Jadi Tersangka, Sekarang Farhat Abbas ‘Menjilat Pantat’ Ahmad Dhani

3 Maret 2014   03:22 Diperbarui: 24 Juni 2015   01:18 3235 1 0

SETELAH berstatus tersangka dan terancam digiring ke hotel prodeo, nyali Farhat Abbas semakin ciyut. Kali ini, dia kembali dengan kicauan tidak penting, tetapi perlu dibahas, agar bisa menjadi contoh yang memalukan, dan tidak diikuti oleh masyarakat.




Istilah yang paling kasar namun tepat untuk menggambarkan tindakan Farhat adalah: ‘menjilat pantat lawan’.  Sebelumnya Farhat Abbas selalu menyerang Ahmad Dhani dan keluarga, dengan kicauan-kicauannya yang menyudutkan Dhani, terutama soal kecelakaan Dul, Mulan Jameela, dan isu Dhani bangkrut.

Mengkritik berdasarkan fakta dan data itu baik, TAPI saat Farhat mengatakan Dhani BANGKRUT itu adalah pencemaran nama baik bagi seorang pengusaha (Dhani sebagai pemilik RCM-Republik Cinta Manajemen), karena dapat merusak kepercayaan dari rekan bisnis terhadap pihak yang bersangkutan.




Farhat pria yang berusia 38 tahun ini juga, sempat bertingkah kekanakan dengan membuat settingan di acara Infotainment INSERT, saat dia sengaja muncul ‘tiba-tiba’ dengan memakai sarung tinju, seolah-olah menantang Al yang berusia 16 tahun (putra tertua Dhani). UNTUNG, Al lebih bersikap DEWASA dan tidak terpancing dengan tingkah laku Farhat. Hal yang diharapkan oleh tim settingan Farhat adalah; Al emosi lalu menyerang Farhat, sehingga hal tersebut dapat dipermasalahkan, tapi itu tidak terjadi.


Banyak ahli jiwa dan pengguna media sosial yang berpendapat, bahwa Farhat Abbas adalah pria bertubuh dewasa, tapi bermental anak-anak. Secara ilmu psikologi, dan menurut pandangan umum, hal ini sering disebut ‘keterbelakangan mental’. (para pembaca bisa mencari video tentang Farhat Abbas menurut pakar/psikolog di Youtube)



Masyarakat juga sangat mendukung Ahmad Dhani, untuk terus memproses kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Farhat Abbas. Karena dengan begitu Indonesia bisa sedikit lebih bebas dari Badut Politik. Memang Badut Politik di Indonesia sangat banyak, yah salah satu contohnya Farhat Abbas.


Untuk yang belum tahu dan tidak mau tahu; Sekarang ini Farhat Abbas adalah salah satu kader dari Partai Demokrat yang masih terdaftar sebagai CALEG DPR RI, untuk DKI Jakarta, Dapil 3, daerah sepi untuk Demokrat (Jakarta Barat, Jakarta Utara, Pulau Seribu), dengan nomor urut 4.




Lalu, BAGAIMANA Partai Politik mempertanggungjawabkan hal-hal seperti ini? Secara KONDISI kejiwaan saja banyak CALEG yang bermasalah, belum lagi soal latar belakang caleg-caleg yang kelam tapi tidak pernah terekspos.


Dengan dikirimnya Farhat ke penjara, minimal salah satu badut parpol tersingkir, dan dapat menyelamatkan bangsa ini dari kebodohan.


BACA: "Farhat Abbas, Regina Jubir, Ilal Ferhard, Dan Kisah Perselingkuhan Yang Terulang Kembali Di Partai Biru"



Partai-partai sangat senang mengkoleksi badut-badut, karena iuran untuk dana kampanye dari mereka mengalir lebih deras. UNTUNG-nya masyarakat kita sudah lebih cerdas untuk menilai dan tidak akan memberi suara bagi mereka.


Ocehan Farhat selalu tidak bermakna, kalau pun bermakna, itu plagiat (a/ copy paste). Farhat selalu tidak bisa mempertanggungjawabkan ocehannya, Farhat sering mengoceh tentang hal-hal yang tidak bisa dia lakukan, atau yang tidak mungkin dia lakukan. Seperti misalnya saat dia mengoceh soal cinta, tapi ternyata dia pernah ‘menjedotkan’ kepala calon mantan isterinya ke tembok; Atau saat dia mengoceh soal kesetiaan, dan pernikahan, padahal dia punya segudang isteri siri, dengan anak hasil hubungannya yang selalu ditelantarkan.


Di media sosial Farhat juga sering dipanggil OM... maksudnya OMDO, omong doang. Followers-ya saja lebih memanfaatkan Farhat untuk JASA Retweet dan Mention di twitter, “OM retweet dong...”.


Tentang Nia Daniaty sendiri, belakangan beliau terlihat lebih BAHAGIA tanpa Farhat Abbas, dia bisa berkumpul dan bernyanyi lagi dengan teman-temannya. Tanpa BEBAN, wanita yang hampir berusia setengah abad ini pun terlihat lebih MUDA.


Begitulah DU-NIA tanpa Farhat Abbas...



-S. Deny-




“Salah satu cara menghentikan KEBODOHAN adalah dengan memunahkan KEBODOHAN itu.”(kata dasar dari ‘memunahkan’ adalah: PUNAH)


(Jika ada kesempatan saya akan memberi opini juga tentang badut-badut demokrat yang lain, para banci tampil. Yang katanya "LOW IQ, BANYAK OMONG", seperti Ruhut, Sutan, Nurhayati, Ilal dan Alaydrus. Mungkin Pak Presiden SBY tidak sempat membereskan kondisi sampah di Partainya. YUK kita bantu Pak SBY beresin badut-badutnya... setelah itu kita bantuin PARPOL yang lain... yang badutnya sama banyak.)


Semoga saja menjelang pemilu 2014, Pak SBY mau membereskan kondisi partainya, agar masyarakat bisa RESPECT lagi kepada Partai Biru yang dulu pernah jaya tapi sekarang... #RIPDemokrat.


Iklan: "YUK ikut Petisi ini di Change.org"


https://www.change.org/id/petisi/dr-h-marzuki-alie-buka-daftar-absensi-anggota-dpr