Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Dari Ara, perahu Bugis menjelajahi dunia

17 Januari 2010   01:53 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:25 1377 0 0

[caption id="attachment_55441" align="alignleft" width="129" caption="Kapal Pinisi (Beautiful Sulawesi)"][/caption]

Menyusuri pantai selatan pulau Sulawesi ke arah timur kita akan sampai ke Kelurahan Ara di Kabupaten Bulukumba. Desa kecil yang pernah saya kunjungi awal-awal tahun 1980-an itu adalah desa yang sederhana. Ara adalah salah satu dari tiga desa di kabupaten Bulukumba yang, bersama-sama dengan Desa Tana Beru dan Lemo-lemo, terkenal karena kepandaiaan masyarakatnya dalam membuat perahu. Penduduk desa Ara, pada abad ke 14 Masehi, sudah bisa membuat perahu yang menjelajahi dunia. Perahu pinisi yang dibuat masyarakat Bugis pada waktu itu sudah bisa berlajar sampai ke Madagaskar di Afrika, suatu perjalanan mengarungi samudera yang memerlukan tekad yang besar dan keberanian luar biasa. Ini membuktikan bahwa suku Bugis memiliki kemampuan membuat perahu yang mengagumkan, dan memiliki semangat bahari yang tinggi. Pada saat yang sama Vasco da Gama baru memulai penjelajahan pertamanya pada tahun 1497 dalam upaya mencari rempah-rempah, dan menemukan benua-benua baru di timur, yang sebelumnya dirintis Marco Polo.

Berbeda dengan penjelajahan suku Bugis dengan perahu pinisinya, perjalanan Vasco da Gama dan Marco Polo tercatat dengan rapi dan rinci dalam berbagai literatur. Bahkan pada tempat-tempat yang pernah disinggahi oleh penjelajah laut Eropa tersebut dibangun tugu peringatan yang masih dapat dilihat sampai sekarang. Misalnya monumen yang terletak di pantai Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan. Meskipun catatan perjalanan suku Bugis di masa lampau tidak banyak ditemukan dalam berbagai literatur, tapi mereka meninggalkan monumen hidup yang lebih permanen, yaitu keturunan suku Bugis yang tersebar di berbagai tempat di tanah air, serta tempat-tempat jauh yang pernah didatangi para pelaut ulung jaman dulu sampai ke negeri China dan Afrika Selatan. Mereka tidak hanya singgah, tapi juga tinggal lama dan menghasilkan keturunan yang masih bisa ditemukan sampai sekarang.

Menurut catatan dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo (www.portalbugis.com) perahu pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut naskah tersebut, perahu pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu. Sawerigading membuat perahu tersebut untuk berlayar menuju negeri Tiongkok, hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Singkat cerita, Sawerigading berhasil memperistri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di Tiongkok, Sawerigading rindu kepada kampung halamannya. Dengan menggunakan perahunya yang dulu, ia berlayar ke Luwu. Namun, ketika perahunya akan memasuki pantai Luwu, tiba-tiba gelombang besar menghantam perahunya hingga pecah. Pecahan-pecahan perahunya terdampar ke 3 (tiga) tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo.

[caption id="attachment_55444" align="alignleft" width="267" caption="Miniatur kapal pinisi di pusat desa Ara (foto: Michael Kasten)"][/caption]

Oleh masyarakat dari ketiga kelurahan tersebut, bagian-bagian perahu itu kemudian dirakit kembali menjadi sebuah perahu yang megah dan dinamakan perahu pinisi. Hingga saat ini, Kabupaten Bulukumba masih dikenal sebagai produsen perahu pinisi, dimana para pengrajinnya tetap mempertahankan tradisi dalam pembuatan perahu tersebut. Pada abad modern sekarang ini, prestasi yang sudah dibuat perahu pinisi adalah berhasilnya perahu tersebut berlayar ke Vancouver, Kanada pada  tahun 1986. Oleh karena kepiawaian para pengrajin tersebut, Kabupaten Bulukumba dijuluki sebagai Butta Panrita Lopi, yaitu bumi atau tanah para ahli pembuat perahu pinisi.

Penulis pernah tinggal satu setengah tahun di Makassar dan berinteraksi dengan suku Bugis. Di mata pendatang seperti saya, orang Bugis adalah orang berkarakter keras dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Bila perlu, demi mempertahankan kehormatan (siriq), mereka bersedia melakukan tindak kekerasan. Jadi tidak heran apabila ada yang mencoba menyinggung perasaan orang Bugis, maka serentak akan mendapat protes keras. Namun demikian, di balik sifat keras itu, saya merasakan bahwa orang Bugis juga adalah orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta sangat tinggi kesetiakawanannya. Tetangga saya suku Bugis bahkan menjadi teman sampai sekarang. Orang Bugis memiliki berbagai ciri khas yang sangat menarik, yang diulas secara panjang lebar dalam artikel berikut ini. Dalam sejarah kebangsaan kita, orang Bugis banyak menghasilkan manusia-manusia teladan, seperti pahlawan nasional Sultan Hasanuddin yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur, juga Baharuddin Lopa dan M.Yusuf, pendekar hukum dan jenderal yang terkenal jujur dan lurus. Dan jangan lupa, mantan Presiden Habibie dan mantan Wapres Jusuf Kalla keduanya adalah orang Bugis.

Bugis adalah salah satu suku yang melengkapi dan memperkaya khazanah budaya nusantara. Semangat bahari suku Bugis membuktikan bahwa kita bukan bangsa yang lemah dan bisa didikte bangsa lain, sejarah sudah membuktikannya. Tapi janganlah kita terpukau oleh kejayaan masa lampau. Semangat petualangan bahari suku Bugis masa lalu hendaknya tetap dipelihara dalam konteks dunia modern sekarang sebagai semangat untuk maju dalam persaingan yang ketat dengan bangsa lain. Musuh bersama kita sekarang ini adalah kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Itulah tantangan kita bersama sebagai bangsa.

Salam Kompasiana