Belajar Manajemen Mudik dari China

29 Agustus 2011 17:27:26 Dibaca :

Kalau Anda berpikir bahwa tradisi mudik hanya ada di Indonesia bersiaplah untuk mendapati bahwa ternyata tradisi mudik juga dilakukan oleh berbagai bangsa di dunia. Salah satunya adalah bangsa China yang melaksanakan tradisi mudik untuk menyambut musim semi atau juga disebut tahun baru imlek. Perayaan musim semi tersebut mengikuti penanggalan China yang menggunakan sistem lunisolar (perpaduan lunar dan solar).




Orang-orang yang bekerja atau belajar di berbagai kota pulang ke tempat asalnya untuk merayakan datangnya musim semi dengan berkumpul bersama keluarga. Sesuai tradisi, para pemudik tersebut pulang dengan membawa hadiah yang akan dibagikan pada orang tua dan kerabat. Kebiasaan ini secara tidak langsung menggambarkan tingkat kemakmuran yang dicapai para pemudik di perantauan. Sebuah tradisi yang mirip dengan tradisi mudik di Indonesia.


Setiap lebaran orang-orang yang merantau di kota-kota besar pulang ke kampung halaman untuk bersilaturahmi dengan orang tua dan kaum kerabat. Sebagai gambaran kesuksesan, para perantau tersebut pulang dengan membawa berbagai atribut; perhiasan, kendaraan, pakaian, dan berbagai aksesori lainnya. Bagi para kerabat di kampung halaman, inilah saatnya kecipratan rejeki yang dibawa para pemudik dari perantauan.


Begitulah secuil gambaran menyenangkan dari tradisi mudik. Bertemu keluarga dan berbagi kebahagiaan melalui rejeki yang telah didapat. Di sisi lain, mudik merupakan sebuah gambaran perjuangan mulai dari mencari tiket transportasi sampai berjubel dan berebutan untuk memastikan terangkut sampai kampung halaman.


Pada tahun 2010, Kementrian Perhubungan RI mencatat tidak kurang 15 juta perjalanan mudik dilakukan menggunakan moda transportasi darat, laut, maupun udara selama 14 hari dari H-7 sampai dengan H+7. Angka tersebut diperkirakan mencapai 15,5 juta pada musim mudik tahun 2011 . Jumlah yang sangat besar, namun belum apa-apa jika dibandingkan dengan jumlah perjalanan mudik di China dalam menyambut perayaan musim semi. Jumlah perjalanan mudik yang berlangsung selama 40 hari tersebut mencapai miliaran perjalanan dan melibatkan ratusan juta penduduknya. Begitu masif sehingga disebut sebagai the largest annual migrant travel in the world atau pergerakan tahunan manusia paling kolosal di kolong langit.


Pada peryaan musim semi atau tahun baru imlek 2010, tercatat 2,54 miliar perjalanan dilakukan selama 40 hari dari tanggal 30 Januari sampai 10 Maret 2010. Dari jumlah tersebut 2,27 miliar perjalanan dilakukan dengan bus, 32 juta perjalanan dengan kapal, 210 juta dengan kereta api dan 28,94 juta dengan pesawat. Pada tahun 2011, jumlah perjalanan pada perayaan musim semi mencapai 2,85 miliar selama periode 19 Januari sampai dengan 30 Februari 2011.


Begitu padatnya perjalanan mudik di China, sampai-sampai beberapa laman panduan perjalanan menghimbau para pelancong dari luar negeri untuk menghindari berkunjung ke China selama periode perayaan musim semi yang dikenal sebagai Chun Yun. Selain karena kepadatan pemudik, untuk memperoleh tiket transportasi berbagai modapun tidak mudah. Dalam berbagai media online, para pelancong asing melaporkan bahwa sistem antri seringkali tidak berlaku pada periode ini. Calon penumpang berdesak-desakan berebutan untuk mendapatkan tiket sampai naik kendaraan yang akan ditumpangi. Belum lagi perjuangan ekstra yang dibutukan untuk menghadapi cuaca musim dingin yang seringkali tidak bersahabat.


Seperti halnya Indonesia, sulitnya memperoleh tiket termasuk kereta api tersebut ujung-ujungnya memunculkan praktik percaloan yang seringkali melibatkan orang dalam. Modus operandi para calo tiket kereta api di China adalah dengan memborong tiket untuk kemudian menjualnya dengan harga berlipat. Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah China mencoba menerapkan sistem tiket berdasar nama seperti yang diterapkan pada pesawat udara. Pada saat membeli tiket, calon penumpang diharuskan menunjukkan kartu identitas diri. Begitu juga pada saat calon penumpang akan memasuki peron. Petugas akan memeriksa nama yang tercantum di tiket dan mencocokkannya dengan nama pada kartu identitas.


Sebenarnya praktek tiket dengan nama tersebut juga telah berlaku di Indonesia meskipun tampaknya hanya sekadar formalitas. Berbeda dengan praktik di China, pembelian tiket di Indonesia tidak mensyaratkan calon penumpang untuk menunjukkan kartu identitas. Ujungnya dapat ditebak. Siapapun dapat membeli tiket dan menjualnya kembali pada calon penumpang sebenarnya dengan harga sampai 2 kali lipat. Penumpang dengan tiket atas nama orang lain bukanlah masalah karena absennya pemeriksaan.


Kebijakan tiket dengan nama diujicoba oleh Kementerian Perhubungan China pada perayaan musim semi tahun 2010. Pada tahun 2011, implementasi sistem tersebut berlaku untuk seluruh kereta api berkecepatan tinggi yang melaju dengan kecepatan minimal 200 km / jam. Meskipun kebijakan ini belum diterapkan secara menyeluruh, namun upaya tersebut paling tidak memperlihatkan kesungguhan pemerintah China untuk mengurai masalah transportasi tahap demi tahap.


Dan para calon pemudik di China menanggapinya dengan penuh antusias, meskipun masih ada beberapa pihak yang skeptis dengan kebijakan tersebut. Dalam salah satu media online dilaporkan seorang calon penumpang menyatakan bahwa kebijakan tersebut hanyalah akal-akalan pemerintah China agar terlihat sibuk dan perhatian. Calon penumpang tersebut memperkirakan akan muncul modus korupsi dan percaloan dalam bentuk yang berbeda. Namun secara umum banyak pihak di China menyambut baik kebijakan tersebut dan menyatakan bahwa sistem tersebut telah mempermudah proses pembelian tiket dan memberikan sedikit rasa keadilan. Orang yang datang awal akan mendapatkan tiket lebih dulu. Sebelumnya orang yang datang awal dan mengantri seringkali telah kehabisan tiket pada saat sampai di depan kasir. Persis seperti di Indonesia bukan?


Sayangnya saat China telah selangkah demi selangkah memperbaiki sistem transportasinya, Indonesia masih berkubang dengan kemacetan mudik yang tidak terpecahkan, aksi calo yang memborong tiket, sampai pada jumlah kecelakaan lalu lintas yang cukup tinggi. Akibatnya banyak orang memilih untuk mudik dengan menggunakan sepeda motor yang sebenarnya tidak layak untuk perjalanan jauh. Sejauh ini nampaknya para pemudik masih hanya sebatas berharap untuk mendapatkan layanan transportasi mudik yang nyaman. Walaupun memang disadari, selain masalah komitmen, biaya yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas sistem transportasi untuk memperlancar mudik cukup besar. Kementerian Perhubungan China konon menghabiskan 100 juta yuan untuk menerapkan sistem tiket kereta api dengan nama tersebut.


Jadi jangan membayangkan bahwa hanya Indonesia sajalah yang mengalami permasalahan mudik yang menguras tenaga. Bangsa lain juga mengalaminya. Bedanya mereka belajar dan berupaya nyata untuk semakin memperbaikinya. Dan tentunya tidak salah kiranya jika Indonesia belajar manajemen mudik dari China karena konon tuntutlah ilmu sampai ke negeri China.

Selamat Idhul Fitri, minal aidzin wal faizin.

Sumber : China Daily, China Travel Guide

Sulistiyo Kadam

/ruangtunggu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Kumpulan Kata dan Rasa
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?