Ronald Hutasuhut
Ronald Hutasuhut

www.ronaldhutasuhut.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Untuk Pak Tjiptadinata dan Seluruh Keturunan Tionghoa di Indonesia

18 April 2017   03:44 Diperbarui: 18 April 2017   03:48 733 12 6

Pada abad ke-2, tepatnya tahun 132 M, negeri China mencatat sejarah bahwa pada masa dinasti Han mereka pernah menerima kehadiran duta-duta dari kerajaan Salakanagara, kerajaan kuno di Pandeglang, Jawa Barat. Kerajaan Salakanegara tercatat sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Salakanagara hadir lebih dulu sebelum kerajaan Kutai (abad ke-4).

Catatan sejarah tersebut menunjukkan bahwa pribumi Indonesia telah menjalin hubungan dengan bangsa China setidaknya semenjak abad ke-2.

Sejarah mencatat perjalanan seorang biksu China bernama Fa Hsien ke pulau Jawa pada abad ke-4. Sejarah juga mencatat 25 tahun perjalanan seorang biksu China masa dinasti Tang bernama Yijing (I Tsing) ke Palembang, Sumatera Selatan pada abad ke-7, tepatnya tahun 635-713 M.

Semenjak masa dinasti Tang, banyak orang-orang China dari daerah pesisir melakukan pelayaran ke Asia Tenggara, termasuk ke Nusantara. Mereka melakukan hubungan dagang dengan nenek moyang orang Indonesia. Banyak di antara pendatang dari China yang menetap di berbagai daerah di pelosok Nusantara. Mereka membaur saling bertukar budaya; banyak juga di antara mereka yang menikah dengan pribumi Nusantara.

Pada masa penjajahan Belanda, pihak Belanda menerapkan strategi politik pecah belah (Divide et impera). Pemerintah Belanda waktu itu berusaha memisahkan warga keturunan Tionghoa dan pribumi Indonesia. Belanda juga merekrut orang-orang Indonesia dan warga keturunan Tionghoa untuk menjadi kaki-tangan mereka melawan para pejuang Nusantara.

Pihak Belanda merasa kewalahan dengan sikap kebanyakan warga keturunan Tionghoa di tanah Nusantara. Belanda mendapatkan berbagai gerakan penolakan dan perlawanan dari kaum Tionghoa yang bersatu dengan pribumi dimanapun mereka berada di Nusantara. Kondisi ini menimbulkan sikap agresif Belanda seperti pada peristiwa pembantaian “Tragedi Angke” tahun 1740.

Pihak Belanda juga menerapkan regulasi yang dinamakan Wijkenstelsel. Regulasi ini melarang warga keturunan Tionghoa bermukim di sembarang tempat. Warga keturunan Tionghoa hanya diperbolehkan tinggal di lingkungan pecinan, pemukiman khusus keturunan Tionghoa dan terpisah dari orang-orang pribumi.

Pada masa abad ke-20 yakni tahun 1900-an, komunitas Tionghoa melakukan pergerakan yang membangun sistem-sistem Pendidikan yang dinamakan “Tiong Hoa Hwee Kwan”. Sekolah-sekolah yang didirikan komunitas ini berkembang pesat sehingga menyadarkan berbagai kalangan mengenai pentingnya Pendidikan.

Warga keturunan Tionghoa ikut berjuang pada masa penjajahan Belanda. Mereka juga ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan sejarah mencatat nama-nama warga keturunan Tionghoa yang termasuk orang yang merumuskan UUD 45.

Para pejuang keturunan Tionghoa tersebut tidak pernah kembali untuk menjadi warga negara China. Mereka menetap di Indonesia, melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka bersatu dengan orang-orang pribumi yang sekarang dikenal dengan sebutan Orang Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, masyarakat keturunan Tionghoa tidak berhenti mengharumkan nama bangsa Indonesia dari berbagai bidang. Sebut saja Rudi Hartono (Nio Hap Liang) yang mencetak rekor memenangkan kejuaraan Bulu Tangkis All England 8 kali berturut-turut. Liem Swie King dan Susi Susanti (Ong Lien Hiang) yang masuk ke dalam Badminton Hall of Fame.

Lihat daftar tokoh keturunan Tionghoa yang berprestasi dan berjasa bagi Indonesia di sini.

**

Tidak ada alasan bagi Indonesia untuk mendiskriminasikan masyarakat keturunan Tionghoa di tanah air.

Jika kita melihat masyarakat keturunan Tionghoa banyak berhasil mencapai kesuksesan di bidang ekonomi, itu tidak aneh lagi karena semenjak jaman nenek moyang mereka, keturunan Tionghoa memang dikenal pandai mencari uang dalam bidang ekonomi.

Tidak ada alasan bagi Indonesia mendiskriminasikan masyarakat keturunan Tionghoa karena agama yang mereka anut. Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia memeluk berbagai agama besar, termasuk agama Islam.

Jika kita melihat masyarakat keturunan Tionghoa yang arogan atau berperilaku buruk, berkacalah kita. Kita akan menemui hal-hal buruk dari setiap bangsa-bangsa di dunia, termasuk dari orang-orang Indonesia, Anda dan saya.

Kehadiran keturunan Tionghoa dari masa permulaan abad di Indonesia bukanlah pembicaraan mengenai etnis China. Kehadiran mereka di tanah air adalah tentang kita, orang-orang Indonesia.

Apakah kita adalah bangsa yang beradab dan berbudaya tinggi? Sehingga kita mampu memandang keturunan Tionghoa sebagai sahabat di masa penjajahan dan sebagai saudara di masa kini..

Hapuskan segala bentuk diskriminasi SARA di bumi Indonesia. Indonesia berdiri di atas darah perjuangan para pahlawan tanpa memandang Suku, Agama, Ras dan Golongan. Segala perbedaan dipersatukan, itulah yang melahirkan bangsa Indonesia!

Bahan materi artikel ini dituliskan berdasarkan penuturan alm. Opung doli penulis, Drs. Hasian Hutasuhut, seorang ahli Sejarah dan 5 Bahasa, juga dosen di IKIP (UPI) Bandung. Diperkuat keterangan dari berbagai sumber.

Tulisan ini didedikasikan untuk bapak Tjiptadinata Effendi dan seluruh orang Indonesia keturunan Tionghoa. Bapak Tjiptadinata atau yang dikenal dengan panggilan “pak Tjip”, “opa”, “Om Tjip” di lingkungan Kompasianer, hanyalah salah satu dari jutaan warga Indonesia keturunan Tionghoa yang merasa sedih mendapatkan perlakuan mendekati diskriminasi sosial di negerinya sendiri, Indonesia; hal ini terlihat dari tulisan beliau berjudul “Seandainya Saya Dilahirkan Kembali”.

Tulisan ini ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia yang mengaku pribumi.