HIGHLIGHT

Malang Nian Nasib TKI Kita

27 April 2012 22:12:28 Dibaca :

Tragis dan mengenaskan. Itulah kalimat singkat yang secara tepat menggambarkan nasib korban penembakan TKI kita. Mereka adalah Herman (34), Abdul Kader Jaelani (25), dan Mad Noon (28). Ketiga TKI ini ditembak mati oleh polisi diraja Malaysia di sekitar wilayah Port Dikson, Negeri Sembilan, Malaysia.


Penembakan mati ini seolah tanpa ada alasan yang kuat. Kabarnya, para korban diduga hendak merampok. Namun entah kenapa mereka sekonyong-konyongnya dilumpuhkan secara sadis, diberondong peluru di sekitar bagian dada kepala oleh polisi Malaysia. Penembakan dilakukan seolah tanpa Standard Operational Procedure (SOP) yang jelas. Para korban pun mati ditempat.


Masalah tidak berhenti di situ. Setelah ditembak mati, ketiga TKI asal Lombok (NTB) itu diduga kuat diambil organ tubuhnya untuk diperjualbelikan. Fakta itu diungkapkan oleh keluarga korban yang melihat bekas jahitan di bagian mata, dada dan perut saat hendak mengafani dan menguburkan korban. Fakta tersebut semakin benar adanya, setelah pada Jumat (26/04) kemarin, tim forensik kepolisian, rumah sakit dan universitas melakukan otopsi.


Hasilnya, dari informasi yang belum diumumkan secara resmi, di kepala korban bernama Herman, misalnya, ditemukan jahitan seperti menyambung sesuatu yang putus. Malah, setelah dibuka jahitannya, di dalam kepala korban terdapat plastik. Dari informasi sementara ini, tanpa harus menunggu pengumuman resmi Kemenlu, diduga kuat organ tubuh para TKI itu telah diambil untuk kepentingan bisnis perdangangan organ tubuh.


Sungguh, malang nian nasib pahlawan devisa. Jauh-jauh merantau demi sesuap nasi, nyawa mereka harus berakhir sadis. Lantas, siapa yang peduli dengan mereka itu? Pemerintah? Semoga saja.


Namun, aneh bin ajaib. Penembakan sebulan lalu, tepatnya 24 Maret lalu baru terekspos marak di nusantara. Pemerintah, media bahkan publik baru tersadarkan dengan kejadian penembakan itu. Sesaat setelah penembakan terjadi dimana perwakilan diplomatik Republik Indonesia? Jangan-jangan mereka hanya asyik dan santai bertengger di kantor menara gadingnya. Mewah dan menyejukkan. Mengapa pihak kedutaan tidak secepatnya menginvestigasi penyebab kematian para korban TKI tersebut? Agar darinya ada fakta otentik dan valid soal latar belakang kematian mereka. Bukan baru sekarang, pihak pemerintah gontok-gontokan mau mengotopsi. Membongkar dan menggali kuburan korban. Sungguh amat tidak etis dari kacamata agama. Meski pihak keluarga memberi ijin. Namun, tetap saja, hal itu tidak layak hanya demi penyidikan yang ujungnya juga barangkali bisa ditebak, pemerintah tidak tegas menyikapinya.


Kita amat prihatin dengan misteri kematian para TKI itu. Peristiwa tersebut menambah deretan korban penembakan mati oleh polisi Malaysia atas warga Negara Indonesia (WNI). Sebelumnya, pada tahun 2005 lalu, polisi diraja Malaysia juga menembak mati WNI. Bila, kasus teranyar ini dibiarkan lagi tanpa ketegasan secara diplomatik, maka tinggal tunggu peristiwa berikutnya yang menembak mati TKI kita.


Apa untungnya jadi WNI bila berada di negeri orang selalu tidak mendapat perlindungan atau pembelaan. Sudah ditembak mati oleh polisi diraja Malaysia, dicuri lagi organ tubuhnya tanpa ada pembelaan yang jelas sesudahnya. Sungguh sadis. Kasus ini mestinya menjadi tamparan keras buat pemerintah. Bagaimana tidak, penembakan mati dilakukan langsung oleh polisi diraja Malaysia. Sebuah institusi negara. Tindakan itu tentu merendahkan wibawa dan eksistensi negara. Malah, oleh pihak pemerintah Malaysia menganggap penembakan mati tersebut bukan sesuatu yang perlu diselidiki lebih jauh. Buktinya, polisi Malaysia tidak mengungkapkan secara jelas kronologis penembakan sehingga oknum polisi harus menembak mati TKI kita. Sekejam itukah fungsi kepolisian Malaysia terhadap pihak asing yang diduga terlibat kriminal?


Negeri yang katanya serumpun dengan nusantara tampaknya sudah lazim memperlakukan secara sadis TKI kita. Mulai dari warga negara biasa (para majikan) hingga oknum anggota institusi kepolisian Malaysia seperti kasus korban penembakan mati TKI tersebut. Kita selayaknya mempertanyakan secara tegas setiap ada perlakuan tidak manusiawi atas TKI kita. Apalagi peristiwa memilukan ini bukan kali pertama. Sudah ratusan dan bahkan ribuan TKI terdengar tewas mengenaskan di negeri Jiran.


Menurut data dari Migrant Care, setiap tahunnya tercatat ada sebanyak 700 orang TKI tewas di Malaysia. Umumnya, latar belakang kematiannya tidak diketahui pasti. Jenazahnya pun amat jarang diperiksa kembali, apalagi mau diotopsi oleh pihak pemerintah kita. Bisa jadi, setiap kali ada kasus kematian TKI, tubuh korban dipulangkan dalam kondisi tidak normal. Bagaimana jadinya jika kondisi tersebut berlangsung terus? Pastinya ribuan sudah WNI mati secara tidak jelas di negeri tetangga itu. Sebagaimana korban kasus penembakan mati TKI kita oleh polisi Malaysia baru-baru ini.


Mengapa peristiwa tak manusiawi terhadap TKI masih sering terjadi di Malaysia? Penyebabnya sederhana. Pertama, karena pemerintah tidak memberi perhatian dan keseriusan yang besar terhadap kondisi serta nasib TKI. Para TKI kita kerap ditelantarkan dan dibiarkan sendiri menghadapi perlakuan tidak adil. Kedua, pemerintah tidak tegas menyikapi kasus-kasus penyiksaan dan pembunuhan TKI. Kasus serupa pun seringkali berulang tanpa ada penyelidikan dan penindakan dari pemerintah. Sehingga banyak TKI diperlakukan seenaknya di Malaysia.



Kita berharap pada kasus ini pemerintah bisa menunjukkan eksistensinya sebagai pengayom, pelindung dan pembela warga negara. Tidak melunak, apalagi permisif mendengarkan alibi pemerintah Malaysia yang misalnya membantah tidak ada indikasi praktik perdagangan organ tubuh pada kasus penembakan TKI tersebut. Padahal, sudah jelas-jelas, dari keterangan keluarga korban, diduga kuat ada pencurian organ tubuh pada korban penembakan. Dan jika itu terbukti, oknum polisi diraja Malaysia sudah pasti terlibat kongkalikong dalam praktik jual beli organ tubuh manusia. Tindakan itu tentu melanggar hak asasi manusia. Pemerintah harus “berteriak keras” menyikapinya. Karena itu, kita tungga sikap tegas pemerintah.

Hidayat Doe

/sangia

Lahir di Kamaru, Buton. Alumnus Ilmu Hubungan Internasional Unhas.Bolimo Karo Sumanamo Lipu (Indonesia).
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?