Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Orang-orang Hebat di Sekitar Kita (Tulisan ke Seratus)

22 Februari 2010   02:19 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:48 217 0 0

[caption id="" align="alignleft" width="184" caption="Pak Tadjuni (Foto oleh Penulis) "][/caption]

Kalau catatan saya benar, tulisan ini adalah tulisan saya yang ke seratus setelah bergabung di Kompasiana 20 November 2009 yang lalu. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi dengan teman-teman Kompasianer tentang orang-orang hebat di sekitar kita. Orang-orang yang kadang-kadang kita lupakan, tapi mereka dengan tekun mengabdi kepada pekerjaannya, tanpa mengeluh dan tanpa banyak protes. Asal mereka diupah dengan wajar - yang tidak seberapa, senyumnya akan mengembang. Diantaranya adalah Pak Tadjuni dan Pak Lubis.

Pak Tadjuni adalah tukang kebun langganan kami. Meskipun umurnya sudah mendekati tujuh puluh tahun, badannya masih sehat dan kuat. Dia biasa bekerja seharian memotong rumput di halaman rumah di kompleks perumahan kami, membersihkan ranting-rating pohon dan merapikan tanaman yang ada di halaman rumah kami yang tidak begitu luas.

Entah sudah berapa lama Pak Tadjuni bekerja sebagai tukang kebun, dia sudah bekerja sewaktu kedua anakku masih kecil, dan sekarang kedua anakku sudah punya anak, artinya saya sudah punya cucu. Dengan telaten dia memotong rumput, menyiangi tanaman dan membersihkan kebun kecil kami. Dia selalu datang secara rutin meskipun rumput di halaman rumah kami masih pendek. Tapi isteriku tidak tega menolaknya untuk tidak bekerja memotong rumput.

Pak Tadjuni punya isteri dan empat anak, tiga dari empat anaknya sudah bekerja dan berumah tangga, meskipun anak-anaknya tidak ada yang bersekolah tinggi. Pak Tadjuni hanya mengandalkan upah memotong rumput untuk menghidupi keluarganya, tapi senyum selalu menghiasi bibirnya. Keluarganya tinggal di Bogor tapi dia tinggal di salah satu rumah tetangga kami dan baru pulang ke Bogor seminggu sekali. Meskipun rumput di halaman semakin berkurang, jasa Pak Tadjuni tetap kami perlukan, apakah untuk memangkas pohon atau sekedar membersihkan halaman.

Lain dengan Pak Tadjuni, Pak Lubis adalah penjaga kompleks perumahan kami. Kami semua memanggilnya Pak Lubis meskipun dia bukan orang Batak, dia sebenarnya orang Jawa. Lubis adalah singkatan dari luar biasa. Kenapa luar biasa? Inilah kisahnya.

Dia sudah menjadi penjaga kompleks perumahan jauh sebelum saya menetap di perumahan ini tahun 1991. Saya tidak tahu siapa namanya yang sebenarnya dan darimana dia berasal. Yang saya tahu, dia tinggal di pos jaga di depan jalan masuk.

Waktu berjalan, dan diapun berkeluarga dan mempunyai anak sampai sebelas orang. Semuanya tinggal di pos jaga itu yang sudah diperluas. Untuk menambah penghasilan, diapun mendirikan warung yang ramai dikunjungi orang pada siang hari, karena tepat di depan mulut jalan masuk itu ada sebuah kantor besar. Kamipun kadang-kadang membeli makanan di warungnya.

[caption id="" align="alignright" width="300" caption="Palem dan pagar tanaman Pak Lubis (Foto oleh Penulis) "][/caption]

Tepian sepanjang jalan masuk ke kompleks perumahan kami dulunya penuh ilalang dan dan tidak terurus. Secara bertahap, Pak Lubis menanami tepian jalan dengan pohon pembatas, dan mengisi tanah kosong di dalamnya dengan pohon palem yang diselingi dengan singkong.

Dengan adanya tanaman pembatas serta pohon palem itu, maka lingkungan jalan masuk ke kompleks perumahan kami menjadi lebih asri. Anak-anaknya pun bisa hidup sehat dan bahkan bisa meneruskan sekolahnya. Dia memang pantas disebut Pak Lubis, karena memang luar biasa.

Pak Lubis dan Pak Tadjuni adalah beberapa dari sekian ribu atau mungkin sekian puluh atau ratus ribu orang yang mengadu nasib di Jakarta, hanya dengan mengandalkan kemampuannya yang terbatas untuk menghidupi keluarganya. Tapi ketekunan dan keuletannya - betapa mereka bisa bertahan di tengah ganasnya kehidupan di Jakarta, membuat saya kagum.

Banyak orang-orang hebat di sekitar kita, mereka kadang luput dari perhatian. Tapi kalau suatu saat kita memerlukan mereka, barulah kita ingat kepada mereka. Hidup mereka lebih beruntung karena mau bekerja dan tidak hanya sekedar menadahkan tangan meminta belas kasihan orang lain, yang banyak kita temukan di jalan jalan di Jakarta.

Sikap ulet dan kemauan untuk bekerja keras serta ketekunan mereka membuat saya merenung.  Dari mereka saya bisa belajar banyak tentang kehidupan. Saya terkadang masih mengeluh meskipun kehidupan saya relatif jauh lebih baik dari mereka.