Mohon tunggu...
Rita Audriyanti
Rita Audriyanti Mohon Tunggu... Penulis - Ibu rumah tangga

Semoga tidak ada kata terlambat untuk menulis karena dengan menulis meninggalkan sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Cerita Ramadhan Waktu Kecil

3 Juni 2016   09:15 Diperbarui: 3 Juni 2016   09:27 295
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Dalam beberapa hari ke depan, umat muslim akan memasuki bulan suci Ramadhan. Sebuah bulan diantara dua belas bulan yang dikhususkan untuk melaksanakan puasa wajib sebulan penuh, melaksanakan sholat tarawih, i'tikaf di masjid dan diakhiri dengan membayar zakat fitrah. Ini belum termasuk pelaksanaan ibadah lainnya, seperti tadarus Al Qur'an, memberi makan orang yang berpuasa, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, dan lain-lain.

Di balik pengalaman beribadah menjalankan ritual agama, sebagai manusia tentunya kaum muslimin tak luput mengalami berbagai peristiwa yang berkaitan dengan tradisi maupun kebiasaan yang terjadi di sekitar dan di jamannya. Kondisi ini pasti berbeda antara apa yang dialami 'orang dulu' dan ' orang sekarang'. Zaman saya waktu kecil dengan zaman anak saya waktu kecil. Sudah berbeda kebiasaan-kebiasan yang dialami.

Misalnya cerita pengalaman Ramadhan teman saya. Baginya, tradisi menyambut ramadhan bagi anak laki-laki di kampungnya adalah saatnya melaksanakan khitan alias disunat. Ramai-ramai terjadi Sunat di Bawah Usia 10 Tahun. Mengapa Ramadhan disambut dengan sunatan? Supaya menyambut Lebaran jadi suci...hehee. Orang-orang sembuh luka sunatnya dalam tempo 4-10 hari sehingga siap pakai celana pendek. Lha teman saya ini sampai Lebaran tak kunjung sembuh. Penyebabnya karena ia tak mau diam. Panjat pohon jambu, sunatan yang baru akan kering tersangkut dahan. Kemudian menceburkan diri karena tergiur ikut menangkap ikan di kali. Dan yang paling apesnya itu sunatan dipatok ayam.... Maka ketika Lebaran tiba, teman-temannya sudah gesit bergerak kesana kemari, kawan ini melepoh duduk terdiam sebab sunat masih basah, belum sembuh.

Kalau anak saya lain lagi kisahnya. Sebagai murid SD sudah diwajibkan oleh gurunya agar selalu mengisi daftar hadir sholat tarawih berjamaah di masjid. Membuat resume ceramah tarawih disertai tanda tangan imam dan penceramah. Lalu di sekolah ada kewajiban lagi untuk ikut Pesantren Kilat. Sungguh, Ramahan anak-anak penuh dengan berbagai aktifitas. Pernah sekali terjadi salah tanda tangan. Berhubung imam sedang ada hajat sehabis ceramah, anak-anak sudah siap dengan buku untuk ditanda tangani sang penceramah. Tunggu punya tunggu, sang penceramah rupanya terus pulang. Apa akal? Anak-anak meminta tanda tangan imam. Jadi imam ada dua kali tanda tangan. Tapi buku catatan teman anakku raib entah kemana. Jadilah malam itu malam seribu stres karena takut besok dimarahi guru.

Bagaimana dengan cerita Ramadhan masa kecilku?

Mengikuti kebiasaan teman-teman sepermainan, kata mereka kalau memasuki bulan puasa harus mandi dan keramas dengan batang padi (merang) yang sudah dibakar. Ini hukumnya harus kalau tidak puasanya batal. Sebagai anak bawang, aku ikut saja peraturan tak tertulis tanpa dalil sahih ini. Sehari menjelang Ramadhan, saya dan teman-teman perempuan pergi ke Pasar Palmerah menuju toko yang menjual bermacam perabot yang terbuat dari bambu, seperti tampah, pengki. Ada juga perabot yang terbuat dari tanah liat, misalnya celengan ayam, celengan bulat, anglo, atau kuali dan panci dari tanah liat. Nah, di sini juga tersedia merang.

Masing-masing membeli seikat. Sampai di rumah merang itu dibakar lalu dimasukkan ke dalam sebuah baskom dan diberi air. Baskom ini saya bawa ke kamar mandi dan saatnya mandi hadas besar, kata teman saya. Benar, ternayata merang hitam tersebut ketika diaduk-aduk akan mengeluarkan busa. Saya saring lalu air hitamnya dijadikan syampo. Dan ternyata di kemudian hari, inilah Syampo Merang yang diproduksi sebagai salah satu produk pencuci rambu yang berkhasiat menghitamkan rambut yang hitam. Tapi saya menggunakannya bukan demi rambut hitam panjang saya agar bertambah kemilau hitamnya melainkan takut puasanya tidak diterima Allah.

Sehabis sholat subuh, lagi, saya dengan geng kawan sepermainan, kami melakukan jalan-jalan. dari Palmerah terus menyusuri arah Taman Ria Senayan, yang sekarang entah menjadi lokasi apa. Letaknya bersebelahan dengan Gedung TVRI dan Gedung DPR RI. Setibanya di rumah, lanjut mencuci piring bekas sahur sekeluarga. Anehn juga ya, dalam kondisi mulai berpuasa justru energi dikuras dengan jalan pagi berkilo-kilo meter. Dasar anak-anak, tetap kuat berpuasa tanpa kehausan.

Pulang sholat tarawih, saya berjualan kembang api dan petasan. Entah bagaimana asal muasalnya, saya kok ingin berjualan benda ini. Padahal saya takut dengan suara petasan. Makanya petasan yang saya jual cuma petasan jenis cabe rawit. Petasan yang suaranya cuma berisik tanpa gelegar. Nanti keuntungannya menjadi 'modal' untuk bikin baju Lebaran sendiri.

Sama seperti anak-anak lain hingga zaman sekarang, waktu sholat tarawih mesti kelakuan anak-anak mengganggu kekhusuan orang dewasa. Saya sih bukan termasuk anak nakal, tetapi tiak tahan juga kalau tidak tersenyum dalam keadaan sholat menyaksikan ulah teman-teman laki-laki yang main dorong-dorongan, menjawab 'amin' lebih dulu atau belakangan daripada imam dan jamaah. Yang penting aminnya beda. Atau ada juga anak yang bandel, buang angin dilepaskan keras-keras, sehingga mengganggu jamaah pada umumnya. Siapa yang paling marah selesai sholat? Pasti jamaah ibu-ibu.

Ketika awal naik ke kelas enam SD, saya ikut kursus menjahit gratis di Kantor Kelurahan Palmerah. Waktu itu lokasinya tidak jauh dari Hotel Mulia, Senayan, sekarang. Beruntung mendapat pengajaran sampai praktek yang dimulai dengan membuat pola dasar baju. sayang kursus terhenti karena suam pengajar meninggal dunia. Namun alhamdulillah, sampai saat usia sudah di atas setengah abad ini, ketrampilan menjahit yang dijarkan guru tersebut masih saya pakai dan bermanfaat. Semoga Allah Swt membalas kebaikan guru tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun