Intan Rosmadewi
Intan Rosmadewi lainnya

Pengajar, Kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain ; sesungguhnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri QS. Isra' ( 17 ) : 7

Selanjutnya

Tutup

10 Halaman Indah Novel Luka dalam Bara Membangunkan Masa Bercinta

3 Mei 2017   21:55 Diperbarui: 3 Mei 2017   22:36 101 3 1
10 Halaman Indah Novel Luka dalam Bara Membangunkan Masa Bercinta
Tanda Tangan Penulis dan Cover (pict:dok.pribadi

Sebagaimana diungkapkan penulisnya  Bernard Batubara  bahwa buku  #lukadalambara  adalah bukan novel biasa,  lebih pada diary antara sang penulis dengan seorang gadis yang sama dengan dirinya suka menulis.

Selama masa mereka saling memadu kasih komunikasi dilakukan dengan saling menulis khususnya di blog tumbler dan terjadi seakan seperti berbalas pantun tentang hari – hari yang mereka lewati tercatat dengan apik dan bermakna cukup dalam.

Terkadang saling bertemu dan terdokumentasi bagaimana mereka mengungkapkan  perasaan yang sederhana bahkan  hanya berjumpa bertatapan ada gelegak jiwa yang kadang sulit di tolerir mereka berdua saja menikmati tulisan harian tersebut.

Belakangan tulisan itu menjadi semacam prasasti atau batu nisan dari hubungan keduanya, karena sang gadis yang suka menulis dan membaca berbagai buku – buku yang lebih logik itu telah menyandang kata   ‘mantan’    kekasih Bernard Batubara.

halaman demi halaman (pict:dok.pribadi)
halaman demi halaman (pict:dok.pribadi)

Halaman – halaman Indah

Saat mengikuti acara  Book Talk  Meet’n Great  Bernard Batubara  dan @alvinxki di Gramedia jalan Merdeka Bandung pada hari Senin (01/05/2017)   sekitar jam 11 lewat beberapa menit,   penulis tampil dengan t’shirt berwarna putih dan setelan jins tampak dari kejauhan   postur tubuhnya  lumayan  tinggi.

Karena si penulis dalam paparannya telah mengatakan bahwa ini bukan ‘novel biasa’  maka sayapun bereksperimen membacanya dari belakang kisah tentang  :   ‘Ingatan – ingatan yang Hanya Samar’ terletak pada halaman 87 dari :  


Bukan Novel Biasa (pict:dok.pribadi)
Bukan Novel Biasa (pict:dok.pribadi)

  Novel                                       :   Luka Dalam Bara

Penulis                                     :   Bernard Batubara

Ilustrasi Sampul dan Isi        :   @alvinxki

Penerbit                                   :   Noura (PT.Mizan Publika)

Penyunting                               :   Teguh Afandi

Penyelaras  Aksara                :   Nunung Wiyati

  • Halaman Delapan Puluh Tujuh

“Aku jatuh cinta padamu ketika mengetahui bahwa kamu adalah seorang yang  senantiasa jatuh cinta pada kata – kata” 

Bahwa kebiasaan penulis mencoret – coret novel meskipun masih baru ada perasaan sempurna saja jika buku penuh coretan dan garis  pada kata – kata yang saya anggap penting atau menarik, memang berbeda dengan kebanyakan rekan yang rajin membaca dan menulis (blogger).     Kalimat yang meluncur dari mereka rata – rata   “sayang koq novel di coret – coret”

Dari 100 halaman jumlah novel Luka Dalam Bara maka dua baris awal tersebut menjadi kalimat yang pertama di coret baris bawah.

Saat membaca kata – kata tersebut tentu merasakan sensasinya bahwa seharusnya dari sejak halaman pertama kalimat ini muncul jadi memang ini tidak biasa.

Kalimatnya teramat sederhana namun seperti bernyawa kemungkinannya ini dituliskan dengan perasaan yang tulus dari seorang pemuda yang tengah kasmaran.

Dan kalimat ini tentunya terasa  mewakili dari para penulis muda yang juga tengah jatuh cinta pada sesama penulis lainnya

#romantis euy . . . !  

  • Halaman Delapan Puluh Tujuh

“Tetapi,  kita tahu,  cinta justru lebih sering tumbuh pada pertemuan – pertemuan yang tidak di bebani harapan apapun”. 

Banyak orang yang kasmaran tidak sadar diri bahwa percintaan mereka penuh tantangan dan resiko, di novel – novel atau cerpen sebuah percintaan di kisah dengan variasi resiko yang berlimpah, ketika kalimat tersebut  bahwa pertemuan tidak di bebani apapun ya iyalah namanya jatuh cinta pasti pakai kalimat diplomatis,  cara berdiplomasi sang pemuda pada sang pemudi inilah kekuatan sang pecinta

#natural dan alami tentu bisa di maklumi bagi pembaca yang telah melewati masa bercinta seperti ini.

  • Halaman Delapan Puluh Tujuh

“Aku berusaha mengendalikan diri. Beberapa kali memandang ke lain.  Sorot matamu itu . . . semoga kamu tidak menangkap gelagat salah tingkahku.  Mungkin tentang satu hal ini kamu belum tahu :  kamu perempuan pertama yang mampu membuatku salah tingkah, hanya lewat tatapan.”  

Yakin saja bahwa baik pemuda atau pemudi jika mengalami perjumpaan demi perjumpaan yang keduanya tengah kasmaran,    keduanya akan salah tingkah dan ini di ungkapkan begitu rupa sehingga terasa istimewa.

Istimewa karena getaran di jiwa yang terasa memang abstrak kemudian jika kita berjumpa dengan Sang Pecipta getarannya seperti apa ?  ah ya . . . . tidak sampai kesana levelnya terlalu jauh.

Batu Nisan 'Mantan' (pict:dok.pribadi)
Batu Nisan 'Mantan' (pict:dok.pribadi)

  • Halaman Delapan Puluh Sembilan

“Bagaimana bisa kita bertemu dengan orang asing  tetapi merasa sangat akrab saat berada di dekatnya ?   pada saat itulah aku seakan memercayai reinkarnasi. Jangan – jangan, sebelum di kehidupan ini,  kita telah bertemu di kehidupan lampau”.

Bagi saya ungkapan seperti ini mungkin benar adanya.

Akan tetapi belum membaca penafsiran lebih mendetail yang lekat dalam ingatan sebelum mencapai fase alam rahim di mana kita mempelajari secara ilmiah  adanya perjumpaan sel telur (ovum) dengan sperma kemudian calon makhluk manusia ada dalam rahim ibundanya masing – masing,  sebelumnya ada  fase alam sulbi  yang diungkap dalam QS. Al – Araf (7) : 172

Ada semacam kemungkinan – kemungkinan orang yang merasa pernah berjumpa di suatu masa karena merasa nyambung dan akrab bahkan mungkin dengan suami kita yang berjodo hingga mati memisahkan dan tidak mencari pasangan lagi seusai perpisahan karena wafat atau karena sebab lain jika merujuk ke ayat al quran tersebut bisa jadi di fase alam sulbi memang kita sudah dipertemukan oleh Nya.

  • Halaman Tujuh  Puluh Delapan

“Menyelam dan tenggelam adalah dua hal yang berbeda,” kata-nya. “Aku tidak ingin tenggelam. Sebab tenggelam itu menyakitkan.  Aku ingin menyelam  “saja”.

Orang – orang yang belajar filsafat akan tepat menguraikan atau menafsirkan rangkaian kata – kata ini,  saya terlalu awam  untuk meyakini apa yang terasa dalam diri,  sepertinya cukup saja  secara sederhana toh jika kita tenggelam dalam cinta pada Allah akan bernilai positif dan tidak akan menyakitkan bahkan yang ada adalah menyelamatkan, meskipun hal ini beda konteks.

  •  Halaman Tujuh Puluh Tiga

Ia menjawab,  sebuah lagu dapat membangun sebentuk perasaan di dirinya.  Gembira rindu sayang sendu syahdu.   Ia bahkan menjaga perasaan – perasaan dengan mendengarkan lagu.

Sepanjang kehidupan memang merasakan lagu mempunyai efek yang kuat dalam membangun energi dan kekuatan spiritual,  paling tidak sebagai seorang Bunda menjadi tradisi menina bobokan Malaikat kecil kami dengan bersenandung dan terbukti efeknya berhasil membuat sang bayi terlelap sebenarnya banyak juga lagu yang berdampak mengakibatkan kerusuhan yaudah ini beda konteks lagi.

Percaya dan yakin lagu akan berdampak pada pendengarnya dan bahkan menjadi kekuatan untuk membuat seseorang bahagia dan seseorang mengeluarkan air mata karena kesedihan .

Memang berbeda uraian dalam tulisan di Luka Dalam Bara selalu menjadi lebih istimewa.    

  •  Halaman Dua Puluh Dua

Entah kenapa membaca baris demi baris di halaman dua puluh dua ini teringat Buya Hamka dengan karya tulisnya  : “Di Bawah Lindungan Ka’bah”   membaca karya sastra saat Buya muda betapa saya merasa takjub dan kagum  sangat piawai menyusun kata – kata mendeskripsikan rindu dendam dalam asmara,  entahlah  apakah Bara pernah menyatu dalam bacaan di Bawah  Lindungan Ka’bah.

Saya sengaja tidak mengutipkannya sebarispun di halaman ini, agar pembaca bisa merasakannya disaat menggenggam buku ukuran mungil dan berwarna biru laut yang berwibawa bahkan terkesan glamour  sehingga seakan jiwa kita melayang ke masa lampau di saat kita berada di musim bercinta,  jika mereka yang belum mengalaminya silahkan menelusuri untaian kalimat – kalimat romantis di buku tersebut. 


Klimaks di kata - kata (pict:dok.pribadi)
Klimaks di kata - kata (pict:dok.pribadi)

  • Halaman Dua Puluh

Inilah  “Kata – kata”   yang saya anggap klimaks dari novel  Luka Dalam Bara,   sebab : 

“Malam itu gelap karena cahaya telah lenyap, kataku.  Namun katamu,   malam itu terang karena disaat itu ada nyala dalam fikiranmu”

Karena terangnya malam itulah Allah menganjurkan shalat tahajjud di malam terang itu doa mustajab,  Rasulullah SAW    bahkan mewajibkan tahajjud bagi dirinya.  Sang  ‘mantan’  Bara memang cerdas bahkan mungkin melewati cara berfikir orang kebanyakan jadi wajar saja jika kemudian mereka berdua sama – sama broken.

Lanjutan di klimaks novel ini : 

Aku mengembarai hatimu dengan menelusuri kata – katamu

Aku  meresapirasaku padamu di dalam kata – kataku

Di dalam kata – kata aku cari perasaan terdalammu.

Di balik kata – kata aku ungkap kilaufikiranmu.

Di akhir kata – kata  aku   titikkan  rinduku.

Sebab  bertukar kata  denganmu  bukan perkara biasa.

Bertukar  kata  denganmu sama dengan  bertukar perasaan :   rindu,  kasmaran,  cinta.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Aku merawat dirimu di dalam kata – kata,  dan perasaanku tumbuh diatas kata – katamu.

Saya merasakan final di halaman ini,  artinya halaman dua puluh menjadi puncak yang utuh dari keseluruhan kisah  ‘mantan’  dan nikmati untaian kata – katany dua halaman penuh. Seperti di tuntun kesebuah perkampungan kata – kata yang semua sedemikian variatif yang penting kampung kata – kata itu indah.

  • Halaman Sembilan Belas

Kiasan  - kiasan ini mengantar pada satu halaman kata – kata yang tidak penuh bahkan hanya tiga paragrap saja . . .

“Bahwa aku ombak yang tidak mudah melepaskan.”

Bolehkan saya kasih hesteg  #lebay

  • Halaman Enam Belas

Permainan logika yang realistis jadi ya . . . bisa saja mencintai lebih dari seorang perempuan yang masing – masing perempuan yang masing – masingnya mempunyai daya pesona yang memainkan sudut ruang :

“perempuan itu berusia enam tahun.  Ia adalah perempuan kedua yang merebut hatiku.  Melihat foto tersebut aku menyadari bahwa mungkin saja bagi seorang laki – laki mencintai dua orang perempuan dalam satu waktu.” 

Tidak perlu kaget,  karena sejak awal di katakan bahwa ‘Luka Dalam Bara’ bukan novel biasa maka pada ending halaman enam belas menjadi ending kisah novel ini.

Perempuan kecil berbusana terusan warna merah dan celana panjang abu – abu bertopi warna kuning,  dialah perempuan lain yang dia cintai di samping perempuan mantan yang telah memutuskan semua akses perjumpaan bahkan dalam alam realita kini dia tinggal di Jakarta demi menghindari perjumpaan yang di haramkan.

Pesona Luka Dalam Bara

Kekuatan novel ini tentu ada di penulisnya yang cukup piawai dan telah berpengalaman menulis 11 judul  novel,  Bara cukup mapan dengan profesinya sebagai penulis sehingga meskipun novel ini terasa terkesan tidak ada jalinan ceritera selayaknya novel Inferno karya Dan Brown  misalnya akan tetapi atas dukungan penuh Teguh Afandi dan road show Luka dalam Bara optimis penerbit bisa pasang senyumlah.

Tampilan juga cukup menawan memegangnya tidak membutuhkan energi,  membawa dan menggemnggamnya tidak susah berbeda dengan Inferno 600 an halaman super tebal dan tidak bisa bawa kemana – mana.

Kelemahannya adalah kalimat  yang di ungkapan oleh sang penulis sendiri bahwa ini  bukan novel biasa . . .  silahkan di apresiasi secara obyektif saja.  Jika anda telah menggenggam untuk mebacanya.

Ciburial,  7  Sya'ban 1438 H /  4 Mei 2017 M   

Info Penerbit  : 

e_mail  :

redaksi@noura.mizan.com

www.nourabooks.co.id

Jl.  Jagakarsa Raya No.40 RT.007/04,  Jagakarsa.

Jakarta Selatan 12620