PILIHAN HEADLINE

Emosi Labil dan Mudah Murka? Jangan-jangan Penderita Borderline Personality Disorder

21 April 2017 12:23:16 Diperbarui: 21 April 2017 13:43:45 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Emosi Labil dan Mudah Murka? Jangan-jangan Penderita Borderline Personality Disorder
Sumber: sociomatik.com

Teman saya bercerita, saat dia sedang asyik ngobrol bersama teman-teman sekantornya, mendadak seorang teman mengamuk, sampai menendang kursi dan membanting buku ke meja lalu memaki-maki temannya yang lain. Sangat menakutkan. Dan juga mengejutkan, karena sebelumnya mereka sedang tertawa-tawa bercanda dan mendadak orang ini murka berat.

Ternyata dia tersinggung karena ada yang menyindir dia, mengenai masalah apa teman saya tidak ingat, tetapi sama sekali bukan masalah besar. Lalu teman saya bercerita bahwa rekan sekantornya ini memang sangat emosional, saat sangat senang dengan seseorang dia akan sangat menempel dan memuja-muja, tetapi saat tersinggung, bisa mengamuk tidak terkendali.

Cerita ini mengingatkan saya kepada kelainan Borderline personality disorder atau disingkat BPD, yang kadang juga disebut kelainan Emotional dimana penderitanya kurang atau bahkan sama sekali tidak mampu mengendalikan emosinya (tergantung separah apa penyakitnya). 

Bayangkan hari terbahagia Anda, misalnya saat Anda menikah. Atau saat termarah anda, misalnya saat anda kena tipu orang yang anda percayai. Atau saat orang tersayang anda meninggal? Bagaimana emosi anda saat itu? Tentu sangat kuat kan? Sangat bahagia, sangat marah, sangat sedih. Itulah yang dirasakan oleh penderita kelainan ini, tetapi jika anda merasakan emosi-emosi ini hanya disituasi tertentu yang sangat ekstrim, mereka merasakannya tiap hari, tiap saat, dan seringkali untuk alasan-alasan yang sepele.

Dan parahnya lagi, karena emosi yang labil dan campur aduk, seringkali mereka tidak mampu benar-benar mengenali jenis emosi yang dia sedang dia rasakan. Kadang mereka bereaksi marah saat seharusnya mereka sedih atau takut.  Juga tidak mampu mengetahui, kenapa mereka bereaksi seperti itu terhadap situasi yang mereka hadapi, pokoknya mereka harus mengamuk dan memaki-maki.

Mereka kebanyakan bukan orang jahat, bahkan karena emosinya yang sangat kuat, saat menyukai seseorang mereka akan mau berkorban apa saja untuk orang itu. Saat menyayangi, mereka akan sangat sayang kepada orang itu. Tetapi karena emosinya labil, kepada orang yang sama, dia juga bisa mendadak murka, menyakiti, karena dia tidak punya kendali terhadap dirinya sendiri.

Ini membuat mereka memiliki perasaan bersalah yang sangat kuat, karena kebanyakan penderita BPD sangat takut ditinggalkan orang-orang yang disayanginya. Bahkan mereka takut ditinggalkan orang-orang yang mereka tidak sukai!

Banyak sekali orang-orang artistik yang menderita penyakit ini, karena kebanyakan mereka memiliki emosi yang sangat kuat yang kemudian mereka terjemahkan dalam karya seni.

Terhadap diri mereka sendiri juga mereka sangat emosional, mereka akan merasa murka terhadap diri mereka sendiri saat melakukan kesalahan yang menyebabkan orang lain merasa disakiti. Mereka akan merasa rendah diri, karena malu tidak dapat mengendalikan diri, lalu akan menghukum diri sendiri gila-gilaan, bahkan sampai melukai diri sendiri dan mencoba bunuh diri.

Tapi apakah semua orang yang emosian pasti penderita BPD? Belum tentu. Berikut adalah sembilan gejala dari BPD, jika anda mengenali LIMA saja dari gejala ini dalam diri seseorang, maka mungkin sekali dia menderita BPD dan harus segera mendapatkan pertolongan dari Psikiater.

1. Sangat takut ditinggalkan atau diabaikan orang lain

Semua orang takut diabaikan oleh orang lain, terutama oleh orang yang mereka sayangi. Tetapi orang dengan BPd akan benar-benar bereaksi ektrim saat mengira diabaikan. Dalam satu kasus, seorang penderita BPD sampai menulis surat dengan darah karena takut teman akrabnya bergaul dengan teman-teman yang baru. Reaksi ektrim ini bahkan terjadi untuk hal-hal yang sepele bahkan terhadap orang-orang yang tidak terlalu mereka sukai. Misalnya lupa memberitahukan mengenai satu acara yang tidak terlalu penting mereka akan merasa sangat diabaikan.

2. Tidak memiliki hubungan yang kuat dan stabil dengan orang-orang disekitarnya

Disatu saat dia akan bersikap memuja, disaat lain dia akan marah marah. Orang-orang disekitarnya selalu deg-degan berada disekitar orang ini. Karena takut mendadak orang ini meledak marah. Dia akan memohon-mohon supaya tidak ditinggalkan orang yang dicintainya, lalu kemudian memaki-maki, mengusir, dan menyuruh pergi orang yang sama. Akhirnya justru orang-orang akan pergi. Sangat tragis, karena ketakutan utama orang BPD adalah ditinggalkan orang.

3. Tidak mampu memahami diri sendiri

Karena emosinya yang begitu kuat, penderita kadang kebingungan sendiri. Orang seperti apakah saya? Apakah saya orang baik atau jahat? Mau kemana saya masa depan saya dengan mood yang berubah-ubah seperti ini? Dilain pihak, penderita BPD juga seringkali tidak mampu mengenali emosi dalam diri orang lain. Karena mereka memiliki standar emosi yang berlebihan, jadi tidak bisa merasakan, apakah benar orang ini sayang pada saya? apakah benar orang ini marah pada saya? Karena orang lain tidak jungkir balik saat sedang marah sebagai mana halnya penderita BPD.

4. Impulsif 

Impulsif maksudnya melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Ingat, emosi penderita BPD sangat kuat, jadi dia tidak mampu mengendalikan diri saat ingin melakukan sesuatu. Mendadak ingin kebut-kebutan? Langsung dilakukan. Bisa juga mendadak ingin belanja sampai semua uang habis. Makan enak sampai muntah, mabuk-mabukan, sex bebas dengan orang yang baru dikenal, selingkuh, dan seterusnya.

5. Menyakiti diri sendiri

Kembali kepada emosi yang kuat, saat merasa bersalah atau sedih atau malu, penderita BPD akan menghukum diri sendiri begitu keras, sampai melukai diri sendiri. Misalnya menyayat diri sendiri dengan pisau (misalnya mengiris tangan) bahkan sampai bunuh diri. Kadang tindakan menyayat ini digunakan untuk 'memecah' emosi yang sudah kuat mengungkung karena rasa sakit saat mengiris tangan membuat mereka lupa sejenak akan emosi yang sedang mereka rasakan.

6. Emosi yang mendadak naik turun

Seperti kasus diawal, kadang sedang bercanda dengan teman-teman, mendadak penderita bisa luar biasa marah dan mengamuk. Perlu dibedakan dengan penderita Bipolar, yang biasanya dalam jangka waktu tertentu (misalnya beberapa minggu) mengalami fase manic lalu kemudian beralih kepada fase depresi juga dalam jangka waktu tertentu. Penderita BPD beralih dari emosi satu ke emosi lain dalam sekejap mata.

7. Merasa hampa

Seperti saat mencuci kain saat semua air sudah diperas dari kain tersebut sampai kering, demikian juga penderita BPD merasa emosinya begitu terkuras, sampai tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Rasanya kosong dan hampa. Kadang perasaan kosong ini berusaha diisi dengan berbagai kegiatan yang pada akhirnya tidak akan berguna.

8. Murka

Orang dengan penderita BPD tidak bisa marah dengan biasa-biasa saja. Mereka harus murka! Telefon tidak diangkat? Murka!! Orang mengolok-olok dia (atau dalam pikirannya mengolok-olok dia)? Murka! Dan bayangkanlah murka yang mengerikan ini diarahkan juga kepada dirinya sendiri, yang bisa berakhir dengan bunuh diri. Banyak sekali penderita BPD yang mencoba untuk bunuh diri dan berhasil.

9. Curiga mengarah kepada Paranoia

Terjebak dalam badai emosi jiwa ini, penderita BPD kadang akhirnya terlepas dari kehidupan nyata. Mereka diombang ambingkan oleh emosinya sampai tidak bisa melihat fakta-fakta yang sederhana. Dan tanpa fakta, orang menjadi selalu curiga, ketakutan. 

Tapi kabar baiknya, BPD adalah salah satu penyakit jiwa yang bisa disembuhkan atau setidaknya dikendalikan dengan baik. Tetapi syaratnya penderitanya harus mendapatkan Psikiater yang mengerti mengenai BPD lalu melakukan Terapi. (Sayangnya di Indonesia Psikiater yang mau menangani kasus BPD masih sangat jarang) 

Jenis terapi yang harus dilakukan oleh Penderita BPD adalah Dialektikal Behavioral Therapy (DBT) yang memang khusus diciptakan untuk mengobati penyakit ini. Dalam therapy ini, Penderita akan dilatih untuk mengenali dan mengendalikan emosi dalam diri, mereka juga mengenali emosi dalam diri orang lain. Mereka akan dilatih cara untuk bereaksi sepantasnya terhadap suatu kejadian. Misalnya saat ada ayam berkokok dimalam buta, mereka akan dilatih bahwa mereka boleh ngedumel, tetapi tidak perlu sampai memenggal kepala ayamnya lalu mengamuk kepada si pemilik ayam. 

Sebagaimana penyakit cacar dimana orang harus minum obat supaya sembuh, penderita BPD harus mengikuti terapi supaya sembuh. 

---

Ref: Borderline Personality Disorder (BPD)


Riza Hariati

/rizahariati

A Single at Heart Architect who loves writing. NOT looking for husband nor boyfriend. LOVE dogs and cats!
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana