Pemuda Harus Menjadi Generasi Pemersatu

17 Mei 2017 06:44:31 Diperbarui: 17 Mei 2017 08:44:11 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Berkali-kali isu SARA selalu dijadikan untuk memecah belah bangsa. Belakangan isu SARA muncul karena keterkaitannya dengan politik. Di DKI Jakarta jelang pilkada dan setelah pilkada pun, isu SARA masih saja terus dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu. Bahkan para elit politik pun, entah sengaja entah tidak, ujarannya cenderung memicu emosi pihak-pihak yang berseberangan. Akibatnya, masyarakat yang tidak tahu apa-apa, menjadi ikut emosi hanya karena perilaku orang lain.

Fahri Hamzah karena kerap mengeluarkan pernyataan yang tidak sopan, mendapatkan penolakan warga ketika berkunjung ke Manado. Pernyataan Fahri dinilai bisa berpotensi memecah belah persatuan. Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh pihak yang kontra dengan Ahok. Meski sudah divonis, mereka masih saja menggunakan isu SARA untuk memecah belah persatuan. Hal semacam ini semestinya tidak terjadi lagi. Stop isu SARA. Jika tidak segera diantisipasi, dikhawatirkan pilkada pada tahun 2018 dan pemilihan presiden pada 2019 akan terus diselimuti isu SARA.

Presiden nampaknya geram dengan kondisi ini. Kemarin, presiden Jokowi memanggil para tokoh lintas agama, untuk mencari solusi bersama mengatasi hal ini. “jangan saling menghujat karena kita ini adalah saudara. Jangan saling menjelekkan karena kita ini adalah saudara. Jangan saling fitnah karena kita ini adalah bersaudara. Dan jangan saling menolak karena kita ini adalah saudara,” kata presiden Jokowi di istana kemarin. Pernyataan presiden, seharusnya menjadi renungan bersama. Mungkin sebelumnya beberapa pihak berpikir, isu SARA digunakan untuk urusan kontestasi politik. Tapi dampaknya bisa kita rasakan sendiri. Setelah kontestasi politik selesai, masyarakat masih terbelah. Mau sampai kapan akan seperti ini?

Sekali lagi, saatnya introspeksi. Pikirkan bagaimana nasib Indonesia kedepan. Para pemuda, mahasiswa dan generasi penerus, diharapkan tidak terlibat dalam gesekan politik ini. Ingat, kalian adalah generasi penerus bangsa. Mari kita ingatkan generasi tua yang masih saling sikut. Tugas kita sebagai generasi muda, harus menjadi generasi yang bisa menyatukan semua pihak. Mari kita gunakan semangat kebangkitan nasional. Dimana ketika itu itu para generasi muda berkumpul, untuk berorganisasi untuk bisa merebut kemerdekaan. Boedi Oetomo menjadi cikal bakal pergerakan pemuda, sampai akhirnya berkat pemuda dan persatuan kemerdekaan bisa kita capai.

Kini, setelah 71 tahun Indonesia merdeka, kita masih berseteru dengan saudara sendiri. Kita masih saling menghujat kepada saudara sendiri. Dimana sikap tenggang rasa dan toleransi yang menjadi ciri khas kita? Dimana tradisi musyawarah yang biasa kita gunakan untuk mendapatkan solusi? Ingat, jika kita masih terus saling menghujat, saling menyalahkan dengan membawa sentimen SARA, hal ini bisa dimanfaatkan kelompok intoleran dan radikal. Tidak hanya membuat kondisi konflik, tapi juga bisa menjadi alasan untuk mengganti Pancasila dengan khilafah. Konflik yang sengaja diciptakan, seakan menjadi bukti bahwa Pancasila sudah tidak relevan.

Jika kita para generasi muda tidak membekali diri dengan ilmu pengetahuan, tentu akan mudah terpengaruh. Karena itulah, bekalilah diri kalian semua dengan kecerdasan, kekuatan iman, persatuan dan tetap mengedepankan kearifan lokal. Karena semuanya itu menjadi dasar bagi kita dalam hidup bersosial dan berbangsa. Dan salah satu tugas untuk mewujudkan itu semua ada pada generasi muda. Generasi penerus tidak boleh pasif. Mari kita aktif menyebarkan pesan damai, agar kehidupan kita bisa lebih baik tanpa ada kekerasan dan ujaran kebencian.


KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL muda

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana