya terlalu lama, akhirnya hilang selera untuk menulis dan membaca Politikana.



Jadi menurut saya, hilangnya sebagian para penulis ‘hebat’ di Kompasiana lebih disebabkan karena faktor Kompasiana yang sering eror. Tidak ada hubungannya dengan artikel ‘sampah’. Dan tidak ada yang namanya artikel ‘sampah’. Bayangkan sudah 2 tahun lebih Kompasiana eror dan hingga kini belum bisa diselesaikan. Kini, saya melihat banyak Kompasianer yang lebih memilih menghidupkan kembali blog pribadinya yang sempat ‘terbunuh’ oleh Kompasiana. Mereka memindahkan tulisannya di Kompasiana untuk ditempatkan di blog pribadinya.



Jadi jika pendiri Kompasiana Pepih Nugraha pernah ‘sesumbar’ Kompasiana sebagai ‘pembunuh’ blog pribadi, mungkinkah ‘eror’ yang terlalu lama akan menjadi pembunuh Kompasiana?



Saran saya, sebelum Kompasiana benar-benar menemui ‘ajalnya’ maka mulai detik ini juga selamatkan tulisan-tulisan yang anda anggap penting. Jangan sampai pengalaman saya yang kehilangan 200 lebih artikel di Politikana terjadi pada anda hanya gara-gara Kompasiana terbunuh.



Dan untuk pengelola Kompasiana, berterimakasihlah pada Tim Hore, karena di saat Kompasiana ‘mati suri’ akibat terlalu lama eror, mereka tetap bersemangat untuk menulis, berkomentar, memberi vote dan tetap setia pada slogan sharing and connecting.



Ya sudah gitu aja, salam eror!!!