Mohon tunggu...
Rofinus D Kaleka
Rofinus D Kaleka Mohon Tunggu... Insinyur - Orang Sumba. Nusa Sandalwood. Salah 1 dari 33 Pulau Terindah di Dunia. Dinobatkan oleh Majalah Focus Jerman 2018

Orang Sumba, Pulau Terindah di Dunia

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Fungsi Kuda secara Sosial Budaya Orang Sumba

26 Juni 2019   13:15 Diperbarui: 26 Juni 2019   16:39 759
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Selama sepekan penuh, 4-13 Juli 2017 Pemerintah Nusa Tenggara Timur menggelar Parade 1001 Kuda Sandelwood di empat kabupaten berbeda di Pulau Sumba.(ANTARA FOTO/KORNELIS KAHA)

dok. istimewa
dok. istimewa
Kabar tentang ternak kuda Sumba atau lebih populer dengan sebutan kuda sandalwood, baik asal usul, keunggulan maupun kelemahannya, kiranya sudah sangat akrab bagi khalayak umum, baik nusantara maupun internasional. Namun berkaitan dengan fungsi atau manfaat kuda bagi kehidupan masyarakat Sumba, barangkali belum banyak yang mengetahuinya.

Ternak kuda bagi masyarakat Sumba, bukan sekadar memiliki fungsi perekonomian, sebagai komoditi perdagangan atau yang diperjualbelikan. Tapi kuda juga memiliki fungsinya yang sangat esensial dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba.

dok. istimewa
dok. istimewa
Fungsi Sosial Budaya
Seperti apakah fungsi sosial budaya kuda bagi masyarakat Sumba? Marilah kita sama-sama menyimaknya.

Pertama, sebagai kendaraan angkutan. Mengenai hal ini merupakan fakta umum tempo dulu. Tapi sekarang ini sudah tinggal sedikit orang yang memanfaatkan kuda sebagai kendaraan angkutan. Waktu itu, hampir semua orang Sumba memiliki kuda tunggang dan kuda beban.

Kuda tunggang digunakan sebagai sarana transportasi ketika bepergian dengan jarak yang jauh, baik ke acara pesta adat, silaturahmi ke rumah sahabat maupun mengawasi hewan peliharaan yang digembalakan di padang. Sedangkan kuda beban, digunakan sebagai sarana transportasi untuk mengangkut barang, misalnya hasil dari kebun dan mengambil air dari mata air atau sungai.

Kedua, sarana pacuan kuda. Orang Sumba secara umum, menggemari pacuan kuda. Arena pacuan kuda sebagai ajang persahabatan, rekreasi dan popularitas, namun ada juga yang menjadikannya momentum perjudian.

Ketiga, sarana berburu dan perang. Orang Sumba dikenal juga suka berburu rusa dan babi hutan, serta gemar perang tanding. Disinilah kuda difungsikan untuk mengejar rusa dan babi hutan, serta menghalau musuh dalam medan perang tanding. Sekarang ini memang sudah jarang terdengar.

Keempat, sarana adat-istiadat. Dalam tradisi perkawinan masyarakat Sumba, kuda menjadi salah satu bagian penting dari perangkat belis (mahar) yang diberikan oleh pihak orangtua laki-laki kepada pihak orangtua perempuan.

Dalam adat-istiadat kematian, kuda juga berfungsi sebagai "barang bawaan (buah tangan)". Tradisi ini semacam kewajiban (tapi masih minimalis) yang dibawa oleh pihak anak perempuan yang sudah berkeluarga (kawin) kepada pihak orangtuanya ketika ada duka.

dok. istimewa
dok. istimewa
Keempat, sarana kebudayaan. Masyarakat Sumba, khususnya di Sumba Barat Daya dan Sumba Barat, mempunyai atraksi adat-istiadat kebudayaan terunik di dunia yaitu Tradisi Nale. Dalam tradisi ini ada satu pakem yang sangat pupuler yaitu Paholong / Pasola. Dalam Pasola wajib ada kuda, tanpa kuda bukan Pasola lagi namanya, tapi lebih pas disebut lempar lembing saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun