Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Membaca dengan Empati

30 Januari 2010   16:45 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:10 346 0 0

[caption id="attachment_64888" align="alignleft" width="135" caption="www.wordpress.com"][/caption] Mendengarkan dengan empati, banyak yang sudah tahu, tapi membaca dengan empati, bagaimana caranya? Komunikasi verbal antara dua orang terjadi dimana satu orang berbicara dan orang lain mendengarkan. Mendengarkan dengan empati tidak hanya mendengarkan secara pasif, tapi juga ikut mendalami substansi dari yang mengajak bicara. Sewaktu saya berbicara, kadang-kadang lawan bicara saya seperti mendengarkan tapi terlihat pikirannya melayang entah kemana. Ini bukan mendengarkan secara empati. Sewaktu saya tanyakan apakah penjelasan saya bisa diterima, lawan bicara saya seolah tersadar dan tergagap, dan minta saya mengulangi penjelasan saya. Ini jelas bukan bentuk komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik terjadi apabila salah seorang berbicara dan lawan bicaranya mendengarkan dengan empati. Empati lain dengan simpati, tapi empati bisa juga mengandung simpati. Bingung? Marilah kita lihat ciri-ciri orang yang mendengarkan dengan empati. Pertama, lawan bicara kita akan mendengarkan sambil melihat mata kita, terjadi eye contact disini. Dengan eye contact, maka konsentrasi dari si pendengar menjadi penuh dan terpusat. Kedua, gerak tubuh (body language) dari si pendengar terlihat mengikuti apa yang kita bicarakan, misalnya dengan anggukan atau gelengan kepala, atau sunggingan senyum, atau gerakan tangan atau anggota tubuh yang lain, yang pada dasarnya mengiyakan atau menyatakan ketidak setujuan dengan apa yang kita jelaskan. Ketiga, mengutarakan pendapatnya terhadap apa yang kita sampaikan, baik pendapat yang bernada setuju atau tidak setuju. Dengan mendengarkan secara empati maka akan terjadi komunikasi dua arah, sehingga kesalahpahaman bisa dihindarkan. Sebaliknya, mendengarkan tanpa empati terlihat dari cara-cara lawan bicara kita yang tidak memandang kearah kita, mungkin asyik memainkan hape yang ada ditangannya, meskipun dia mengatakan, “teruslah bicara, saya dengar kok”, tapi bagaimana bisa mendengar dengan baik apabila konsentrasinya terpecah. Atau dia melihat kita tapi terlihat pikirannya melayang-layang ketempat lain, ini bisa terlihat dari gerak tubuh atau mimik yang tidak sinkron dengan substansi yang kita sampaikan. Berbicara dengan orang yang tidak mendengarkan dengan empati tentu menyebalkan. Dengan alasan itulah kita perlu mengetahui cirri-cirinya. Apabila kita berbicara dengan orang yang tidak mendengarkan secara empati, sebaiknya kita hentikan pembicaraan kita, karena akan percuma. Memang mendengarkan dengan empati itu tidak mudah. Akan tetapi kita harus bisa mempelajari dan mempraktekannya kalau kita tidak ingin diacuhkan oleh lawan bicara kita. Analogi dengan diatas, membaca dengan empati juga perlu kita pelajari dan praktekkan. Membaca dengan empati adalah membaca tulisan orang dengan maksud untuk mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan penulis, dan mencoba memahami jalan pikiran si penulis, untuk kemudian memberinya tanggapan atau komentar, baik tanggapan terhadap substansi tulisan, maupun format penulisannya. Dengan membaca tulisan secara empatis, kita juga menghargai pendapat penulis, terlepas dari apakah kita setuju atau tidak dengan apa yang ditulisnya, dan menghargai upaya serta jerih payahnya dalam membuat tulisan tersebut, sehingga artikelnya tersaji dihadapan kita. Komunikasi ini terjadi di Kompasiana, tulisan baru ditayangkan terus menerus, jam demi jam, bahkan menit demi menit, siang maupun malam hari. Apabila kita memutuskan untuk memilih dan membaca artikel yang kita buka, mestinya kitapun membacanya dengan empati, membacanya sampai selesai dan mencoba memahami pesan yang ingin disampaikannya. Dengan demikian kita menghargai penulis secara sewajarnya, meskipun tidak akan diketahui oleh penulisnya, kecuali apabila kita tertarik untuk menanggapinya. Marilah kita mulai membaca dengan empati dalam upaya menghargai karya orang lain, meskipun hanya kita, dan hati nurani kita saja yang tahu. Salam Kompasiana.