Nur
Nur Penulis Magang

Sekadar penikmat kopi hitam, dan rokok batangan.

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Afi Nihaya Faradisa

19 Mei 2017   21:32 Diperbarui: 19 Mei 2017   21:43 232 0 0

Afi Nihaya Faradisa menulis dalam catatannya yang bertajuk: ”Warisan," dalam abjadnya, Afi mengisahkan betapa intolerannya para pemikir negeri, yang kian mentuhankan tuan, seakan lupa, bahwa gambaran pada cermin itu nyata, siapa diri kita, siapa pencipta kita.

Apakah yang kita mengerti sebenarnya;  bodohnya para pemikir negeri, atau ilalang tak sadar pada savana.

Afi hanyalah gadis biasa, 18 tahun usia, menulis merupakan hobinya, tak seorang pun menyangka, dengan usianya, mampu membuka mata sang khatulistiwa.

 

Bahkan sajak pun tunduk padanya

Bait berbaris mengikuti mantranya

Bukan sekadar sajak berima

Juga bukan sekadar bait tak bernyawa

 

Di dalam mantranya

Sajak menjadi kirana

Bait pun seksama

Sedang kalimatnya, megah, gagah

 

Afi Nihaya Faradisa

Tuturmu menjelma seperti Perseus yang perkasa

Mampu menumbangkan iblis-iblis khatulistiwa

Menyegarkan dahaga negeri

Yang haus akan kebijaksanaan sejati

 

Oh tuan?

Janganlah menjadi firaun di negeri sendiri

Kalau tak ingin azab Illah menghampiri

Andaikan pikirmu laksana Afi Nihaya Faradisa

Niscaya negeri khatulistiwa akan sentosa

 

Afi Nihaya Faradisa

Banggaku akan kebijaksanaanmu

Teruslah bersajak dengan baitmu

Pun kalimatmu yang mampu melukis  bimasakti

Dapat menyadarkan para pemikir negeri?

Yang hanya berpikir bahwa tuan adalah Tuhan

Yang hanya berpikir bagaimana cara menikam

Yang hanya berpikir bagaimana cara bersembunyi, ketika luput mengampiri.

 

Oh tuan?

Jangan kau perkosa ibu pertiwi

dengan birahi asma dan tahta

Jangan kau kotori tanah ini

dengan mencaci saudara sendiri

Negeri ini satu

Negeri ini pancasila

Negeri ini bhineka tunggal ika

Negeri ini kepunyaan Tuhan, bukan tuan.

 

Dan negeri ini adalah "Warisan", mari bersama kita jaga

jangan sampai kemolekannya direnggut tetangga.

 

(Mgl, 19.05.17)