HIGHLIGHT

GPS, Petunjuk Arah atau Menyesatkan di Jalan?

03 Mei 2012 18:45:49 Dibaca :
GPS, Petunjuk Arah atau Menyesatkan di Jalan?
Jarak kilometer yang tertera dalam GPS di ponsel

Tersesat di jalan? Pasti hampir semua orang pernah mengalaminya, entah itu sengaja atau secara tidak sengaja baik di daerah yang dekat maupun relatif jauh. Saya sendiri seringkali mempunyai pengalaman tersesat di jalan raya, seperti beberapa waktu lalu saat hendak menghadiri suatu acara di Jakarta Selatan. Kebetulan tempat yang saya tuju belum pernah dilewati sama sekali, jadinya agak bingung juga hingga tersesat beberapa kilometer. Lokasi yang beralamat di jalan Tebet Utara tersebut, sebenarnya relatif mudah ditemukan kalau saja saya tahu daerah itu sebelumnya. Namun karena sehari-harinya tinggal di kawasan barat Jakarta dan masih buta sama sekali alias sangat awam dengan daerah Jakarta Selatan, hingga saya pun harus berkeliling untuk meraba-raba nama lokasi tersebut. Mengikuti petunjuk arah dari jalan Casablanca untuk memutar balik sekitar 200an meter, tidak tahunya sebelum sampai saya sudah berbelok arah melewati stasiun Tebet. Sempat muter-muter tidak karuan karena banyaknya jalan yang juga bernama Tebet serta petunjuk yang berbeda-beda saat menanyakan pada orang yang lewat. Disaat hari sudah mulai gelap dan turun hujan, tanpa sengaja saya membuka ponsel untuk melihat jam agar tidak terlambat menuju lokasi. Disaat itulah teringat bahwa ponsel yang saya miliki mempunyai fitur GPS (Global Positioning System) yaitu alat navigasi tambahan untuk menentukan posisi dimana kita berada. Ajaib, hanya beberapa menit usai melihat posisi saya di GPS dan mencocokkan dengan lokasi yang saya tuju, akhirnya dapat diketahui saya yang berada di jalan Tebet Timur 11 hanya berjarak kurang dari satu kilometer ke tempat acara berlangsung. Dengan semangat 45 setelah melihat rute yang terdapat di ponsel saya itu, dapat juga saya sampai di tempat acara tepat sebelum hujan turun dengan deras. Sebenarnya pun meski tidak menggunakan GPS yang ada di ponsel, saya bisa juga menanyakan pada beberapa orang di sekitar saya berada. Namun karena pendapat orang berbeda satu sama lain, adakalanya informasi yang diberikan agak melenceng meski tujuannya adalah benar. Seperti dari stasiun Tebet saya menanyakan ke arah jalan Tebet Utara, dua orang yang menjawab saling berlainan. Orang pertama memberikan jawaban dari tempat saya berada langsung belok kiri mengikuti jalan raya Tebet dan tinggal melewati dua pertigaan dan di persimpangan belok kanan. Lalu orang kedua yang saya tanya menyarankan agar kembali lagi ke jalan raya KH. Abdullah Syafii yang juga satu jalur dengan jalan Casablanca yang telah saya lewati barusan, lalu di depan sebuah minimarket agar belok kiri dan tinggal lurus saja. Jelas saja meskipun jawaban dari keduanya adalah benar, namun sangat tidak efisien karena saya harus mengingat berapa pertigaan dan persimpangan yang saya lewati untuk sampai tujuan. Berbeda lagi saat saya menggunakan GPS, disana tertera berapa jarak tempuh yang harus saya lewati beserta perkiraan waktunya. Walau tidak akurat 100%, setidaknya GPS dapat membantu kita apabila kesulitan untuk menemukan jalan terdekat menuju suatu lokasi. Namun dengan menggunakan GPS bukan berarti kita harus mengikuti petunjuk yang tertera di dalamnya, kadang kala malah apa yang diberitahukan GPS sama sekali melenceng dari apa yang kita inginkan. Seperti halnya ketika saya menggunakan GPS untuk mencari alamat suatu cafe di daerah Rawa Buaya, Jakarta Barat. Saat berangkat dari rumah GPS berfungsi sangat baik dengan menunjukkan rute yang harus saya tempuh yakni melewati jalan raya KH. Hasyim Ashari dan juga tembus ke jalan Daan Mogot. Tetapi ketika hampir sampai di depan perempatan Ramayana Cengkareng, titik-titik rute yang saya ikuti bukannya menuju cafe yang terletak di pinggir jalan depan stasiun Bojong. Yang ada malah membawa saya ke jalan buntu belakang sebuah pabrik tua tak terawat, sontak saja saya langsung mengernyitkan dahi karena bukannya mendapatkan alamat yang tepat malah dibawa tersesat oleh GPS itu sendiri! Padahal dalam layar ponsel dengan jelas terdapat petunjuk bahwa cafe tersebut tepat berada di depan pabrik tua, nyatanya itu adalah jalan buntu dan setelah saya tanyakan pada tukang bakso yang lewat malah kebingungan. Menurutnya pabrik tua itu sudah lama tidak beroperasi dan juga tempatnya sangat terpencil jauh dari pemukiman karena aksesnya tertutup seiring dengan pembangunan jalan Lingkar Luar. Sambil memperhatikan titik-titik GPS di layar ponsel yang selalu berubah, saya pun akhirnya menanyakan jalan keluar menuju jalan Rawa Buaya yang dilewati tadi. Sambil menuntun saya keluar, sang penjual bakso itu pun menjelaskan bahwa jarang ada orang yang lewat daerah tersebut kecuali penduduk setempat yang menyeberang jalan Lingkar luar menuju Kosambi, karena tidak ada perumahan warga apalagi cafe yang pastinya terletak di tempat keramaian. Setelah sedikit muter-muter dan sampai di lokasi, saya pun akhirnya menyadari untuk tidak terlalu percaya penuh pada kecanggihan teknologi seperti GPS yang merupakan petunjuk arah. Sebab secanggih-canggihnya alat buatan manusia, tidak lepas dari yang namanya kesalahan baik karena datanya yang kurang atau disebabkan faktor lain seperti tidak adanya sinyal yang membuat GPS menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Mulai saat itu GPS hanya saya pergunakan sebagai patokan suatu tempat, dan tetap untuk bertanya pada orang sekitar agar tidak terlalu tersesat di jalan seraya mengkombinasikan keduanya supaya mudah dalam menemukan suatu lokasi.

13360661511054184589
Ilustrasi penggunaan GPS di Ponsel (dok. pribadi)
Jakarta, 04 Mei 2012

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI (BIRU)

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?