syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Ke Parepare, Kota Kelahiran BJ Habibie

16 Juli 2017   06:52 Diperbarui: 16 Juli 2017   07:53 84 0 0
Ke Parepare, Kota Kelahiran BJ Habibie
Dokumentasi Pribadi

Ini bukan kota Pare yang di Kediri, Jawa Timur. Ini Parepare, kota terbesar kedua di Sulsel, yang berjarak sekitar 150 km ke arah utara dari  Makassar.

Jika datang dari arah selatan, atau dari Makassar, menjelang memasuki kota Parepare, pengendara atau pengunjung akan disambut sebuah gapura dengan tulisan mencolok mata: "Di Kota ini Lahir Pemimpin Bangsa Presiden III, Prof. Dr. ING. Bacharuddin Jusuf Habibie".

Parepare bukan kota asing buat saya. Karena sejak awal 1980-an, dari kampung (di Polmas) ke Makassar atau dari Makassar pulang kampung, pasti melewati Parepare. Tapi setiap melewati Parepare, aku merasa seolah memasukki kota baru. Bukan karena bangunannya, atau ada perubahan signifikan, tetapi karena saya tak bisa menghapal jalan-jalannya. Selalu nyasar atau hampir nyasar. Hal sama terjadi lagi ketika saya kembali berkunjun ke Parepare pada 15-16 Juli 2017. Saya bahkan membatin: jangan-jangan kota ini seolah tak rela aku mengenalnya lebih jauh.

Dan sejak dulu, Parepare memang dikenal lebih sebagai kota pelabuhan, terutama untuk pelayaran tujuan Kalimantan. Dan seperti kota pelabuhan lainnya, di jantung kota Parepare juga ada jalan atau kawasan, yang setara dengan Jalan Nusantara di Kota Makassar, yang populer dengan kehidupan malamnya.

Kalau dilihat melalui analisis yang berbasis geografis, Parepare mirip dengan Kota Cirebon di Pantura. Semua melewatinya tapi jarang yang mampir. Karena posisi geografis yang tanggung. Tidak memiliki keunggulan local genius secara grografis.

Waktu tempuh kendaraan dari Makassar ke Parepare sekitar 2,5 jam, paling lama 3 jam, atau setara waktu tempuh antara Jakarta-Bandung.

Dan berdasarkan pengamatan sekilas, nyaris tidak ada perkembangan siginifikan di Parepare, meski sudah lama menjadi Kotamadya. Persis seperti Cirebon dalam posisinya sebagai kota kedua setelah Bandung di Jawa Barat.

Pada akhir tahun 1970-an sampai awal 1980-an, kalau kita berangkat dari Makassar di pagi hari dengan tujuan Polmas atau Toraja, kita akan sampai di Parepare sekitar pukul 11.00 -12.00 WITA. Dan umumnya kendaraan akan mencari restoran di Parepare atau sekitarnya untuk makan siang.

Namun seiring dengan pembangunan jalan, terutama ruas jalan dari arah Makassar yang sudah dua lajur untuk masing-masing arah, waktu tempuh semakin cepat. Artinya kalau berangkat dari Makassar jam 07.00, kita akan tiba di Parepare sekitar pukul 10.00 WITA, dan karena belum waktunya makan siang, pengendara cenderung tidak mampir di Parepare.

Padahal, Parepare memiliki semua keunggulan untuk menjadi kota wisata. Pantai panjang yang tertata rapi dengan view sunset yang menawan, bagian kota atas (wilayah kota di atas gunung yang menawarkan pemandangan memukau di siang apalagi di malam hari), kota bawah (kota lama), pelabuhan dengan segala pernak-perniknya. Dan tentu saja pemandangan pantai panjang, yang memperlihatkan lekukan tanjung Ujung Lero.

Senja di Parepare menjelang sunset, diambil dari Parepare atas, pada 15 Juli 2017 (Dokumen pribadi).
Senja di Parepare menjelang sunset, diambil dari Parepare atas, pada 15 Juli 2017 (Dokumen pribadi).

Parepare mungkin hanya kekurangan sentuhan kreativitas.

Dan untuk mendongkrak pamor Parepare, tidak akan cukup hanya dengan memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Tapi diperlukan kreativitas terobosan, yang benar-benar baru dan genuine, dan dirancang sebagai keunggulan yang menarik pendatang.

Jika tidak, Parepare akan terus mengalami nasib seperti Cirebon di Pantura, atau mungkin lebih parah. Sebab Cirebon masih memiliki Keraton dan makan Sunan Gunungjati.

Mungkin sebagai perbandingan, kota Pare di Kediri menjadi terkenal setelah membangun "Kampung Inggris", yang bahkan telah menjadi tujuan wisata dan pendidikan (belajar Bahasa Inggris) secara nasional.

Atau kalau mau terobosan yang sederhana, membangun "Museum Habibie" yang didesain secara profesional. Bukan sekedar Patung Habibie-Ainun. Sehingga siapapun, jika ingin mengetahui tentang BJ Habibie, harus berkunjung ke Parepare.

Artinya Parepare sebenarnya bisa menjadi kota tujuan kedua bagi pengunjung ke Makassar. Masalahnya, hingga saat ini, kayaknya, tidak ada "alasan yang cukup menggoda", yang mampu membuat pengunjung di Makassar mau bela-belain berkunjung ke Parepare.

Syarifuddin Abdullah |  Ahad 16 Juli 2017 / 22 Syawal 1438H.