HIGHLIGHT

Pasar Malam, Hiburan Alternatif yang Semakin Sepi

07 Juli 2012 19:45:59 Dibaca :
Pasar Malam, Hiburan Alternatif yang Semakin Sepi
1. Jpg

JAKARTA – Pasar malam yang dahulunya identik dengan kegiatan jual-beli untuk masyarakat pedesaan disertai atraksi debus atau wahana permainan dari kayu untuk anak kecil dan remaja, biasanya dimulai pada waktu sore hari, sekitar pukul 17.00 wib hingga dini hari, pukul 02.00 wib. Pasar malam bisa juga disebut sebagai hiburan alternatif untuk masyarakat, karena banyak barang yang dijual dengan harga miring dan tiket masuk wahana permaianan yang sangat terjangkau untuk semua kalangan.

*      *      *

Usai menghadiri acara launching buku Pak Thamrin Dahlan yang berlokasi di Rumah Sakit Polri, hari Sabtu (7/7). Saya pun langsung berangkat menuju kawasan Ciampea, Kabupaten Bogor, untuk menghadiri undangan dari seorang Sahabat. Dengan menyusuri jalan raya Bogor hingga ke arah Parung yang berliku ditengah kemacetan, serta menjadi arena trek-trekan angkot dan sepeda motor. Akhirnya menjelang Maghrib, sampai juga ke lokasi dengan disambut hawa dingin khas pegunungan yang setidaknya menghilangkan penat akibat beberapa kali salah jalan akibat tersasar. Setelah menghadiri seremonial yang kental dengan adat Sunda, saya diajak berkeliling oleh tuan rumah yang masih kerabat dengan Sahabat untuk menyusuri beberapa tempat wisata di daerah tersebut. Berhubung hari telah gelap, maka banyak situ dan juga curug yang sudah tutup, hingga batal untuk mengunjunginya. Sebagai sesama anak muda yang hobi "cari angin", kami beruntung karena, saat melewati jalan pulang menuju lokasi, dapat menemukan sebuah pasar malam yang dapat dikunjungi. Bagi saya sendiri, pasar malam sudah tidak asing lagi, sebab dekat daerah tempat tinggal yang terletak di kawasan Grogol atau Jelambar, Jakarta Barat, sering diadakan pasar malam, apalagi menjelang bulan Ramadhan. Hanya saja itu terjadi pada dekade 1990an lalu, karena setelah memasuki tahun 2000an, arena pasar malam yang menempati tanah-tanah kosong dekat bantaran sungai atau rel kereta, kini telah tiada. Semuanya sudah tergantikan oleh banyaknya bangungan bertingkat yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Hingga, jika warga sekitar yang ingin merasakan suasana pasar malam atau menaiki wahana permainan serta rumah hantu, paling hanya bisa pergi ke pinggiran Jakarta, seperti Cengkareng, Kalideres atau pergi ke Ancol yang tentu harga tiketnya lumayan mahal.

*      *      *

Bak bernostalgia, tidak ketinggalan saya mengelilingi areal pasar malam tersebut bersama beberapa kawan untuk melihat-lihat permainan yang menarik atau sesuatu yang unik. Sayangnya, kecuali pemandangan yang bikin segar bagi kaum Adam, seperti banyaknya sepasang kekasih yang bermesraan dengan bebas di pinggir lokasi yang beralaskan rumput, tanpa menghiraukan lalu-lalang pengunjung terutama bagi keluarga yang mengajak anak kecil. Tidak ada lagi hal-hal baru atau menarik dari beberapa wahana permainan yang ada, karena sejak satu dekade lalu, permainan yang ada di pasar malam sama sekali tidak ada perubahan, alias itu-itu saja. "Susah Mas, jangankan buat nambahin permainan baru, buat nutupin biaya sehari-hari aja sama ngasih gaji operator kadang senin-kemis," ucap salah seorang operator (pengendali) sebuah wahana kincir angin. Saat itu kebetulan sambil melihat cara kerjanya yang sedang memasukkan solar ke mesin penggerak, untuk memutar tuas alat permaianan raksasa yang populer disebut Kincir Raksasa. Beruntung, menurutnya jika mendekati bulan puasa (Ramadhan) terutama malam minggu, arena pasar malam menjadi lumayan ramai. Hanya saja memang tidak seperti dulu, dimana sampai pengunjung membludak setiap kali mereka membuka pasar malam yang biasanya berlangsung satu minggu penuh. "Sekarang mah, anak-anak banyakan rame di warnet atawa rental ps (playstation) dibanding pada pergi ke sini. Apalagi udah pada punya motor, makin ngelayap pada main ke kota, palingan yang datang kesini kebanyakan yang pada berkeluarga sambil bawa anaknya," ujar pria yang mengaku sejak tahun 1980an sudah berkeliling Jawa Barat untuk membuka pasar malam itu menambahkan. "Tapi kalo digabungin, masih kalah sama yang datang buat mojok, tuh rame di ujung sana. Ha ha ha." Memang, geliat pasar malam saat ini kurang begitu ramai dibandingkan satu atau dua dekade lalu, kalau dirunut pasti banyak alasan yang menyebabkan mulai sedikitnya orang yang mengunjungi pasar malam. Entah itu bosan karena arenanya itu-itu saja, lalu banyak copet hingga mereka enggan buat datang karena takut kehilangan dompet atau barang berharganya. Selain itu, pemilihan tempat yang terpencil dan kurang strategis membuat orang malas untuk bepergian ke pasar malam, dan yang paling terasa bagi kebanyakan anak kecil serta remaja, adalah kurang inovasi dari pengelola pasar malam untuk menghidupkan lahan uang mereka. Seperti yang diucapkan seorang kawan saya, yang memang asli daerah sana, beliau mengatakan bahwa andai saja pengelola pasar malam tanggap dengan keinginan pengunjung terutama remaja sekarang, seperti diadakan rental playstation dengan tv berukuran besar atau adanya warnet di lokasi tersebut, mungkin banyak anak remaja yang turut mendatanginya. Atau bisa saja disediakan wahana yang unik seperti rumah hantu, istana boneka, pagelaran wayang golek, dan tong setan, yang sejak era 1980 menjadi primadona pasar malam karena mempertontonkan kenekatan dari pengendara motor yang menjalankannya dengan posisi diagonal dan vertikal dalam sebuah panggung yang dimodifikasi seperti jenis tong. Dan semua itu telah diperbarui dengan mengikuti perkembangan zaman, sehingga pengunjung yang datang menjadi lebih berkesan. Jika tidak ada perubahan dan pembaruan, bukan tidak mungkin hiburan pasar malam, pada lima atau sepuluh tahun mendatang hanya menjadi kenangan...

*      *      *

13416838161523808432
2. Jpg

*      *      *

1341684081247069349
3. Jpg

*      *      *

13416842231144641758
4. Jpg

*      *      *

1341684325569623161
5. Jpg

*      *      *

13416844551139532579
6. Jpg

*      *      *

Foto: Dok. pribadi

*      *      *

- Pondok Cabe, 8 Juli 2012

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI (BIRU)

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?