Mohon tunggu...
Rumah Kayu
Rumah Kayu Mohon Tunggu... Administrasi - Catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Ketika Daun Ilalang dan Suka Ngeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mencegah Ketergantungan si Kecil pada Bantal, Guling, atau Benda Tertentu

27 Desember 2015   18:08 Diperbarui: 27 Desember 2015   19:56 1101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tentang benda kesayangan si kecil

BARUSAN aku membaca tulisan yang dibuat oleh Umm Mariam. Tentang benda kesayangan si bungsu, sebuah guling yang dipanggilnya Mr. Dinosaur, yang harus dibawa kemana- mana, dan upaya- upaya yang dilakukan oleh Umm Mariam (beserta seluruh keluarganya) untuk melepaskan si bungsu dari ketergantungannya pada benda tersebut.

Aku jadi teringat, hal yang sama pernah terjadi pada anakku. Si sulung bayi perempuan kami ketika itu, sangat tergantung pada dua benda. Satu adalah sebuah boneka, soft toy berwarna putih pink yang sebab karena bentuknya kami namai Si Ndut, yang lain adalah guling bayi, beserta sarung gulingnya yang bermotif bunga- bunga.

Dua benda itu, dibawa kemanapun dia pergi.

Terutama gulingnya.

Guling itu, tentu saja, sebetulnya ada sepasang. Begitu juga dengan sarung gulingnya. Tapi guling kesayangannya hanya satu dari dua guling sepasang itu. Juga sarungnya, salah satu yang tertentu.

Si sulung bahkan akan tahu jika gulingnya benar ‘yang itu’, tapi sarungnya adalah sarung lain yang sebetulnya motifnya serupa. Entah bagaimana, dia tahu bahwa sarungnya ‘bukan yang itu’.

Mula- mula, seperti banyak orang tua lain, kami menganggap kebiasaan itu lucu. Dan kami turuti saja, kemanapun pergi, ‘guling bau’ – begitu kami menyebutnya – kesayangan si sulung juga akan ikut. Terutama jika kami akan pergi keluar kota, guling ini akan kami pastikan turut terbawa. Sebab jika tidak, bayi mungil kami itu akan rewel jadinya.

Sampai kemudian suatu saat, saat dia beranjak besar (rasanya sekitar usia dua tahun), kami menganggap sudah waktunya ketergantungan dia pada guling itu dihentikan.

Yang kami lakukan saat itu bertahap. Mulanya, kami menyengaja memasangkan sarung bantal yang serupa motifnya dengan yang biasa dia pakai pada guling kesayangannya. Jika dia bertanya, kami akan mengatakan bahwa sarung guling yang biasanya sedang dicuci. Nanti diganti lagi.

Kami memang melakukannya selang- seling. Sarung guling ‘yang benar’ masih kami pasangkan juga kemudian, untuk sekedar membuatnya merasa aman, tahu bahwa sarung guling kesayangannya masih ada. Tapi hanya untuk periode pendek, kami ganti lagi dengan sarung guling yang sama motifnya tapi bukan sarung guling yang biasa dipakainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun