Manusia, Cinta, dan Benci

22 April 2012 17:38:01 Dibaca :
Manusia, Cinta, dan Benci
( foto: www.layoutsparks.com )

Bulan separuh memancarkan cahaya di langit malam.

KUTI menonton film di televisi di ruang keluarga rumah kayu. Dee juga ada di ruangan itu, berbaring sambil meletakkan kepalanya di pangkuan suaminya. Entah apa judul film yang ditonton Kuti, Dee tak terlalu memperhatikan. Dia sendiri tak ikut menonton film. Sebelumnya, dia membaca koran. Kini, dia tak melakukan apa- apa. Dia ada di situ karena ingin berada dekat dengan Kuti, itu saja.

Sambil menyaksikan film di televisi, Kuti membelai- belai punggung sang istri dengan sayang. Dan Dee, tentu saja,  dengan senang hati menikmati kehangatan belaian itu sementara angannya melayang ke berita yang tadi dibacanya di koran.

Tadi, Dee membaca berita tentang tawuran yang mengingatkannya pada peristiwa yang pernah dia saksikan ketika suatu hari dia menjemput Pradipta dari sekolah.

Dee menyaksikan tawuran di jalan saat itu. Entahlah apa itu tawuran antar kelompok, atau pengeroyokan, persisnya. Sebab dari apa yang Dee lihat, ada seorang anak tanggung yang luka di pelipisnya dan sekelompok anak tanggung lain yang berlarian bersama ke sebuah gang. Bisa juga yang disaksikannya ketika berada di dalam angkot dengan Pradipta ketika itu adalah pengeroyokan satu kelompok pada seseorang, bukan tawuran antar dua kelompok.

Dee masih ingat pertanyaan- pertanyaan Pradipta yang diajukannya tentang tawuran yang dilihatnya ketika itu. Pradipta mempertanyakan mengapa tawuran bisa terjadi. Mengapa mereka berkelahi beramai- ramai. Apa sebabnya, dan sebagainya.

Dan beragam pikiran muncul di kepala Dee. Di angkot ketika itu, Dee menceritakan secara sederhana pada Pradipta tentang cinta, benci dan egoisme, sebab tawuran, menurut pendapat Dee, sumbernya adalah kebencian dan egoisme.

Tentu saja saat itu dia bicara dengan bahasa kanak- kanak pada Pradipta.

Tapi malam ini, Dee berpikir dengan cara yang lebih kompleks dari apa yang pernah diterangkannya pada Pradipta. Dee teringat suatu bab dalam buku filsafat yang pernah dibacanya. Bab yang membahas tentang manusia dalam hubungannya dengan manusia lain, rasa cinta, benci dan egoisme.

Manusia, menurut apa yang pernah dibacanya itu, dalam dan dengan mengakui adanya diri sendiri juga mengakui adanya manusia lain. Diberikan contoh disana dengan ilustrasi tentang permainan bulu tangkis atau catur. Ketika bermain bulu tangkis atau catur, maka yang terjadi adalah suatu permainan bersama. Permainan tidak dapat terjadi jika yang ada hanya sepihak.

Benar bahwa suatu permainan kadang- kadang bisa juga dilakukan sendiri, seperti dalam permainan catur, misalnya. Tapi ketika bermain sendiri tersebut, sebenarnya manusia 'menjadikan dirinya jadi dua'. Dia bermain dengan dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa permainan itu menurut struktur adalah permainan bersama.

Demikian juga ada ‘kita’ itu. Menurut strukturnya, ada kita itu berupa ada bersama. Manusia tidak hanya meng-Aku, tapi juga meng-Kita.

Dalam hal ini, ada bersama itu seharusnya berarti berada bersama dengan hormat dan cinta kasih.

Tentu saja, terkait dengan tawuran, sehari- hari kita juga melihat kebencian dalam hubungan antar manusia. Dan pada dasarnya, menurut tulisan yang dibaca oleh Dee itu, sebenarnya kebencian itu melawan kodrat manusia.

Secara kodrati, manusia itu merupakan kecintaan.

Tapi, berlainan dengan hewan dan tumbuh- tumbuhan, manusia tidak diniscayakan oleh kodratnya. Manusia dapat menyangkalnya. Jika dia taat dan menjalankan kodratnya, dia cinta. Tapi jika dia memungkiri, memutar balik, maka bencilah yang terjadi.

Dee teringat juga kepingan lain yang pernah dibacanya. Bahwa dalam cinta kasih terkandung juga rasa hormat pada manusia lain. Cinta kasih tanpa hormat, tanpa menjunjung tinggi, tak mungkin terjadi. Buku yang pernah dibaca Dee mengatakan, barang siapa mengaku dan merasa cinta, tetapi memperalat yang dicintai untuk kepentingan diri sendiri, maka hal itu bukan merupakan cinta yang sebetulnya, tapi egoisme.

Cinta, konon berarti mengakui dan menghormati sesama manusia sebagai pribadi (persona), dan persona tidak boleh dijadikan objek, tidak boleh disamakan dengan barang. Dengan sendirinya, hal tersebut berarti menolak perbudakan, menolak penghisapan, dan sebagainya, dari sesama manusia.

Pada intinya, apa yang tidak diinginkan untuk diri kita sendiri, janganlah dilakukan terhadap sesama manusia. Itu rumusannya.

Diterangkan juga disana bahwa pada dasarnya, cinta selalu berusaha mempersatukan segala- galanya, sementara benci terus menerus berusaha memisahkan.

Jika hanya ada rasa cinta dan persaudaraan yang ada, maka dengan sendirinya tawuran dan permusuhan tak akan terjadi. Sayangnya, seringkali hal tersebut dirongrong oleh egoisme, baik egoisme pribadi maupun kelompok.

Tawuran seperti yang pernah disaksikan Dee dan Pradipta menunjukkan dengan jelas hal itu. Seseorang yang berada di luar suatu kelompok tertentu diserang. Entah apa sebabnya. Barangkali ketidak sepakatan tentang sesuatu. Perbedaan pendapat. Mungkin juga perkaranya sebetulnya kecil dan sepele saja. Hal- hal yang jika saja dipandang dengan sudut dan rasa cinta sebenarnya dapat merupakan suatu harmoni, tapi kemudian dipertentangkan.

Terjadinya tawuran, salah satu sebabnya adalah solidaritas sempit dalam kelompok. Persaudaraan seringkali disempitkan hanya berlaku di suatu kelompok kecil yang homogen atau sepaham saja. Padahal jelas bahwa manusia itu beragam. Perbedaan itu ada. Dan jika karena perbedaan itu maka seseorang dengan yang lain tak dapat menyebut diri dengan “kita”, maka permusuhan dan kebencian itulah yang terjadi. Buntutnya, adalah perkelahian. Pengeroyokan. Tawuran.

Dee menarik nafas panjang. Cinta yang seharusnya sederhana karena merupakan kodrat manusia ternyata memang tidak sesederhana itu dalam penerapannya…

p.s :

Referensi - Karya Lengkap Driyarkara, Esai- Esai Filsafat.

Rumah Kayu

/rumahkayu

TERVERIFIKASI (BIRU)

Ketika daunilalang dan sukangeblog berkolaborasi, inilah catatannya ~ catatan inspiratif tentang keluarga, persahabatan dan cinta...
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?