Semua Berawal dari Jakarta

08 Mei 2017 06:53:31 Diperbarui: 08 Mei 2017 07:34:00 Dibaca : 87 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :
Semua Berawal dari Jakarta
sumber: detik.com

Prosesi pilkada Jakarta sudah pada akhir hasilnya yaitu terpilihnya gubernur baru pilihan masyarakat  untuk kembali membenahi dan membangun Jakarta sesuai visi dan misi yang telah ditawrkan gubenrur terpilih. Porsesi selanjutnya adalah pelantikan pasangan gubernur terpilih oleh Menteri Dalam Negeri sekaligus berawalnya kepemimpinan Jakarta untuk 5 tahun kedepan. Jika mengikuti beberapa kali even depat candidat yang seru dan menanas, ada garis atau benag merah yang positif dan dilontarkan oleh gubernur terpilih yaitu pasangan Anies-Sandi, yaitu Anies-Sandi mengapresiasi kinerja dan hasil-hasil pembangunan Jakarta di bawah gubernur Ahok dan Jarot dan bahkan Anies-SAndi akan melanjutkanya jika memberikan kemanfaatan terhadap masyarakat dan pembangunan  Jakarta, namun akan menghentikan dan menggantikan program-program lain jika hal tersebut merugikan masyarakat dan pembangunan Jakarta.

Pernyataan ini tentu sangat proporsional dan patut mendapatkan apresiasi dan penghargaan sebagai sikap pemimpin. Tidak ada kesan permusuhan atau saling menyalahkan dalam konteks ini, namun Anies-Sandi juga sangat tegas terhadap prinsipnya disisi lain jika ada penyimpangan dalam regulasi/kebijakan di kota Jakarta terutama jika merugikan kepentingan bnayak pihak dan hanya menguntungkan beberapa pihak semata. Kasus reklamasi dan rasionalisasi kebersihana dan keindahan kota Jakarta denga menggusur dan meniadakan kaum lemah adalah satu satu regulasi/kebijakan yang tidak berkenan bagi Anis_sandi.

Tentu Jakarta 5 tahun ke depan akan menatap perubahan dan impact dari kemenangan Anies-Sandi sangat berpengaruh terhadap even-even politik kemudian hari terutama dalam menatap Pilpres 2019. Banyak pihak yang mengapresiasi terhadap partai pengusung Anies-Sandi dan keberhasilan operasi politiknya di DKI yang diamati oleh banyak pihak sangat seru dan sengit pertempuranya bahkan skala emosionalnya hingga nasional dan dunia. Keunikan dan keistimewaan pilkada Jakarta menjadi perhatian banyak pihak karena tidak hanya pertarungan demokrasi dan politis namun juga kental dengan pertarungan idiologi begitulah yang mencuat di medsos dan media menjelang putaran 1 dan 2 beberapa saat yang lalu.

Geridra dan PKS  berdiri dan di sikap yang jelas dan berani dengan berhadapan dengan partai-partai besar lainnya yaitu Golkar, PDIP dan PPP dalam hal ini jika pembandingnya jumlah partai adalah pertarungan yang tidak sebanding jumlahnya, logika mesin politik dan kekuatan logistik seharusnya Ahok-Jaror menang namun kenyataannya berbeda, justru Anies-Sandi Menang. Namun, sikap yang sangat posisitif yang ditunjukkan oleh pasangan Anies-Sandi di akhir debat sangat kesatria yaitu jika tidak berhasil di putran kedua atau kalah ia akan tetap mengambil sikap sebagai bagian dari pembagunan Jakarta dan akan mendukung program-program Ahok-Jarot jika untuk kepentingan masyarakat. Ini menujunukkan Anies-Sandi siap dalam segala hal termasuk kesiapan dalam mengelola Jakarta 5 tahun kedepan. Jakarta terlalu besar dan berat masalahanya siapapun yang akan memmimpin Jakarta harus bekerja keras dan penuh pengorbanan.

Namun yang menarik atas kemenangan Anies-Sandi adalah kaitanya dengan perfromance dan peta politik jelang 2019, mana masing masing partai harus segera mentata diri untuk menghadapi Pilkada, Pileg dan Pilpres pada waktu yang bersamaan. Tentu dibutuhkan modal psikologis yang mesin politik yang memadai dan kuat. Nampaknya ke dua partai solit yaitu Gerindra dan PKS telah mengambil hampir 50 % investasi untuk meraih kemenangan even Pilkada, Pileg dan Pilpres 2019 nanti. Kedua partai ini merasa lebih PD karena telah menunjukkan keberhasilan operasi politiknya di DKI yang tentu itu bukan hal yang mudah. Sementara partai-partai lain sedang dalam masa lelah dan memiliki beban psikologis yang sangat besar dihadapan publik karena telah menahan malu pada publik Jakarta dan nasional terutama partai-partai Islam yang berada di pihak Ahok_Jarot yang notabene sebagai penista agama dimasa sebelumnya. Proses hukum masih berlangsung dan terus mendapatkan kawalan masyarakat hingga keputusan hakim seadil-adilnya.

Arah, proses dan hasil politik memang unik dan diluar dugaan logika karena semua proses itu tidak aharus menang dan selesai dengan logistik, opini dan cara-cara kasar dan tidak proporsional, ada kekuatan lain yang menajdi pemicu kemenangan masyarakat Jakarta dengan gubernur barunya yaitu semangat persatuan dan kesatuan dan rasa memiliki Jakarta secara bersama tanpa mebedakan suku, agama dan ras. Nampaknya itulah senajata ampuh yang memuluskan Ahok tumbang dengan prilaku politiknya selama ini. masyarakat Jakarta sangat cerdas dan melek sejarah sehingga tidak memungkinkan cara-cara kolonial tumbuh di Jakarta melalui proses politik dan demokrasi. Pilkada Jakarta menjadi pejalaran berharga provinsii-provinsi lain yaitu memilih pemimpin sesuai hati nurani dan karakter Indonesia yaitu cerdas, berdedikasi, humanisme dan mengayomi itulah warisan kepemimpinan Indonesia sesungguhnya.

Prilaku kepemimpinan Jakarta diharapkan menjadi sumber inspirasi provinsi-provisni lain di Indonesia terutama dalam mengelola pemerintahan, demokrasi dan perilaku para pemimpinya. Jakarta harsu mampu menampilkan kenerjanya sesuai dengan yang amanahkan oleh UUD 1945 dan butir-butir dari pancasila. Jakarta adalah miniator kekuatan Indonesia sekaligus mencerminkan perilaku karakter masyarakatnya. 



Mr Sae

/sae

TERVERIFIKASI

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana