Riza Hariati
Riza Hariati

A Single at Heart Architect who loves writing. NOT looking for husband nor boyfriend. LOVE dogs and cats!

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Hampir 100% Suara Agus-Sylvi Pindah ke Anies

20 April 2017   11:12 Diperbarui: 20 April 2017   22:36 143 4 3

Hal yang saya takutkan terjadi juga, Anies Sandi menang telak dengan angka sekitar 56% meninggalkan Ahok jauh dibelakang dengan angka 44%. Ini berarti dengan segala usaha, kebencian, bully, hinaan, ancaman, tuduhan sebagai rasis, tetap saja para pemilih Agus tidak mampu memaafkan kenyataan bahwa Tim Ahok menyerang dan mempermalukan SBY dan keluarganya  (Bahkan menggunakan Antasari segala), dan mengalihkan suaranya ke Anies. Perlu diketahui, bahwa Ahok adalah pilihan kedua saya setelah Agus Sylvie.

Pada putaran pertama Ahok menang dengan angka 43%, membuat kebanyakan pendukung menjadi jumawa, lupa diri dan bahkan merasa bangga menang dengan cara membully. Tapi bully pada akhirnya selalu akan merugikan diri. Semoga semua mendapat pelajaran dari kejadian ini. 

Oh ya, Tim Anies tidak diragukan lagi menggunakan berbagai cara yang juga menyebalkan. Tapi sama sekali tidak menaikkan elektabilitas Anies. Kenyataannya, tanpa suara Agus, suara Anies malah BERKURANG 1-2%. Jadi teori rasis dan segala demo memenangkan Anies tidaklah terbukti,  bahkan mengurangi suara Anies. Rasa marah dan tersinggung pendukung Agus yang menurut saya manusiawi membuat Anies menang, bahkan kalau dia tidur-tiduran saja di putaran kedua.

Berkali-kali saya ingatkan, janganlah berlebihan dalam mencaci maki Agus, SBY dan keluarganya. Berusaha menang boleh, tapi tetaplah kasih muka, jangan sampai keterlaluan. OOH tapi tidaaak! Karena saat survey polling awal elektabilitas Agus sangat tinggi, maka kencang sekali fitnahnya. Bahkan setelah Agus kalah, tetap saja tidak berusaha membaiki. Yang ada malah ancaman : 'Kalau tidak pilih Ahok, kamu rasis!!'. Padahal orang memilih Agus, justru karena mau menghindari urusan Ras dan Agama, yang menjadi jualan kedua pihak yang lain.

Bagi yang masih ngotot dengan teori rasis harap diingat, putaran pertama AHOK MENANG 43% dengan segala situasi rasis ini. Kemudian perhatikan bahwa 83% penduduk jakarta adalah muslim. Yang berarti, jika semua non muslim memilih Ahok, yang nggak mungkin banget lah yaa, jumlahnya hanya 17% yang berarti pemilih Ahok adalah 26% dari Muslim pribumi Jakarta. Minimal! Jadi sekarang, say bye bye ke teori rasis. Ini sangat mengganggu persatuan bangsa.

Satu lagi yang membuat orang ragu memilih Ahok, status tersangka Ahok. Orang banyak yang suka Ahok, tapi mereka tidak suka Djarot. Beliau bukan orang jahat, tapi kebetulan tidak populer saja karena terlalu 'partai' (saat ini partai sungguh sedang tidak trendi). Kalau Ahok masuk bui, Djarot akan otomatis menjadi gubernur. Saya berharap, setidaknya dengan tidak terpilihnya Ahok, beliau terhindar dari serangan Al-Maidah lebih lanjut.

Jadi secara keseluruhan 2 strategi kejam memuluskan jalan Anies : yang pertama adalah urusan Al Maidah, yang akhirnya membuat orang ragu kalau Ahok terpilih, nanti Djarot yang jadi gubernur. Dan strategi Adu domba Agus-Ahok melalui penyerangan ke SBY.

Saya pernah mendengan kata-kata : Kalau kamu ditampar pipi kirimu, maka berikan pipi kananmu. Artinya jangan membalas kejahatan dengan kejahatan juga. Sayangnya orang memilih jalan membalas fitnah dengan fitnah yang berakhir sangat jelek.

Tapi Ahok orang baik, Tuhan akan memberkati beliau dan keluarga,, dibalik kesulitan, akan ada kemudahan.