HIGHLIGHT

Tinjauan Matematis Kemenangan Jokowi-Ahok

22 September 2012 01:24:07 Dibaca :

Secara demokrasi tak bisa dibantah, Jokowi-Ahok telah memenangkan pertarungan Pilgub DKI, walaupun kita semua tentu tak menginginkan "quick count" beberapa lembaga survey tak cocok diakhir perhitungan. Kalau itu terjadi, misalnya justru pasangan Foke-Nara yang menang, akan menimbulkan "disaster", yang sulit dibayangkan berapa biaya sosial yang dapat ditimbulkannya. Walaupun begitu, itulah risiko diijinkannya lembaga survey mengeluarkan hasil "sementara"  mendahului perhitungan resmi.

Segala ejek dan sumpah serapah yang selama ini keluar dari para pendukung pihak yang bertarung semasa kampanye tampaknya tidak berakhir dengan kemenangan Jokowi-Ahok.  Sumpah serapah disertai ejekan oleh pendukung Jokowi-Ahok kepada pendukung Foke-Nara justru semakin menggebu, menang sambil mengejek yang kalah. Sungguh tindakan yang tidak beretika, tak sesuai peradaban "menang tanpo ngasoake" yang luhur.

Sementara para pendukung Jokowi-Ahok tenggelam dalam ephoria kemenangan, keluar pula teori-teori para pengamat dan analisis yang secara membabi buta mengeneralisir hasil itu sebagai dalil yang dinyatakan sebagai kunci kemenangan Jokowi-Ahok.

Saya kutip tulisan sebuah koran nasional tentang kemenangan Jokowi -Ahok hari ini, yang menyatakan kunci kemenangan Jokowi-Ahok adalah:

1. Jokowi -Ahok lebih disukai publik Jakarta.

2. Mayoritas warga Jakarta menginginkan adanya perubahan

3. Issu-issu SARA yang dikembangkan selama kampanye justru menjadi kekuatan bagi Jokowi-Ahok

4. Kinerja incumbent yang kurang memuaskan puklik

5. Rendahnya popularitas partai besar pendukung incumbent

6. Keberadaan suara kelas menengah yang kritis merupakan basis kemenangan Jokowi-Ahok.

Mari kita analisis SECARA MATEMATIS "kunci kemenangan" dimaksud.  Seperti kita baca di media, sekitar 35% penduduk yang punya hak pilih adalah golput dengan berbagai kemungkinan alasannya. Berarti penduduk yang melakukan hak pilihnya hanya 65%.  Dalam "quick count", rata-rata lembaga survey menyatakan yang memilih Jokowi-Ahok 53% dan yang memilih Foke-Nara 47%.

Jadi secara real, yang memilih Jokowi-Ahok adalah 53 x 65 %  = 34,5 % artinya sekitar sepertiga jumlah pemilih. Dapat dikatakan "hanya"  satu diantara tiga penduduk Jakarta yang berhak memilih, yang memilih Jokowi-Ahok.  Sementara dua diantara tiga pemilih adalah golput atau memilih Foke-Nara.

Jadi mengeneralisir "kunci kemenangan" oleh analis koran atau pengamat itu sangat tidak pas, tidak "correct".

1.  Dikatakan J-A lebih disukai publik Jakarta, itu naif. Hanya satu diantara tiga orang yang berpendirian seperti itu.

2.  Dikatakan mayoritas warga Jakarta menginginkan perubahan, itu pun terbantahkan.

3. Issu-issu SARA yang dikembangkan semasa kampanye justru menjadi kekuatan bagi J-A.  Kalau ini benar, tapi patut diberi catatan, justru pengembangan issu-issu SARA dilakukan oleh pendukung J-A sendiri seperti memvideokan ceramah agama di masjid dan menyebarkannya di internet. Namun beberapa memang dilakukan oleh pendukung F-N misalnya menyebarkan isssu "Cina", kafir dsb.  Kedua fihak mengembangkan issu SARA namun memang yang mendapat keuntungan jelas J-A.

4. Kinerja incumbent yang kurang memuaskan publik. Ini seratus persen benar, tak bisa disanggah. Sangat mungkin korupsinya berlebihan sehingga anggaran untuk urusan publik sangat berkurang.

5. Rendahnya popularitas partai besar pendukung incumbent. Ini bisa ya, bisa tidak. Pendukung partai besar berdasarkan jumlah kursi DPRD adalah sekitar 82 %.  Kalau dijumlah pemilih yang golput dan pemilih F-N itu sekitar 65,5 %.  Jadi tak semua pendukung partai besar itu yang mbalelo.

6. Keberadaan suara kelas menengah yang kritis merupakan basis kemenangan J-A. Ini pun debatable, karena kita tak bisa tahu kelompok sosial mana yang paling berpengaruh dalam kemenangan J-A.

Perlu saya ingatkan bahwa saya dari dulu netral dan sampai saat terakhir tetap konsisten, golput. Jadi tulisan saya ini sama sekali tidak bermaksud meremehkan kemenangan J-A, karena secara demokratis seperti awal tulisan ini, J-A telah memenangkan Pilgub ini.

Namun saya buat ini agar para pendukung J-A jangan over acting berephoria kemenangan dengan menganggap J-A menang mutlak, menganggap sebagian besar publik memilih J-A, sehingga cenderung mengejek pendukung yang kalah. Ingat hanya satu diantara tiga penduduk Jakarta yang memilih Jokowi-Ahok.  Kalau pesta overacting tidak berhenti, saya khawatir, orang yang merasa diejek dan publik yang digeneralisir merasa terganggu dengan segala kemungkinan akibatnya.

Andi Hamdan

/rodagigi

Terlalu lemah untuk mengubah, terlalu tangguh untuk diubah. Rodagigi berputar terus.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?