Cerita Inspirasi Rokok Wanita Berjilbab

17 Mei 2013 15:21:06 Dibaca :

Ada sebuah cerita yang harus ditulis, seperti halnya sebuah perjalanan yang harus diceritakan ketika perjalanan tersebut memberi pengetahuan akan pentingnya pengalaman. Di dunia ini ada begitu banyak kisah yang Tuhan jalankan sesuai kehendak-Nya. Entah itu kisah tentang percintaan, tentang keluarga, tentang persahabatan, tentang agama, sampai tentang penciptaan dan kehancuran. Di sini aku ingin bercerita tentang diriku sendiri. Ya, tentang perjalanan yang menurutku itu aku banget.

Tanpa awalan, kami bertemu di persimpangan jalan yang penuh bunga. Mungkin lebih tepatnya itu simpang tiga yang berada di sebelah rumahnya pak Rahmat. Dan mungkin lebih tepatnya lagi, pertigaan itu ada di sebelah utara sekitar seratus meter agak menyerong ke barat. Pertemuan kami terjadi pada jam sebelas siang. Ya, aku hanya mengira-ngira saja kalau waktu itu memang jam sebelas siang, sebabnya matahari belum begitu terik di atas kepala dan aku keluar dari rumah temanku sudah jam sepuluh lewat beberapa menit sedikit. Sekali lagi aku tak mengingat tepatnya menit ke berapa. Ah, yang terpenting adalah aku ingin bercerita.

Mata kami saling bertatap. Kami kami tersenyum. Dia berjalan di depanku, dan aku berdiri di depannya. Waktu itu aku sedang asyiknya menikmati rokok tanpa api. Jalannya yang semampai dengan kerudung lebar sebenarnya tak membuatku terkesima. Wajahnya yang tampak sedikit lebih ayu dan manis juga tak membuatku kaget. Maklum saja, sebelum kami bertatap lalu tersenyum, aku masih sibuk mencari korek untuk menghidupkan rokokku. Kegelisahanku mencari korek di dalam saku-saku celana dan jaket tak memberikan ilham di mana tadi aku menaruh korek apiku.

Matahari semakin membakar kulit dengan panasnya, untungnya aku berada di bawah pohon yang rimbun dengan berteman bunga tanpa aku mengetahui namanya satu persatu. Masih dalam kegelisahanku mencari korek. Di puncak ketidak menemukannya aku akan korek yang aku cari, akhirnya aku mengangkat kepala dari ketertundukkan.

“Serrrrrrr”, angin sepoi menyapa wajahku. Aku terkesima melihat wajah ayu dengan kerudung lebarnya dan jalannya yang semampai. Sungguh aku kaget dan benar-benar kaget melihat wanita cantik sekali menurut pandanganku. Yang semulanya aku tak terkesima dan tidak kaget karena aku memang tertunduk belum melihatnya. Aku terhempas angin surga yang entah datangnya dari mana. Senyum yang menyakitkan saat ku sapa senyum dan dia memanggil “Hai” kepada seorang cewek yang berjalan dari arah belakangku. Ah, aku terlalu ge-er untuk saat ini. Itu bukan cerita sebenarnya dariku.

Masih berada di pertigaan dengan rokok tanpa api. Sudah dua jam aku di sini duduk menunggu sesuatu yang aku juga tak tahu. Sebenarnya aku ingin berkata kalau aku sedang mencari inspirasi untuk tulisanku. Tapi, inspirasi itu ada bukan karena kita menunggu dan mencari sebagai alasannya, dia akan datang kalau kita menulisnya. Jadi, aku beralasan lain saja agar aku tidak dikira sedang mencari inspirasi.

Mas Damar

/sajakmusafir.com

Tulisanku adalah keberulangan ritme ketimbang sebuah prosa.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?