PILIHAN

Rusaknya Teluk Balikpapan Tanggung Jawab Siapa?

19 Maret 2017 23:47:59 Diperbarui: 20 Maret 2017 01:20:23 Dibaca : 144 Komentar : 2 Nilai : 6 Durasi Baca :
Rusaknya Teluk Balikpapan Tanggung Jawab Siapa?
Lumba-lumba air tawar (pesut) yang hidup di perairan Teluk Balikpapan. Sumber : Whale and Dolphin Concervation Society.

Banyak yang belum mengetahui bahwa pesisir Kota Balikpapan menyimpan potensi biodiversity yang sangat unik dan belum tentu terdapat di daerah lain khususnya di kawasan Teluk Balikpapan. Di teluk yang terletak pada 2 (dua) wilayah administratif pemerintahan, yaitu Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara itu hidup berbagai satwa unik dan langka yang diantaranya adalah Dugong yang merupakan mamalia laut paling langka di Indonesia dan lumba-lumba air tawar (pesut) yang keberadaannya masih menjadi misteri karena selama ini pesut dianggap sebagai satwa ekosistem air tawar.

Selain satwa, terdapat ekosistem unik yang menyusun perairan Teluk Balikpapan yaitu ekosistem terumbu karang. Ekosistem terumbu karang dapat ditemukan mulai dari hilir teluk yaitu di dekat Tanjung Jumelai hingga 19 km ke hulu yaitu sampai di sekitar Pulau Balang dan Muara Sungai Tempadung. Stanislav Lhota, seorang ilmuan dari Departemen Zoologi, Universitas South Bohemia Republik Chechnya yang melakukan penelitian di Teluk Balikpapan mengatakan bahwa belum diketahui faktor ekologis apa yang membuat terumbu karang tersebut dapat bertahan hidup jauh dari laut terbuka.

Terumbu karang yang terdapat di Teluk Balikpapan. Sumber : www.mongabay.co.id
Terumbu karang yang terdapat di Teluk Balikpapan. Sumber : www.mongabay.co.id

Disisi lain, banyak pembangunan yang terjadi di kawasan pesisir Teluk Balikpapan diantaranya pembangunan Jembatan Pulau Balang yang menjadi jalur trans Kalimantan  dan pembangunan Kawasan Industri Kariangau (KIK) yang keduanya merubah kawasan hutan mangrove di pesisir Teluk Balikpapan menjadi kawasan terbangun. Hal ini tentu akan sangat mengancam ekosistem yang ada di Teluk Balikpapan karena munurut Stanislav Lhota pembukaan lahan di daerah aliran sungai (DAS) dapat menghasilkan sampai tujuh ton sedimentasi per hektar per tahun. Yang lebih mengkhawatirkan, pesisir bagian timur Teluk Balikpapan tidak memiliki dataran selain kawasan hutan mangrove di sepanjang pantai. Hal itu menjadikan cara terbaik membangun kawasan industri yaitu dengan reklamasi pantai. Hal tersebut dapat menciptakan erosi dan sedimentasi lebih tinggi.

Foto udara dari Teluk Balikpapan. Sumber : Forum Peduli Teluk Balikpapan.
Foto udara dari Teluk Balikpapan. Sumber : Forum Peduli Teluk Balikpapan.

Selain itu, menurut Muchamad Solechan yang merupakan Koordinator Wilayah Balikpapan, Forum Peduli Teluk Balikpapan, perairan Teluk Balikpapan merupakan sistem perairan yang relatif tertutup karena tidak ada sungai besar yang bermuara ke Teluk Balikpapan sehingga pergerakan air dari hulu ke hilir akan kembali lagi ketika terjadi pasang air laut. Hal itu menyebabkanaliran air tidak keluar ke perairan Selat Makassar dan menyebabkan sedimentasi akan mengendap di perairan Teluk Balikpapan, termasuk limbah industri. Jika hal itu terus terjadi maka akan menyebabkan kehancuran ekosistem yang ada di perairan Teluk Balikpapan, salah satunya ekosistem terumbu karang.

Bukti nyata kerusakan Teluk Balikpapan sudah terlihat setelah adanya pembangunan perusahaan CPO (Crude Palm Oil) yaitu PT Mekar Bumi Andalas dan PT Dermaga Kencana Indonesia. Bahkan PT DKI membangun dermaga dan tanki minyak sawit dengan jarak hanya sekitar 50 meter dari lokasi terumbu karang yang biasa disebut oleh nelayan dengan nama Batu Kapal. Pembukaan lahan dan reklamasi pantai pada proses pembangunan akan menimbulkan sedimentasi yang langsung terbawa ke perairan. Stanislav Lhota juga mengatakan bahwa, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, pembangunan tersebut telah hampir merusak keseluruhan terumbu karang yang ada.

Kondisi terumbu karang di Teluk Balikpapan sebelum dan sesudah pembangunan PT Dermaga Kencana Indonesia. Sumber : Forum Peduli Teluk Balikpapan.
Kondisi terumbu karang di Teluk Balikpapan sebelum dan sesudah pembangunan PT Dermaga Kencana Indonesia. Sumber : Forum Peduli Teluk Balikpapan.

Melihat hal itu, seharusnya pemerintah khususnya Pemerintah Kota Balikpapan segera menindak tegas atas pengrusakan lingkungan tersebut agar tidak terus meluas salah satunya dengan menghentikan pembangunan perusahaan tersebut. Pembangunan dari dua perusahaan saja sudah membuat kerusakan sangat parah bagi ekosistem Teluk Balikpapan, lalu bagaimana jika Jembatan Pulau Balang dan keseluruhan Kawasan Industri Kariangau telah terbangun? Mungkin tidak hanya akan merusak hutan mangrove dan terumbu karang tetapi akan merusak seluruh ekosistem di Teluk Balikpapan dan tentunya juga akan mengancam kehidupan berbagai satwa langka seperti dugong dan lumba-lumba air tawar (pesut).

Rizky Sunandar Ahmad

/ririzkynandar

Department of Urban and Regional Planning, Kalimantan Institute of Technology
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana