Belajar dari Angkie Yudistia, Perempuan Tuna Rungu yang Pantang Menyerah

15 Oktober 2011 23:26:00 Diperbarui: 25 Juni 2015 17:54:10 Dibaca : 1580 Komentar : 0 Nilai : 11 Durasi Baca :

Pantang menyerah, selalu semangat dan tidak mengenal putus asa. Itulah gambaran yang saya tangkap dari Angkie Yudistia. Seorang yang menderita tunarungu semenjak berusia sepuluh tahun. Awalnya saya tahu beliau saat sedang membuka facebook dan menemukannya di linimasa, ada komentar dari Pak Odi Shalahudin, salah satu Kompasianer senior. Lalu saya ikut menimpali dengan ingin ikut (mendaftar buku Mbak Angkie). Yang langsung dibalas oleh Pak Odi dengan ajakan juga. Setelah itu saya kemudian penasaran untuk membaca koran Kompas yang kebetulan juga sedang dilihat oleh Ayah. Langsung saya izin untuk melihat lembaran Urban di halaman 25 dari tiga lembaran yang ada (Umum, Tren, dan Klasika). Setelah membaca dengan seksama dapat diartikan bahwa Angkie selalu tabah dalam menjalani masa kecilnya dari SD hingga SMA, ketika itu ia selalu diledek kawan sebaya karena keterbatasannya itu. Tapi itu semua tidaklah menjadikannya minder ataupun patah arang untuk menjalani pendidikan. Bahkan ia bertekad untuk menyelesaikan bangku kuliah hingga gelar Sarjana. (Sumber: Harian Kompas) Bahkan ketika ia harus menerima suatu dilema, ketiak Dokter memberikan saran untuk tidak melanjuti kuliah setelah lulus SMA. Karena ditakutkan akan memperparah keadaan. Namun dengan tegas ditolak olehnya: "Memilih tidak Kuliah, sama saja jadi stress" ucapnya kala itu. Hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan kuliah di London School of Public Relations, Jakarta. Dengan IPK 3,5 sesuatu yang patut dibanggakan dari semangatnya yang pantang menyerah. Dengan "keterbatasannya" itu, ia tetap menorehkan segudang prestasi, diantaranya adalah sebagai Finalis Abang None Jakarta tahun 2008 lalu. Serta terpilih sebagai salah satu wakil Indonesia di acara Asia-Pacific Development Center of Disability di Bangkok, Thailand. Dan bulan depan ia akan menerbitkan sebuah buku berjudul "Perempuan Tuna Rungu Tanpa Batas". Sebuah buku yang banyak dinantikan sebagai Inspirasi untuk semua kalangan, termasuk diri saya pribadi. Sebagai seorang manusia biasa, ada sebuah perasaan miris atau sebal yang diterima dari Angkie, seperti saat ia tidak diterima bekerja karena tidak bisa menerima telepon. "Padahal orang Difabel punya hak yang sama dengan yang fisiknya normal. Mereka juga sudah berusaha mencari pekerjaan, tetapi tetap saja dianggap tak mampu apa-apa." Sekarang ia telah berpengalaman bekerja sebagai Humas di berbagai Perusahaan ternama, baik itu dalam dan luar negeri. Ada satu pelajaran yang didapat dari seorang Angkie, bahwa Seorang Difabel dan orang yang mempunyai kekurangan tidak serta merta merasa terpinggirkan dari pergaulan. Bahkan, justru semakin menunjukkan, bahwa saya itu Bisa seperti mereka...

* * *

*     *     *

Tulisan ini dibuat karena kekaguman saya atas Semangat dan Etos Kerja Angkie Yudistia yang pantang Menyerah hingga membuahkan banyak Prestasi. Terima kasih untuk Pak Odi Shalahudin atas Informasinya.

* * *

- Choirul Huda (CH)

____________________________________________________________________________________ Foto: Dok. Pribadi. Sumber: Harian Kompas terbitan Minggu, 16 Oktober 2011. Profil Facebook Angkie Yudistia. Note:Salut dan Belajar dari Angkie Yudistia, seorang yang banyak memberikan Inspirasi dengan mengolah keterbatasan fisik menjadi sebuah Kelebihan... ____________________________________________________________________________________

Choirul Huda

/roelly87

TERVERIFIKASI

Penulis di Kompasiana (Kompasianer) yang hobi reportase untuk menulis catatan harian, musik, olahraga, fiksi, dan sebagainya. @roelly87 (www.roelly87.com)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana