HIGHLIGHT

Jurnalis, Cita-cita yang Kurang Populer di Masyarakat

10 Februari 2012 08:46:37 Dibaca :

"Kalau saya sudah besar ingin menjadi Dokter supaya bisa mengobati orang banyak, mau jadi Artis biar terkenal sama orang, atau ingin menjadi Presiden agar bisa dihormati rakyat Indonesia."

Itulah cita-cita dari seorang anak kecil, ketika ditanya oleh orang tuanya saat besar nanti ingin menjadi apa. Hampir semuanya menjawab dengan bidang profesi yang sangat familiar untuk didengar. Saat saya dahulu pun begitu, ketika ditanya oleh orang tua dan guru Tk (seingat saya) bersama kawan sebaya selalu menjawab hal yang mudah. Dokter, Artis, Insinyur, Presiden, atau bahkan Pelaut adalah jawaban khas dari anak-anak yang tentu pola pikirnya masih polos.

Saat menginjak di bangku sekolahmenengah hingga masa transisi, biasanya cita-cita seseorang lebih terarah dan fokus pada beberapa bidang yang memang ia minati. Dibanding beberapa kawan yang bercita-cita seperti Insinyur, Arsitek, Musisi bahkan Desainer sekalipun, saya sendiri mempunyai angan-angan untuk menjadi seorang sejahrawan. Dan baru beberapa tahun terakhir menggemari bidang tulis-menulis dengan mencoba belajar menulis reportase dan opini pribadi.

Lalu apa korelasi antara Cita-cita kita sewaktu kecil dengan profesi sebagai Jurnalis?

Sebenarnya sangat relevan sekali, sebab seperti sebuah alasan yang kurang populer, maka di mata masyarakat terutama anak kecil kurang begitu mengetahui tentang bidang jurnalistik, seperti wartawan, peliput berita, atau juga kameramen televisi.

Mungkin anggapan masyarakat, bergelut di bidang jurnalistik itu kurang begitu mengasyikan serta terlalu banyak bahaya. Sebenarnya tidak salah juga, karena kesehariannya mereka melihat tayangan televisi, membaca surat kabar atau saat mendengarkan radio, pekerjaan seorang jurnalis adalah penuh dengan bahaya. Meliput perang, berjuang untuk mendapatkan berita saat penggerebekan teroris atau juga harus melewati gorong-gorong yang licin lagi gelap ketika hendak memburu seorang pejabat yang ketahuan korupsi.

Lalu, imbasnya adalah masyarakat seakan "ngeri" kalau membayangkan anaknya sendiri kelak menjadi seorang jurnalis, entah itu wartawan atau sebagainya. Belum lagi ketika beberpa waktu lalu banyak diberitakan mengenai wartawan yang diculik, di pukuli atau juga di ancam oleh sekelompok orang yang kegiatannya ditulis oleh sang jurnalis. Atau mengenai liputan miring di kalangan artis yang lebih banyak gosip atau rumor dibandingkan fakta yang sebenarnya.

Jadi, jangankan untuk memberitahukan anak mengenai pemahaman seorang Jurnalis, saat mendengarnya saja sudah terasa asing bagi mereka. Tidak salah juga, sebab di tempat saya tinggal pun begitu, hampir setiap anak kecil bahkan yang Smp sekalipun yang ditanyakan saat sudah besar cita-citanya ingin menjadi apa, mereka memnjawab hal-hal yang mudah diingat memorinya. Termasuk ingin membuat kapal perang atau bikin facebook!

Kemudian, ketika dalam lima tahun kebelakang, saat blog gratisan muncul di permukaan dengan dikelola secara professional layaknya media mainstream. Animo masyarakat untuk mewartakan suatu peristiwa yang sedang terjadi disekitarnya mengalir deras bak air bah. Efek positifnya adalah masyarakaat di ajak untuk ikut serta memberitakan kejadian-kejadian yang diketahuinya tanpa harus menunggu lama laporan dari wartawan asli. Dan masyarakat yang ikut serta dalam merunutkan peristiwa tersebut dinamakan sebagai Jurnalis Warga.

Sebagai ilustrasi, semalam usai menyaksikan acara bincang-bincang mengenai perkembangan dari Jurnalis Warga, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagi Citizen Journalisme, terdapat beberapa kelebihan saat seorang masyarakat sendiri berperan serta di lingkungannya masing-masing. Dalam tayangannya, disebutkan bahwa pemerintah setempat tergerak untuk memperbaiki jalanan yang rusak parah mirip kubangan kerbau, ketika ada seorang Ibu rumah tangga yang menuliskannya di sebuah blog keroyokan. Sang Ibu yang berkeluh kesah karena setiap kali melewati jalan tersebut sangat tidak nyaman karena hancur dan tidak terawat, sebulan kemudian mendapatkan respon yang positif. Karena dengan diberitakan di sebuah blog keroyokan yang kemudian menyebar di kalangan pengguna internet, dapat memberikan efek sebuah citra negatif kepada pihak yang bersangkutan.

Kini dengan semakin seringnya warga yang ikut serta dalam melaporkan situasi yang dialaminya sendiri, dengan menuliskan di blog keroyokan. Dengan sendirinya, akan diikuti oleh keluarga serta teman-teman sejawatnya dan juga bisa menjadi contoh yang baik bagi orang tua untuk anak-anaknya agar bisa belajar menulis . Berawal dari jurnalis warga hingga akhirnya nanti mengakar menjadi seorang jurnalis profesional yang sungguh-sungguh mengabarkan.

Maka bukan tidak mungkin, ke depannya profesi menjadi jurnalis akan ada dalam urutan pertama di mata anak-anak berdampingan dengan profesi dokter, insinyur atau sebagainya. Sebab menjadi sebuah kebanggaan tersendiri, bisa ikut melaporkan peristiwa yang ada di sekitar kita...

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI (BIRU)

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?