Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Tekno

Ganjalan Utama Riset Indonesia

14 Agustus 2017   08:48 Diperbarui: 14 Agustus 2017   16:28 148 1 0
Ganjalan Utama Riset Indonesia
riset-pemasaran-59916d52894eb10ca465a2a3.jpg

Jumlah tulisan akademisi Indonesia dalam jurnal-jurnal internasional meningkat. Tapi, kualitasnya tak serta merta berbanding lurus dengan pertumbuhan itu. Secara peringkat, Indonesia ada di tangga nomor 52 dari total 229 negara. Bukan hanya tak menonjol di lingkup ASEAN, Indonesia juga dikalahkan negara-negara yang tengah mengalami konflik seperti Mesir, Pakistan, dan Ukraina.

Alokasi anggaran riset atau penelitian di Indonesia masih rendah bila dibandingkan sejumlah negara lain. Nilai belanja penelitian itu setara dengan Rp 16 triliun hingga Rp 17 triliun, atau secara nasional hanya 0,2 persen per-Produk Domestik Bruto (PDB). Jumlah tersebut masih jauh dibandingkan dengan negara-negara lain. Idealnya, alokasi anggaran riset 2 persen.

Korea sudah punya 4,2 persen per-GDP; Tiongkok sudah lebih dari 2; Singapura ada 2,1 persen; Malaysia 1 persen. Anggaran riset secara nasional, dihitung berdasarkan alokasi dana yang dikeluarkan seluruh institusi, industri, dan masyarakat. Tingginya alokasi anggaran riset berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Negara-negara maju banyak menghabiskan dananya bagi kepentingan riset. Terbukti, semakin tinggi anggaran riset yang dialokasikan oleh suatu negara atau institusi, semakin maju negara atau institusi itu.

Anggaran riset Malaysia (1,25 persen), China (2,0 persen), Singapura (2,20 persen), Jepang (3,60 persen), Korea Selatan (4,0 persen), dan negara-negara maju OECD seperti Jerman (2,90 persen), Swedia (3,20 persen), AS (2,75 persen). Bahkan dari total anggaran riset yang ada, sekitar 80 persen berasal dari anggaran pemerintah, hanya sekitar 20 persen saja berasal dari industri dan swasta. Hal itu berbeda dengan negara yang sudah maju, anggaran riset dari industri sudah mencapai 75 persen. 

Jumlah tulisan akademisi Indonesia dalam jurnal-jurnal internasional meningkat. Tapi, kualitasnya tak serta merta berbanding lurus dengan pertumbuhan itu. Menristekdikti menyatakan akan mengubah pola riset yang tadinya berpola hulu-ke-hilir menjadi hilir-ke-hulu. Meski demikian, tidak berarti kementerian tidak mendukung pola riset hulu-ke hilir. Korea dan Jepang risetnya sudah dari hilir ke hulu, namun hulu ke hilirnya juga sudah kuat.

Pemerintah menginginkan riset berguna secara praktis untuk kebutuhan industri, bukan meminggirkan riset yang tidak berhubungan langsung dengan industri. Dengan pola ini, diharapkan ada sinergi antara industri dan lembaga riset. Industri yang saat ini bekerja sama dengan kemenristedikti meliputi bidang farmakologi, pangan, teknologi informasi, dan industri penerbangan. Totalnya ada 27 ragam industri.

Tahun 2015, Indonesia berhasil memublikasikan 5.421 karya ilmiah di jurnal internasional. Itu sudah melebih target yang ditetapkan, yaitu 5.008. Secara peringkat, Indonesia ada di tangga nomor 52 dari total 229 negara. Dibanding Singapura saja, Indonesia kalah telak. Pada 2014, menurut data www.scimagojr.com, Indonesia menerbitkan 5.499 jurnal ilmiah pada publikasi-publikasi internasional. Tak hanya kalah dari Singapura, negara ini juga kalah dari Malaysia dan Thailand. Tiga negara itu menghasilkan angka masing-masing 17.198, 25.330, dan 12.061 jurnal.

 Bukan hanya tidak menonjol di lingkup ASEAN, Indonesia juga dikalahkan negara-negara yang tengah mengalami konflik seperti Mesir, Pakistan, dan Ukraina, yang masing-masing peneliti di negaranya memproduksi 14.196, 10.541, dan 9.218 jurnal ilmiah. Itupun masih ada catatannya. Dari lima ribuan naskah jurnal yang dipublikasikan, tak semua berasal dari riset terbaru. Kebanyakan di antaranya berasal dari makalah seminar. 

Mencermati perkembangan demikian Indonesia harus segera mengambil sikap kongkrit, sistematis dan cepat dalam mengejar ketertinggalan baik secara kualitas dan kuantitas riset dan hasil-hasil yang telah dicapai. Persoalan utama yang mejadi melambatnya pertumbuhan dan kemajuan riset di Indonesia tidak hanya terletak pada minimnya anggaran dan masih rendahnya tradisi ilmiah/meneliti, namun secara proporsi atau rasio antara jumlah penduduk, bidang garapan riset dan jumlah peneliti belum seimbang gapnya sangat tinggi disamping masalah kapsitas/kualitas peneliti masih belum maksimal. Untuk itu perlu dilakukan regulasi terkait perbaikan kualitas sistem pendidikan nasional yang mengarah kepada tradisi riset terutama bidang-bidang keilmuan non sosial.

Penekanan jumlah anggaran pada sisi lain bukan solusi utama dalam meningkatkan kapasitas/kualitas riset Indonesia, namun pembenahan secara nasional sistem pendidikan berbasis riset menjadi sangat penting terutama mulai tingkat pendidikan menengah umum hingga perguruan tinggi. Peluang untuk menjadi negara maju dan modern sangat terbuka untuk Indonesia, namun pembenahan dan peningkatan kualitas dan kuantitas riset menjadi sangat penting dimasa mendatang.