HEADLINE

Wisata Pantai Siangau, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat.

22 Agustus 2011 02:26:03 Diperbarui: 07 September 2015 06:33:47 Dibaca : 5523 Komentar : 17 Nilai : 3 Durasi Baca :
Wisata Pantai Siangau, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat.

Wisata Pantai Siangau, Kecamatan Parit Tiga, Kabupaten Bangka Barat. Picture taken by Safri Ishak, 19-May-2010.
Kali ini tidak ada rencana khusus pulang kampong ke Muntok, beberapa hari sebelum long week-end Jum’at 22-APR-2011 saya nelpon adik kami Piyai apakah ada ditempat akhir minggu tersebut. Ternyata Piyai dan Cita tidak pergi kemana-mana dan kami janji untuk main ke Muntok. Tanggal 17-APR-2011 lihat lihat e-ticket Jakarta – Pangkal Pinang berangkat tanggal 21-APR dan pulang tanggal 24-APR, hampir semua airline tujuan Pangkal Pinang – Jakarta penuh, untung kami masih dapat seats di Lion Air. Rupanya banyak penumpang yang sudah booking untuk pulang setelah melaksanakan Ceng Beng atau sembahyang arwah. Pagi pagi jam 04:45 saya dan istri saya Erry berangkat naik taxi ke Terminal 1B bandara Soekarno Hatta, tiba di bandara lansung check-in dan penerbangan on-time jam 07:00 menuju bandara Depati Amir Pangkal Pinang. Setelah sekitar satu jam penerbangan, sampai di Pangkal Pinang adik kami Piyai dan Cita sudah menunggu untuk menjemput kami. Berhubung hari masih pagi, kami sarapan dulu di kedai kopi (Pay Ishak Tambah info sedikit, warung kopi di pangkalpinang, namanya TUNG TAO, usaha keluarga yang dimulai sejak tahun 1938, cabang dari sungai liat, masakannya  enak, lumayan nambah wisata kuliner di pankalpinang). Saya pesan teh tarik dan roti isi sambal lengkong (abon ikan), selesai sarapan singgah di gerai oleh oleh khas Bangka di sebelah kedai. Macam macam makanan dijual disitu mulai dari getas, kerupuk, manisan kelubi, sambal lengkong, rentak sagu, kue nenas, kuawaci biji labu, siput gonggong kering dan lain lain. Dari sana perjalanan dilanjutkan ke Pasar Pembangunan untuk mencari belacan, udang kering dan ikan asin. Kebetulan ada ikan asin Talang yang sudah lama saya pesan, terakhir makan ikan asin Talang adalah sebelum kami merantau ke Jakarta tahun 1961. Memang ikan asin Talang ini susah didapat, saya sudah lama pesan sama Piyai dan Alhamdulillah ada yang jual. Selain ikan asin Talang, istri saya juga beli ikan asin Tenggiri, ikan asin Belanak, udang kering dan pastinya belacan Bangka. Selesai belanja di Pasar Pembangunan sudah lewat jam sebelas dan kami langsung menuju rumah makan Palapa, kedai nasi masakan kahas Bangka pertama yang kami kunjungi pada waktu pulang kampong pertama bulan Maret 2009. Langsung tancap gas, lempah darat, gulai kepala ikan, ulam pucuk ubi rebus, terong rebus, sambal belacan dan rusip (sudah 50 tahun tidak makan rusip). Sebelum menuju Muntok, mampir dulu di rumah Piyai di jalan Kamboja Kacang Pedang, shalat dan titip barang barang yang akan dibawa kembali ke Jakarta. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan ke Muntok, sayangnya musim durian sudah habis dan duku baru berbunga jadi sepanjang jalan tidak ada yang jual buah buahan. Kami mampir sebentar di kampung Kacung untuk membeli kopiah Resam pesanan adik kami Mansur. Sampai di Muntok hari sudah menjelang petang dan setelah istirahat kami singgah ke rumah adik kami Erman di simpang Keramat Kampung Baru, ngobrol ngobrol, banyak motor yang lewat, rupanya simpang Keramat sudah bertambah ramai. Menjelang Magrib kami pulang ke rumah Piyai lewat Kampong Tanjung, jalannya sudah diaspal dan bagus. Sesudah makam malam kami singgah ke rumah Makyak Jaw yang Alhamdulillah baru dapat cucu kedua. Hari Jum’at tanggal 22-APR-2011, pagi pagi saya dan Piyai jalan kaki dari rumah di Jarapel (Jalan Raya Peltim) depan kantor Demokrat menuju tempat peleburan timah, menyusuri jalan di pinggir pantai, terus melewati wash-ray atau tempat membasuh biji timah. Pasir yang sudah dicuci ditumpuk di lapangan kearah pantai. Pasir ini masih mengandung partikel mirip biji timah dan diambil oleh penambang TI, dipisahkan partikel tersebut untuk di oplos dengan biji timah sebelum dijual. Dari Wash-ray kami lanjut ke arah pantai Pait, melewati beberapa rumah penduduk dan berakhir di sebuah surau lalu balik kembali ke rumah. Selesai jalan pagi belanja sayur dan ikan di pasar Muntok, terus lanjut ke terminal Lama dekat Mesjid Jami’ rencananya mau cari Penganan Pelite dan sarapan dikedai kopi Bang Akhyar sayangnya Penganan Pelite sudah habis dan kedai kopi tutup hari libur Nasional. Akhirnya sarapan di Petak Limabelas, Tahu Kok, Nasi Goreng, Otak otak, Bacam Udang Kering dan Goreng Pisang. Hari ini rencananya akan ke Jebus, lihat lihat boneka dan mainan anak anak serta ke pantai Siungau. Jam sembilan lewat kami berangkat menuju Kecamatan Jebus, terus ke Kecamatan Parit Tiga, sebelum Pasar Parit Tiga ada tiga toko kios yang menjual boneka dan mainan anak anak, mampir dan beli oleh oleh. Kemudian lanjut cari masjid untuk shalat Jum’at, setelah ibu ibu shalat Lohor perjalanan dilanjutkan ke Kawasan Wisata Pantai Siangau. Pantai Siangau sangat indah, bersih dan asri, sayangnya sarana jalan belum memadai dan belum ada sarana pendukung parawisata lainnya. Pantai Tanjung Siangau terletak di dusun Pala, desa Teluk Limau, kecamatan Parit Tiga, kabupaten Bangka Barat. Pantai Siangau berbatu batu, malahan ada batu yang menjulang di tengah laut serta ada bagian teluk yang dengan pantai pasir putih yang landai, asyik untuk berenang karena pada waktu itu laut tenang beriak kecil. Air laut bening dan bersih dan kira kira sepuluh meter dari bibir pantai air laut sudah berwarna biru yang menandakan bahwa airnya dalam. Disini kami beruntung melihat batang Mentigi Jumbo yang diameter batangnya sekitar tiga puluh senti lebih, waktu saya kecil dulu kayu Mentigi atau Sentigi paling bagus untuk dibuat gasing, sekarang merupakan bakalan pohon bonsai yang banyak dicari. Disini ada juga batang Mentigi yang tumbuh diatas batu besar. Pulang dari Siangau, kami istirahat dan menikmati empek empek udang Beloh Laut sambil menunggu selesai shalat Isya, ada undangan dari Pak Rizki teman adik kami Piyai untuk melihat lihat proses Peleburan Timah. Tepat jam delapan malam kami sampai di Guest House dan disambut oleh Pak Rizki dan ibu, ngobrol sebentar dan dilajutkan untuk melihat proses peleburan, biji timah dimasak dalam tanur atau tungku pelebur biji timah yang panasnya mencapai 1.300 derajat Celcius. Biji timah dicurahkan dari atas ke bidang peleburan timah lalu ditarik dan didorong agar rata secara manual. Saya mencoba berdiri didepan mulut tanur, pinjam kaca mata hitam, terlihat didalamnya panas membara dan timah meleleh, panassss. Timah yang sudah mencair ditampung dalam tempat seperti kuali besar lalu timah diteruskan ketempat pencetakan dibawah. Tempat mencetak timah batangan seperti cetakan kueh pancong yang di isi air pendingin disekitarnya. Lalu kami melihat tempat pengumpulan timah yang sudah dicetak dan terakhir melihat Laboratorium untuk menukur dan mencatat kadar kandungan timah setiap batch timah yang akan di export. Produk-produk yang dihasilkan mempunyai kualitas yang telah diterima oleh pasar internasional dan terdaftar dalam pasar bursa logam di London (London Metal Exchange). Kualitas setiap produk yang dihasilkan oleh perusahaan dijamin dengan sertifikat produk (weight and analysis certificate) yang berstandar internasional dan berpedoman kepada standar produk yang ditetapkan oleh LME sehingga dapat diperdagangkan sebagai komoditi di pasar bursa logam. Jenis-jenis produk yang diproduksi oleh PT Timah dibedakan atas kualitas dan bentuknya. Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas Banka Tin (99,9% Sn), Mentok Tin (99,85% Sn), Banka Low Lead (Banka LL) terdiri dari Banka LL 100ppm, Banka LL 50ppm, Banka LL 40ppm, Banka LL80ppm, Banka LL200ppm dan Banka Four Nine (99,99% Sn). Sementara bila berdasarkan bentuk dapat dibedakan atas Banka Small Ingot, Banka Tin Shot, Banka Pyramid, dan Banka Anoda. Selain itu juga ada Tin Alloy dan Pewter yang kadar Sn nya dapat dipesan sesuai dengan permintaan pembeli. Setelah selesai berbincang bincang dan mengucapkan terima kasih, jam sepuluh malam lewat kami pamit, pulang dan makan malam masakan Bibik Ida hasil belanja kami dari pasar, sayur pucuk ubi kayu masak santan cair ditambah ikan teri, udang goreng, sengkor bakar dan kecap rawit lemau calong. Pagi hari Sabtu ke pasar, penasaran mencari Penganan Pelite dan Alhamdulillah dapat, lalu sarapan di kedai kopi Café Bang Akhyar. Pulangnya singah ke rumah Kak Long dan ke rumah Pak We Mat. Setelah istirahat sebentar kami berangkat menuju Tanjung Ular yang baru baru ini ada Peletakan Batu Pertama kantor Tin Chemical, kawasan yang dibebaskan untuk proyek ini seluas 100 hektar. Dalam perjalanan menuju Tanjung Ular, kami mencari Kerupuk Ikan Tamban, warnanya abu abu hitam dekil tapi rasanya khas enak. Biasanya kami beli dari Mak Minah kampung Ulu, tapi katanya sudah pindah ke Teluk Rubiah, kami cari di Teluk Rubiah, sudah pindah ke Kampung Baru dekat rumah Pak Sulaiman Arang, tanya sana sini akhirnya ketemu juga rumah Mak Minah yang katanya nanti akan pindah lagi ke jalan Nur Subah dekat situ juga. Diseberang jalan menuju kampung Menjelang kami sempat memotret Bunga Kap Siauw Mentok yang sudah lama kami cari. Dulu waktu saya masih kanak kanak ada batang bunga kap siauw yang tumbuh di depan rumah Atok dan Nenek di tebing kampung Teluk Rubiah. Saya suka manjat untuk memetik bunganya, bunga kap siauw yang sudah mekar berwarna putih dan sangat harum baunya. Dari kampung Menjelang, terus melewati Batu Balai, akhirnya kami sampai di Tanjung Ular dan kami parkir didekat mercu suar, saya baru tahu kalau di Tanjung Ular ada mercu suar. Lalu kami turun menyusuri pantai, tidak sama seperti pantai umumnya, dipantai banyak batu yang berasal dari tanah liah yang sudah mengeras menjadi batu sehingga batu berwarna warni, pecahan atau bongkol batu yang terlepas dari induknya bagus untuk batu dasar tanaman bonsai atau penghias taman. Sayang pantai yang bagus ini sudah mulai tercemar dengan adanya kegiatan Tambang Liar di laut disekitar pantai. Dari Tanjung Ular, kami menuju Tanjung Kalian untuk makan siang di Pondok Santai, masakan khas hasil laut Mentok, ikan Jebung bakar, Cumi goreng, Tumis Kangkung, Sambal Kecap Rawit Lemau Calong dan Gulai Tomes Ikan Seminyak. Dari Tanjung Kalian pulang ke rumah, istirahat dan lepas Ashar berangkat menuju Pangkal Pinang. Bawa bibit pisang Rejang, pisang Madu, pisang Susu, pisang Raja, pisang Masak Hijau dan bibit Sawe Lile. Bibit sawe lile ini disemai Piyai dari biji yang kami pungut dari bawah pohon induk di kampong Ulu pada waktu kami ke Muntok bulan Maret 2009 lalu. Di Pangkal Pinang lepas Magrib cari Bubur Kacang Hijau & Kacang Merah sebelah toko Anggrek Pasar Pembangunan. Besoknya setelah sarapan Bubur Ayam Mas Sastro Samping Pengadilan, kembali lagi ke pasar untuk membeli merica bubuk dan merica bulat, serta melihat lihat pasar ikan, kemudian lewat Kampong dan Mesjid Jami’ Tua Tunu. Jam sepuluh kami diantar Piyai dan Cita ke Bandara Depati Amir untuk kembali ke Jakarta. Salam, Safri. Masa kecilku di Mentok, Bangka

Safri Ishak

/safriishak

TERVERIFIKASI

Saya lahir di Muntok Bangka tahun 1948, pensiunan IT, domisili Tebet Barat Jakarta, belajar menulis agar tambah kawan dan biar nggak cepat pikun.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana