10 Mitos Kesehatan yang Tidak Pernah Terbukti Kebenarannya

16 September 2013 00:35:46 Diperbarui: 24 Juni 2015 07:50:47 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
10 Mitos Kesehatan yang Tidak Pernah Terbukti Kebenarannya
  1. Pemberian Kopi Mencegah Kejang Pada Anak Pemberian kopi kepada anak sampai saat ini masih tidak terbukti untuk dapat mencegah terjadinya kejang. Sebab, kejang pada anak di diakibatkan oleh demam tinggi atau faktor penyebab lainnya. Untuk mencegah demam, maka penyebab demam itulah yang harus dicari kemudian diatasi. Justru beberapa penelitian menunjukkan pemberian kafein pada binatang percobaan dapat meningkatkan resiko kejang epilepsi. Pemberian kopi beresiko menyebabkan detak jantung berdebar-debar, gelisah, dan anak tidak bisa tidur. Padahal pada anak yang badannya panas, detak jantungnya sudah meningkat dan gelisah. Pada anak dengan saluran cerna yang sensitif maka kopi akan beresiko berdampak terhadap keluhan mual, muntah dan nyeri perut.
  2. Jalan di Pantai menyembuhkan asma. Jalan di pantau belum terbukti dapat mencegah asma. Asma adalah keadaan saluran napas yang mengalami penyempitan karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu khsusnya alergi bisa karena alergi makanan atau debu. Asma juga dapat dipicu atau diperberat karena infeksi saluran napas, stres, aktifitas belerbihan dan udarea dingin. Tetapi pemicu bukanlah yang utama bila penyebab dapat dikendalikan.
  3. Mi Instan berbahaya bagi kesehatan Sampai saat ini banyak oipini berkembang baik dari oprang awam bahkan sebagian dokter mengatakan bahwa mi instan harus dihinbdari karena berbahaya bagi kesehatan. Berbagai berita dan mitos tidak jelas mengatakan bahwa mi instan mengandung lilin, menyebabkan operasi pemotongan usus dan berbagai hal menyeramkan lainnya. Padahal produk mi instant diawasi ketat melalui standarisasi internasional yang ditetapkan Codex Alimentarius Commission (CAC) dam standarisasi nasional oleh Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Forum CAC (Codex Alimentarius Commission) merupakan organisasi perumus standar internasional untuk bidang pangan. Berbagai produk dan industri makanan yang ada dsi Indonesia harus dibuat berdasarkan CODEX Alimentarius Commission, badan standar makanan internasional. Memang Mi Instan mengandung bahan tambahan seperti seperti nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dengan batas maksimum penggunaan. Juga terdapataasam benzoat dan propeonat. Methylparaben nama tehnisnya Methyl p-hydroxybenzoate (disebut juga Methyl parahydroxybenzoate) dalam makanan instant dan makanan lainnya. Menurut Codex Alimentarius Commission (CAC), Permenkes No.722/1988 dan bPOM bahan pengawet tersebut diizinkan dan tidak berbahaya.Untuk makanan seperti mie instan, asalkan tidak melebihkan kadar maksimum yang ditentukan Badan POM, yakni 250 mg per kg. Di setiap Negara batas maksimum pemakaian Nipagin berbeda seperti Amerika Serikat, Kanada dan Singapura, kadar maksimum Nipagin itu 1.000 mg per kg. di Hongkong 550 mg per kg. Penentuan batas keamanan yang sangat bervariatif tersebut karena sampai saat ini belum ada data dasar dan data ilmiah yang mendasari penentuannya. Anehnya, orangtua tampaknya tetap merasa aman dengan mi industri lain yang juga banyak dikonsumsi untuk rumah makan, restoran dan penjaja mi goreng keliling. Padahal produk lainnya tersebut belum tentu mengikuti standarisasi yang ketat. Banyak mi buatan home industri atau produksi pabrik tersebut yang mengandung bahwan perwarna berbahaya dan pengawet berbahaya yang tidak terdeteksi tetapi masyarakat tidak pernah takut.
  4. Minum Es, Debu, makan gorengan sebagai penyebab sakit Flu Saat mengalami keluhan radang tenggorok, pilek, bersin atau demam seringkali masyarakat menjadikan kambing hitam minum es, debu atau udara dingin. ”. Hal lain yang sering dijadikan alasan penyebab sakit flu, demam, batuk atau pilek karena kecapekan, kena hujan, kena angin, kena debu, naik sepeda motor, kena kipas angin atau karena di rumah sedang membangun. Ternyata alasan yang dikemukan orang tersebut adalah tidak benar sebagai penyebab atau bukan penyebab langsung sakit infeksi batuk, pilek dan demam yang di alami anaknya. Banyak yang meyakini bahwa sakitnya yang diderita selama ini karena hal tersebut. Padahal bila dicermati penularan penyakit yang utama adalah terjadi kontak sumber penularan dan ada kontak yang sakit di sekitarnya 1-2 hari sebelumnya. Faktor daya tahan tubuh juga menjadi faktor penting, karena meskipun ada kontak manusia bisa terhindar dari flu atau paling tidak gejalanya ringan yang pernah kita sadari. Bila tidak ada kontak dan sumber penularan flu tidak akan terjadi. karena virus tersebut tidak akan beterbangan di udara bebas yang luas, seperti di jalan, di udara luas dan tertipup angin dengan jarak yang jauh. Kalaupun es, udara dingin, atau gorengan hanya akan memperberat saat sudah terkena flu atau rdang tenmggorokan. Tetapi saat sehat bila terjkena paparan tersebut tidak berpengaruh.
  5. Vitsin (MSG) berbahaya bagi kesehatan. Sampai seratus tahun penggunaan mi oleh manusia sampai saat ini tidak ada peneltitian sedikitpun yang membuktikan bahwa vitsin berbahaya bagi kesehatan. Mitos yang selama ini dianut oleh masyarakat awam dan sebagian klinisi atau dokter bahwa MSG berbahaya ternyata mitos yang tidak benar. Ternyata MSG atau vetsin aman untuk digunakan atau dikonsumsi dalam makanan sehari-hari. Berbagai mitos tentang efek samping MSG tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, sehingga seluruh badan pengawasan makanan dunia masih menggolongkan MSG sebagai bahan yang “Generally Regarded as Safe” (GRAS) dan tidak menentukan berapa batas asupan hariannya. Bila terjadi kontroversi tentang suatu masalah sebaiknya merujuk perbedaan pendapat tersebut tertuju pada penelitian ilmiah atau rekomendasi resmi institusi kesehatan internasional yang kredibel. MSG tersusun atas 78% Glutamat, 12% Natrium dan 10% air. Kandungan glutamat yang tinggi itulah yang menyebabkan rasa gurih dalam segala macam masakan. Glutamat itu sendiri termasuk dalam kelompok asam amino non esensial penyusun protein yang terdapat juga dalam bahan makanan lain seperti daging, susu, keju, ASI dan dalam tubuh kita pun mengandung glutamat. Di dalam tubuh, glutamat dari MSG dan dari bahan lainnya dapat dimetabolime dengan baik oleh tubuh dan digunakan sebagai sumber energi usus halus. Badan-badan kesehatan dunia saat ini seperti JEFCA (FAO+WHO khusus bahan pangan), Komunitas Kesehatan Eropa, US FDA dan BPOM menyatakan aspek keamanannya dan memberikan batas asupan harian dalam penggunaan MSG adalah NOT SPECIFIED atau secukupnya. Tidak ada penetapan angka dalam penggunaanyadalam mengkonsumsi MSG. Di Amerika, pengunaan MSG dimasukan dalam kategori GRAS (Generally Recognized as Safe) sama seperti penggunaan garam, gula dan soda kue dalam pengguaanya. Isu-isu negatif yang beredar tidak didasari oleh kajian-kajian ilmiah yang diakui kredibilitasnya. Ada beberapa penelitian memvonis MSG sebagai sumber penyakit ternyata menggunakan metode penelitian yang rancu dan tidak relevan dalam pengguaan MSG dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Berjemur di matahari menyembuhkan batuk lama dan nafas grok-grok (hiperreaktifitas bronkus atau noisy breathing). Sampai saat ini tidak ada fakta ilmiah dan penelitian sedikitpun yang menyatakan bahwa berjemur di matahari dapat menyembuhkan batuk dan napas berbunyi pada bayi dan anak. Kalaupun fakta ada menunjukkan bahwa batuk dan pilek membaik setelah dijemur pada pagi hari bukan karena sekedar manfaat berjemur pada matahari. Pada pende3rita alergi dengan sensitif saluran napas seperti asma, napas berbunyi dan batuk lama, ternyata saat siang hari keluihannya akan berkurang secara alamiah. Biasanya pada penderita alergi tersebut gangguan akan semakin berat saaat malam dan pagi hari. Saat siang membaik selama ini dianggap karena berjemur matahari. Padahal banyak bayi dan anak dengan battuk lama , asma dan alergi tanpa berjemurpun siang hari akan membaik sendiri.
  7. Diet Golongan Darah Temuan besar teori Dr. Peter J. D’Adamo tentang diet golongan darah ini sampai saat ini masih menjadi kontroversi di dunia kedokteran. Secara medis temuan tersebut tidak berdasarkan evidence base medicine atau kejadian medis berbasis bukti. Dalam era modern dunia kedokteran, setiap tindakan dan terapi medis harus berdasarkan penelitian secara ilmiah. Bila tidak terbukti maka pendapat dan teori tersebut belum layak digunakan dalam masyarakat. Dr. Peter J. D’Adamo adalah seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut Amerika pada tahun 1996 di Amerika memperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan pada golongan darah manusia. Meskipun seorang dokter tetapi dalam kehidupan professional sehari-hari bergerak di bidang terapi alternatif atau non medis. Namun sayangnya teori dan berbagai penelitian yang dilakukan oleh Dr. Peter J. D’Adamo, tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran dan tidak termasuk penelitian yang memenuhi kelayakan ilmiah. Sampai saat ini, belum dijumpai hasil penelitian golongan darah dalam pubmed online atau publikasi penelitian ilmiah online yang diakui dunia medis internasional. Penelitian yang diterima secara ilmiah harus memenuhi berbagai kelayakan penelitian, seperti uji klinis kasus control (double blind study), metodologi penelitian dan sebagainya. Di bidang kedokteran memang telah diakui adanya reaksi simpang makanan yang dialami oleh banyak individu manusia. Reaksi simpang makanan adalah reaksi yang tidak diinginkan terhadap makanan yang ditelan. Reaksi ini dapat merupakan kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang ditimbulkan oleh paparan terhadap makanan. Berbagai organ tubuh yang terganggua dapat berupa diare, nyeri perut, konstipasi (sulit berak), asma, nyeri tulang, berat badan sulit naik, sakit kepala, badan lemas. Bahkan berbagai temuan ilmiah menyebutkan bahwa makanan tersebut ternyata dapat menganggau otak dan perilaku manusia, seperti sakit kepala, migrain, gangguan konsentrasi, gangguan emosi, agresifitas mengikat, gangyuan tidur dan gangguan perilaku lainnya. Bahkan berbagai penelitian biomolekular tentang penghindaran makanan terhadap penderita autism dan ADHD, yang ternyata menghasilkan perbaikan gejala yang bermakna. Tetapi penghindaran makanan tersebut bukan karena berdasarkan golongan darah tetapi setiap orang berbeda karakteristiknya. Bila dicermati bila siapapun orangnya dengan golongan darah apapun akan berhasil jika mengalami beberapa masalah kesehatan tertentu bila mengikuti diet golongan darah tersebut akan berhasil. Karena semua yang dihindari sebagian besar ternyata termasuk golongan alergen atau penyebab reaksi alergi atau reaksi simpang makan penyebab berbagai gangguan tubuh manusia.
  8. Makanan bergas Telor termasuk makanan yang bergas sebaiknya dihindari karena menganggu saluran cerna. Sebenarnya hal ini adalah mitos yang tidak sepenuhnya benar. Karena pada orang yang sehat telor tidak berpengaruh terhadap saluran cerna. tetapi pada penderita hipersensitif saluran cerna telor mengakibat produksi gas dalam perut meningkat. Tetapi bukan berarti telos makanan yang mengandung gas. Penderita Maag (dispesia) atau hipersensitif saluran cerna lainnya sering menyebabkan gangguan sakit, nyeri, mulas, dan perih pada saluran pencernaan terutama bagian atas. Gejala lain yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) sering buang angin. Gangguan tersebut seringkali disertai tanda produksi gas yang berlebihan yang mengakibatkan sering buang angin, perut kembung, cegukan, glekekan. Gangguan pencernaan ini sering diperberat oleh makanan tertentu khususnya pada penderita alergi dan hipersensitif saluran cerna.
  9. Imunisasi MMR dan Thimerosal Penyebab Autism Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar pada kemungkinan hubungan autis dengan imunisasi MMR (Mumps, Measles, Rubella) dan thimerosal (pengawet dalam vaksin).. Banyak orang tua menolak imunisasi karena mendapatkan informasi bahwa imunisasi MMR dapat mengakibatkan autisme. Akibatnya anak tidak mendapatkan perlindungan imunisasi untuk menghindari penyakit-penyakit justru yang lebih berbahaya seperti hepatitis B, Difteri, Tetanus, pertusis, TBC dan sebagainya. Banyak penelitian yang dilakukan secara luas ternyata membuktikan bahwa autism tidak berkaitan dengan imunisasi MMR. Beberapa institusi atau badan dunia di bidang kesehatan yang independen dan sudah diakui kredibilitasnya juga melakukan kajian ilmiah dan penelitian tentang tidak adanya hubungan imunisasi dan autisme. Dari hasil kajian tersebut, dikeluarkan rekomendasi untuk tenaga profesional untuk tetap menggunakan imunisasi MMR dan thimerosal karena tidak terbukti mengakibatkan Autisme. Berbagai institusi internasional yanhg memastikan dan tetap merekomendasikan bahwa MMR bukan penyebab autis adalah The All Party Parliamentary Group on Primary Care and Public Health, WHO (World Health Organisation), the British Medical Association, Royal College of General Practitioners, Royal College of Nursing, Faculty of Public Health Medicine, United Kingdom Public Health Association, Royal College of Midwives, Community Practitioners and Health Visitors Association, Unison, Sense, Royal Pharmaceutical Society, Public Health Laboratory Service and Medicines Control Agency, The Committee on Safety of Medicine (Komite Keamanan Obat), The Scottish Parliaments Health and Community Care Committee, The Irish Parliament’s Joint Committee on Health and Children dan The American Academy of Pediatrics (AAP)
  10. Sakit Maag Karena terlambat makan Kekambuhan sakit maag atau dipepsia karena terlambat makan masih belum dapat dijelaskan secara ilmiah dan masih belum ada penelitian yang membuktikannya. Tetapi fakta yang ada bahwa umat muslim melakukan puasa hingga sampai nlebih 12 jam juga terbukti tidak mengakibatkan gangguan maag pada sebagian besar pelakunya. Penyakit Maag atau dispesia adalah gejala penyakit yang menyerang lambung karena terjadi perlukaan atau peradangan pada lambung yang menyebabkan sakit, nyeri, mulas, dan perih pada saluran pencernaan terutama bagian atas. Gejala lain yang bisa dirasakan selain rasa tidak nyaman, juga mual, muntah, nyeri ulu hati, bloating (lambung merasa penuh), kembung, bersendawa, cepat kenyang, perut keroncongan (borborgygmi) sering buang angin. Penyakit maag juga sering disertai gangguan mulut seperti mulut berbau, sariawan, gusi dan gigi sering ngilu, lidah kotor, gusi berdarah, bibir kering dan berdarah. Gejala itu bisa akut atau jangka pendek, berulang, dan bisa juga menjadi kronis. Terjadi kondisi kronis jika gejala itu berlangsung lebih dari satu bulan terus-menerus.

Artikel Terkait Lainnya

Widodo Judarwanto

/sandiazyudhasmara

TERVERIFIKASI

Dr Widodo Judarwanto, pediatrician. "We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life" *** www.growup-clinic.com *** www.alergiku.com www.sulitmakan.com *** www.klinikanakonline.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article